Jumat, 01 November 2013

kepemimpinan



BAB III
PEMBAHASAN
A.    Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin, yang tergantung dari macam – macam factor, baik factor intern maupun factor ekstern.
G. R Terry dalam bukunya yang berjudul “PRINCIPLES OF MANAGEMENT” mengemukakan definisi berikut tentang kepemimpinan .
“… Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences other to work together willingly on related tasks to attain that which the leader desires.”
Dari defnisi tersebut dapat kita menyimpulkan bahwa:
·         Aktifitas memimpin pada hakikatnya meliputi suatu hubungan
·         Adnya satu orang yang mempengaruhi orang lain agar mereka mau bekerja kearah pencapaian sasaran tertentu.
Pendapat kedua, mengatakan bahwa kepemimpinan itu sebagai suatu seni. Untuk itu John Pfiffner memberikan definisi sebagai berikut:
“leadership is the art of coordinating and motivating individuals and group to achieve the desired end”. [1]
(kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasi dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan)
Pendapat ketiga menyatakan bahwa, kepemimpinan itu sebagai suatu proses, untuk itu Dalton Mc. Farland memberikan definisi sebagai berikut :
“leadership as the process by which and executive imaginatively direct, guides, or influences the work of others, in choosing and attaining particular ends”. [2]
(kepemimpinan sebagai suatu proses di mana pimpinan digambarkan akan memberikan perintah atau pengarahan, bimbingan, atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan).
.   Peranan Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah  sikap dan perilaku untuk memengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga membentuk jalinan kerja yang harmonis agar tercapai efisiensi dan efektivitas guna mencapai tingkat produktivitas sesuai dengan yang telah di tetapkan. Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepemimpinan adalah inti dari pada manajemen. Brown mengatakan bahwa kepemimpinan hanya mempunyai arti apabila kita menempatkan (mengkhususkan) artian itu untuk maksud dan dalam situasi apakah yang dapat diharapkan dari kepemimpinan itu. Artinya dalam suatu situasi dan dalam suatu masyarakat apakah yang dapat diharapkan dari pemimpin itu (The world make sense only when we specify to what end and in what circumtances the leader will be expected to act).

2.2.       Fungsi dan Kecakapan Kepemimpinan
Menurut Prof. Katz kecakapan yang pokok pada kepemimpinan administratif dapat dibedakan ke dalam 3 bagian, yaitu:
1.    Kecakapan Konsepsional (Conceptual Skill)
Kecakapan konsepsional ialah kemampuan mengetahui kebijaksaan organisasi secara keseluruhan. Sekalipun adanya fungsi yang berdiri sendiri tetapi kenyataan bahwa perubahan pada setiap bagian akan memengaruhi terhadap keseluruhannya. Hal ini dapat digambarkan bahwa hubungan itu menyangkut program-program di bidang politik, sosial (masyarakat), ekonomi (industri) seluruh bangsa. Kecakapan konsepsional ini akan bertambah penting terutama pada pimpinan tingkat atas (top management level).
2.      Kecakapan Kemanusiaan (Human Skill)
Kecakapan kemanusiaan ini ialah kemampuan untuk bekerja di dalam kelompok atau dengan kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk membangun suatu usaha koordinasi di dalam suatu tim, dimana ia bertindak sebagai pemimpin.
3.      Kecakapan Teknis (Technical Skill)
Kecakapan teknis ini penting bagi pimpinan tingkat menengah (middle management level) dan pimpinan tingkat bawah (lower management level) dimana hubungan antara pemimpin dan bawahan sangat dekat.
Dalam kecakapan ini termasuk kegiatan-kegiatan menggunakan metode, proses, prosedur, dan teknik, yang pada umumnya berhubungan dengan alat-alat bukan orang. Sesuai dengan pendapat-pendapat tersebut maka fungsi dan kecakapan kepemimpinan dapat diuraikan antara lain sebagai berikut:
a.       Mengetahui bidang tugasnya
Sesuai dengan tingkatannya, pemimpin harus mengetahui bidang tugasnya masing-masing. Misalnya, pimpinan tingkat atas harus mengetahui kebijaksanaan yang telah digariskan dalam pencapaian tujuan organisasi (conceptual skill). Sedangkan pimpinan tingkat bawah yang diperlukan ialah teknik pelaksanaan pekerjaan (technical skill).
b.      Peka atau tanggap terhadap keadaan lingkungannya
Pemimpin harus peka dan tanggap terhadap situasi, kondisi setempat. Misalnya: keadaan pegawainya, peralