BAB III
PEMBAHASAN
A.
Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan suatu
kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin, yang tergantung dari
macam – macam factor, baik factor intern maupun factor ekstern.
G. R Terry dalam bukunya yang
berjudul “PRINCIPLES OF MANAGEMENT” mengemukakan definisi berikut tentang
kepemimpinan .
“… Leadership is the relationship in which one
person, or the leader, influences other to work together willingly on related
tasks to attain that which the leader desires.”
Dari defnisi tersebut dapat kita
menyimpulkan bahwa:
·
Aktifitas memimpin pada
hakikatnya meliputi suatu hubungan
·
Adnya satu orang yang
mempengaruhi orang lain agar mereka mau bekerja kearah pencapaian sasaran
tertentu.
Pendapat kedua,
mengatakan bahwa kepemimpinan itu sebagai suatu seni. Untuk itu John Pfiffner
memberikan definisi sebagai berikut:
“leadership is
the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve the
desired end”. [1]
(kepemimpinan
adalah seni untuk mengkoordinasi dan memberikan dorongan terhadap individu atau
kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan)
Pendapat
ketiga menyatakan bahwa, kepemimpinan itu sebagai suatu proses, untuk itu
Dalton Mc. Farland memberikan definisi sebagai berikut :
“leadership as
the process by which and executive imaginatively direct, guides, or influences
the work of others, in choosing and attaining particular ends”. [2]
(kepemimpinan
sebagai suatu proses di mana pimpinan digambarkan akan memberikan perintah atau
pengarahan, bimbingan, atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan).
. Peranan Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah sikap dan perilaku untuk
memengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga membentuk
jalinan kerja yang harmonis agar tercapai efisiensi dan efektivitas guna
mencapai tingkat produktivitas sesuai dengan yang telah di tetapkan.
Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen. Oleh karena
itu dikatakan bahwa kepemimpinan adalah inti dari pada manajemen. Brown
mengatakan bahwa kepemimpinan hanya mempunyai arti apabila kita menempatkan
(mengkhususkan) artian itu untuk maksud dan dalam situasi apakah yang dapat
diharapkan dari kepemimpinan itu. Artinya dalam suatu situasi dan dalam suatu
masyarakat apakah yang dapat diharapkan dari pemimpin itu (The world make sense
only when we specify to what end and in what circumtances the leader will be
expected to act).
2.2.
Fungsi
dan Kecakapan Kepemimpinan
Menurut
Prof. Katz kecakapan yang pokok pada kepemimpinan administratif dapat dibedakan
ke dalam 3 bagian, yaitu:
1. Kecakapan
Konsepsional (Conceptual Skill)
Kecakapan
konsepsional ialah kemampuan mengetahui kebijaksaan organisasi secara
keseluruhan. Sekalipun adanya fungsi yang berdiri sendiri tetapi kenyataan
bahwa perubahan pada setiap bagian akan memengaruhi terhadap keseluruhannya.
Hal ini dapat digambarkan bahwa hubungan itu menyangkut program-program di
bidang politik, sosial (masyarakat), ekonomi (industri) seluruh bangsa.
Kecakapan konsepsional ini akan bertambah penting terutama pada pimpinan
tingkat atas (top management level).
2. Kecakapan
Kemanusiaan (Human Skill)
Kecakapan
kemanusiaan ini ialah kemampuan untuk bekerja di dalam kelompok atau dengan
kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk membangun suatu usaha koordinasi di dalam
suatu tim, dimana ia bertindak sebagai pemimpin.
3. Kecakapan
Teknis (Technical Skill)
Kecakapan
teknis ini penting bagi pimpinan tingkat menengah (middle management level) dan
pimpinan tingkat bawah (lower management level) dimana hubungan antara pemimpin
dan bawahan sangat dekat.
Dalam
kecakapan ini termasuk kegiatan-kegiatan menggunakan metode, proses, prosedur,
dan teknik, yang pada umumnya berhubungan dengan alat-alat bukan orang. Sesuai
dengan pendapat-pendapat tersebut maka fungsi dan kecakapan kepemimpinan dapat
diuraikan antara lain sebagai berikut:
a. Mengetahui
bidang tugasnya
Sesuai
dengan tingkatannya, pemimpin harus mengetahui bidang tugasnya masing-masing.
Misalnya, pimpinan tingkat atas harus mengetahui kebijaksanaan yang telah
digariskan dalam pencapaian tujuan organisasi (conceptual skill). Sedangkan
pimpinan tingkat bawah yang diperlukan ialah teknik pelaksanaan pekerjaan
(technical skill).
b. Peka
atau tanggap terhadap keadaan lingkungannya
Pemimpin harus peka dan
tanggap terhadap situasi, kondisi setempat. Misalnya: keadaan pegawainya,
peralatan kerja, adat istiadat, dan kebijaksanaan masyarakat, serta
masalah-masalah yang dihadapinya.
c. Melakukan
hubungan antar manusia yang baik
Sebagaimana
diketahui bahwa unsur manusia adalah yang menentukan berhasilnya pencapaian
tujuan organisasi. Oleh karena itu, perlu di bina hubungan antarmanusia yang
sebaik-baiknya, sehingga merupakan suatu tim yang dapat bekerja sama dengan
penuh kesadaran di antara mereka, tanpa suatu paksaan apapun.
d. Mampu
mengadakan hubungan kerja (komunikasi) dengan baik ke dalam maupun keluar
Oleh
karena setiap pekerjaan tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri tanpa kerjasama
dengan orang-orang atau unit-unit yang lain, maka diperlukan hubungan kerja,
baik di dalam organisasinya maupun di luar organisasinya. Hal ini diperlukan
kemampuan pimpinan untuk mengadakan pendekatan baik yang bersifat
interdisipliner, multifungsi maupun yang bersifat lintas sektoral.
e. Mampu
melakukan koordinasi
Di dalam
suatu organisasi yang kompleks, dimana banyak terdapat pengkhususan dari
berbagai kegiatan pekerjaan, maka diperlukan pimpinan untuk mengkoordinasi
berbagai kegiatan itu agar tercapai adanya kesatuan usaha/ tindak dalam
mencapai tujuan organisasi.
f. Mampu
mengambil keputusan yang cepat dan tepat
Secara
macam masalah yang dihadapi oleh organisasi perlu diselesaikan secara cepat dan
tepat. Bila tidak ada keputusan berarti akan menghambat pelaksanaan pekerjaan
organisasi itu. Oleh karena itu, diperlukan pimpinan yang mengambil keputusan
yang cepat dan tepat, agar tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan organisasi.
g. Mampu
mengadakan hubungan masyarakat (pulic relation)
Pemimpin
harus mampu memberikan informasi dan meyakinkan masyarakat di luar
organisasinya. Informasi ini perlu diberikan kepada para langganan (client)
atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Hal ini dimaksudkan agar tugas
pekerjaannya mendapat bantuan atau dukung dari masyarakat tersebut.
v Syarat-syarat
Pemimpin dan Kepemimpinan.
1. Syarat-syarat
minimal yang harus dimiliki pada seorang pemimpin adalah:
a. Watak
yang baik (karakter, budi pekerti, dan moral).
b. Intelegensia
yang tinggi.
c. Kesiapan
lahir dan batin.
d. Sadar
akan tanggung jawab.
e. Membimbing
dirinya dengan asas-asas dan prinsip-prinsip kepemimpinan.
f. Mengenal
anak buahnya.
g. Melaksanakan
kegiatan-kegiatan dan perintah-perintah dengan penuh tanggung jawab.
h. Paham
akan cara bagaimana seharusnya mengukur dan menilai kepemimpinannya.
i.
Memiliki sifat-sifat
kepemimpinan yang menonjol.
v Sifat-sifat
kepemimpinan meliputi antara lain:
1. Jujur
2. Berpengetahuan.
3. Berani
4. Mampu
mengambil keputusan.
5. Dapat
dipercaya.
6. Berinisiatif.
7. Bijaksana.
8. Tegas.
9. Adil.
10. Menjadi
tauladan.
11. Tahan
uji (ulet)
12. Loyalitas
13. Tidak
mementingkan diri sendiri.
14. Antusias.
15. Simpatik.
16. Rendah
hati.
v Asas-asas
kepemimpinan
1. Takwa
ialah beriman kepada tuhan yang maha esa.
2. Ing
ngarsa sung tulada, ialah memberi suri tauladan dihadapan anak buah.
3. Ing
madya mangun karsa, ialah ikut bergiat serta menggugah semangat ditengah-tengah
anak buah.
4. Tut
wuri handayani, ialah mempengaruhi dan memberikan dorongan dari belakang kepada
anak buah.
5. Waspada
purba wasesa, ialah selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani memberi
koreksi kepada anak buah.
6. Ambeg
parama arta, ialah dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
7. Prasaja,
ialah tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan.
8. Satya,
adalah sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan, bawahan
terhadap atasan dan kesamping.
9. Gemi
nastiti ialah kesdaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran
segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan.
10. Belaka
ialah kemauan, kerelaan, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan.
11. Legawa
ialah kemauan,kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung
jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
v Prinsip-prinsip
kepemimpinan
1. Mahir
dalam soal-soal teknis dan taktis.
2. Ketahui
diri sendiri, cari dan usahakan selalu perbaikan-perbaikan.
3. Yakinkan
diri, bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalankan.
4. Ketahui
anggota-anggota bawahan dan juga serta pelihara kesejahteraan mereka.
5. Usahakan
dan pelihara selalu, agar anggota mendapatkan keterangan-keterangan yang
diperlukan.
6. Berilah
tauladan dan contoh yang baik.
7. Tumbuhkan
rasa tanggung jawab dikalangan para anggota.
8. Latih
anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak.
9. Buat
keputusan-keputusan yang sehat dan pada waktunya.
10. Berilah
tugas dan pekerjaan pimpinan (komando) sesuai dengan kemampuannya.
11. Bertanggung
jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.
v Tipe-tipe
pemimpin.
1. Tipe
pemimpin yang otokratis,
2. Tipe
pemimpin yang militeristis,
3. Tipe
pemimpin yang paternalistis,
4. Tipe
pemimpin yang kharismatis, dan
5. Tipe
pemimpin yang demokratis.
Teknik
kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial pemimpin
dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan pada praktek kehidupan serta
organisasi; melingkupi konsep-konsep pemikiran, perilaku sehari-hari dan semua
peralatan yang dipakainya. Kategori yang dimasukkan dalam teknik kepemimpinan,
antara lain :
a.
Ethika profesi pemimpin
Pembahasan mengenai kewajiban-kewajiban
pemimpin, tingkah laku pemimpin yang baik, dan dapat dibedakan dari tingkah
laku yang buruk, serta moral pemimpin.
b.
Kebutuhan dan motivasi
Untuk mempertahankan hidupnya, maka
kebutuhan tertentu dari manusia harus dipenuhi. Kebutuhan ini dibagi menjadi
tiga kategori, yakni : kebutuhan tingkat vital biologis (sandang, pangan,
papan, air, udara, dll); kebutuhan tingkat sosial-budaya (status sosial,
prestise, empati, cinta kasih, pengakuan diri, dll) serta kebutuhan tingkat
religius (kebutuhan merasakan terjamin, aman sentausa serta bahagia di dunia
dan di akherat dan kebutuhan untuk bersatu manunggal dengan Tuhan Yang Maha
Esa. Sementara motivasi merupakan gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah
laku menuju pada satu sasaran tertentu; atau alasan dasar, pikiran dasar,
dorongan bagi seseorang untuk berbuat; atau ide pokok yang sementara
berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia, biasanya merupakan satu
peristiwa masa lampau, ingatan, gambaran fantasi dan perasaan-perasaan
tertentu.
c.
Dinamika kelompok
Tiga aktivitas kelompok, yaitu : aktivitas
murni teknis (aktivitas melakukan fungsi teknis tertentu), aktivitas
sosio-teknis (aktivitas teknis yang dikombinasikan dengan aktivitas-aktivitas
sosial dan interaksi sosial) dan aktivitas murni sosial (aktivitas yang
berlangsung atas dasar kepentingan pribadi yang tidak mungkin bisa dilepaskan
dengan pribadi lain).
d.
Komunikasi
Kapasitas individu atau kelompok untuk
menyampaikan perasaan, fikiran dan kehendak kepada individu dan kelompok lain
(Kartono: 1983,61-86).
e.
Kemampuan pengambilan
keputusan
Untuk memecahkan bermacam-macam
permasalahan hidup yang dihadapi setiap harinya, terutama masalah yang rumit,
manusia itu selalu diharuskan melakukan pemilihan dari sekian banyak
alternatif. Untuk sampai pada satu keputusan, manusia menggunakan enam cara,
yaitu :
·
Memohon petunjuk kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa.
·
Memohon restu dan petunjuk
dari orang-orang bijaksana.
·
Mendasarkan diri pada firasat
dan intuisi sendiri.
·
Menggunakan akal sehat atau
common sense.
·
Melandaskan diri pada daya
fikir yang logis.
·
Menggunakan cara-cara
penyelesaian ilmiah (Wahjosumidjo: 1982).
f.
Ketrampilan berdiskusi dan
“games” lainnya
Kemampuan berdiskusi dengan baik merupakan
salah satu persyaratan mutlak bagi setiap unsur pimpinan. Sebab, diskusi
merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan atasan, sesama kolega dan
bawahan, untuk memecahkan masalah. Diskusi dipakai sebagai forum untuk bertukar
informasi, pendapat dan pengalaman, dalam bentuk tanya-jawab yang teratur,
dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih luas, kejelasan yang
lebih gamblang dan cermat tentang suatu permasalahan, untuk kebijaksanaan
pengambilan keputusan (Kartono: 1983,99).
2.3.
Arti
Penting Motivasi
Barelson dan Steiner mengartikan istilah motif ialah suatu pernyataan batin yang
berwujud daya kekuatan untuk bertindak atau bergerak secara langsung atau
melalui saluran perilaku yang mengarah terhadap sasaran.
Morrison
(1994) memberikan pengertian motivasi sebagai
kecendrungan seseorang melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah sasaran.
Jika perilaku tersebut mengarah pada suatu obyek (sasaranya) maka dengan
motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau sasaran yang
sebesar-besarnya sehingga pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan
sebaik-baiknya, sehingga efektivitas kerja dapat dicapai.
Menurut Gibson (1997),
motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seorang karyawan yang menimbulkan
dan mengarahkan perilaku.
Vroom
(1964) dalam Luthan (2005) mengatakan
kekuatan motivasi adalah valensi dan harapan. Teori pengharapan berargumentasi
bahwa motivasi kerja ditentukan oleh keyakinan individu yang berhubungan dengan
hubungan usaha-kinerja (expectancy/ pengharapan), hubungan kerja-hasil (instrumentalitas/
perantara), dan persepsi pentingnya berbagai macam hasil pekerjaan (valence/
valensi).
Motivasi sebagaimana
didefinisikan oleh Robbins (2003) merupakan kemauan untuk
menggunakan usaha tingkat tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan
oleh kemampuan usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan individu. Dalam
definisi ini ada tiga elemen penting yaitu; usaha, tujuan, dan kebutuhan.
Motivasi merupakan pengertian umum dalam bentuk dorongan ,
kehendak, kebutuhan, dan keinginan. Dengan kata lain motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah,
dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi menyangkut
reaksi berantai, yaitu dimulai dari kebutuhan yang dirasakan (the need), lalu timbul keinginan atau
sasaran yang hendak dicapai (want),
kemudian menyebabkan usaha-usaha untuk mencapai sasaran atau tujuan yang
berakhir dengan pemuasan (Satisfaction).
Reaksi berantai antara kebutuhan, keinginan dan pemuasan (need, want, satisfaction) tidak selalu berjalan sedemikian mudah
sebagaimana yang digambarkan. Kebutuhan yang diinginkan bisa disebabkan karena
perilaku, namun dapat pula kebutuhan itu sendiri yang menjadi akibat dari
perilaku.
Motivasi berbeda dengan
pemuasan. Motivasi dimaksudkan untuk
memberikan dorongan dan usaha untuk mencapai pemuasan keingian atau tujuan.
Pemuasan dimaksudkan untuk merasakan kesenangan atau kebahagiaan apabila suatu
keinginan telah dapat dipuaskan. Dengan kata lain, motivasi menyangkut dorongan
untuk mencapai hasil, sedangkan pemuasan menyangkut hasil yang telah dirasakan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu rangkaian kegiatan
pemberian dorongan, yaitu bukan hanya kepada orang lain tetapi juga kepada diri
sendiri. Sehingga melalui dorongan ini diharapkan akan dapat bertindak kearah
tujuan yang diinginkan.
Motivasi
dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Setiap
perasaan atau kehendak dan keinginan
yang sangat memengaruhi kemauan individu sehingga individu tersebut didorong
untuk berperilaku dan bertindak.
2. Pengaruh
kekuatan yang menimbulkan perilaku individu.
3. Setiap
tindakan atau kejadian yang menyebabkan berubahnya perilaku seseorang,
4. Proses
dalam yang menentukan gerakan atau perilaku individu kepada tujuan (goals)
v Kendala
dan Faktor Pendukung Motivasi
Ø Kendala-kendala
motivasi
1. Untuk
menentukan alat motivasi yang paling tepat, sulit karena keinginan setiap
individu karyawan tidak sama.
2. Kemampuan
perusahaan terbatas dalam menyediakan fasilitas dan insentif.
3. Manajer
sulit mengetahui motivasi kerja setiap individu karyawan
4. Manajer
sulit memberikan insentif yang adil dan layak.
Ø Faktor
pendukung pemberian motivasi
Walaupun
setiap individu karyawan mempunyai keinginan yang berbeda-beda, tetapi ada
kesamaan dalam kebutuhannya, yaitu setiap manusia ingin hidup dan untuk hidup
perlu makan dan manusia normal mempunyai harga diri. Jadi setiap
manusia/karyawan mengharapkan kompensasi dari prestasi yang diberikannya serta
ingin memperoleh pujian, perlakuan yang baik dari atasannya.
v Tujuan
Pemberian Motivasi
1) Mendorong
gairah dan semangat kerja karyawan;
2) Meningkatkan
moral dan kepuasan kerja karyawan;
3) Meningkatkan
produktivitas kerja karyawan;
4) Mempertahankan
loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan;
5) Meningkatkan
kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan;
6) Mengefektifkan
pengadaan karyawan;
7) Menciptakan
suasana dan hubungan kerja yang baik;
8) Meningkatkan
kreativitas dan partisipasi karyawan;
9) Meningkatkan
tingkat kesejahteraan karyawan;
10) Mempertinggi
rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya;
11) Meningkatkan
efisiensi penggunaan alat-alat dan bahsan baku;
v Alat-Alat
Motivasi
1) Materiil
insentif
2) Nonmaterial
insentif
3) Kombinasi
materiil dan nonmaterial insentif.
v Jenis-Jenis
Motivasi
1) Motivasi
positif (intensif positif), manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah
kepada mereka yang berprestasi baik.
2) Motivasi
negative (insentif negatif),manajer memotivasi bawahan-nya dengan memberikan
hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik (prestasi rendah)
v Metode-Metode
Motivasi
1) Metode
langsung (direct motivation), adalah motivasi (materiil & nonmaterial) yang
diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk memenuhi
kebutuhan dan kepuasannya.
2) Metode
tidak langsung (indirect motivation), adalah motivasi yang diberikan hanya
merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah
kerja/kelancaran tugas, sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan
pekerjaan.
v Model-Model
Motivasi
1) Model
tradisional, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan agar gairah bekerjanya
meningkat dilakukan dengan system insentif yaitu memberikan insentif materiil
kepada karyawannya yang berprestasi.
2) Model
hubungan manusia, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan supaya gairah
bekerjanya meningkat, dilakukan dengan mengikuti kebutuhan social mereka dengan
membuat mereka merasa berguna serta penting.
3) Model
sumber daya manusia, mengemukakan bahwa karyawan dimotivasi oleh banya factor,
bukan hanya uang/barang atau keinginan atas kepuasan saja, tetapi juga
kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti.
v Proses
Motivasi
1) Tujuan,
dalam proses memotivasi perlu ditetapkan terlebih dahulu tujuan organisasi,
baru kemudian para bawahan dimotivasi kearah tujuan tersebut.
2) Mengetahui
kepentingan
Dalam proses
motivasi harus dilakukan komunikasi yang baik dan efektif dengan bawahan.
3) Integrasi
tujuan
dalam proses
motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan
karyawan.
4) Fasilitas.
manajer dalam
memotivasi harus memberikan fasilitas kepada perusahaan dan individu karyawan
yang akan mendukung kelancaran pelaksanaan pekerjaan, misalnya memberikan
bantuan kendaraan kepada salesman.
5) Team
work.
Manajer harus
mampu menciptakan team work yang terkoordinasi baik yang bias mencapai tujuan
perusahaan.
B.
Hubungan
Antara Motivasi dengan Kepemimpinan Untuk Mencapai Tujuan
Proses
kepemimpinan secara singkat sering dikatakan sebagai cara untuk mencapai tujuan
melalui orang lain. Orang lain disini bisa diartikan sebagai orang-perorang,
atau sekelompok orang. Akan tetapi karena orang banyak itu terdiri dari
individu dengan kebutuhan yang bervariasi, diperlukan kiat-kiat khusus untuk
mengatur supaya kebutuhan, keinginan, dan kepentingan yang bermacam-macam
tersebut bisa terakomodasi sehingga timbul dorongan atau motivasi untuk secara
mandiri bekerja mencapai tujuan pribadi maupun kelompok.
Dalam
proses kepemimpinan, motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam
kepemimpinan, karena memimpin adalah memotivasi. Seorang pemimpin harus bekerja
bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya, untuk itu diperlukan kemampuan
memberikan motivasi kepada bawahan. Menurut Wahjosumidjo (1984), kepemimpinan
mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin
dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan
motivasi di dalam diri setiap orang bawahan, kolega maupun atasan pemimpin itu
sendiri.
Seorang
pemimpin memotivasi pengikut melalui gaya kepemimpinan tertentu yang akan
menghasilkan pencapaian tujuan kelompok dan tujuan individu. Pengikut yang
termotivasi akan berusaha mencapai tujuan secara sukarela dan selanjutnya
menghasilkan kepuasan. Kepuasan mengakibatkan kepada perilaku pencapaian tujuan
yang diulang kembali untuk mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan di masa yang
akan datang.
Motivasi
timbul karena adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kebutuhan ini menimbulkan
keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhinya. Di sisni kebutuhan dapat
dilihat sebagai kekurangan (defisiensi)
yang dialami individu pada waktu tertentu. Kekurangan tersebut dapat bersifat
fisik (misalnya : kebutuhan akan makanan), psikologis (misalnya : kebutuhan
untuk beraktualisasi diri), atau sosiologis (misalnya : kebutuhan untuk
interaksi sosial). Kekurangan-kekurangan merupakan pemicu timbulnya keinginan
dan perilaku untuk meresponnya. Sebenarnya kalau ditelusuri lebih dalam,
motivasi bukan saja karena adanya kebutuhan, melainkan lebih karena adanya
harapan akan dapat dipenuhinya kebutuhan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar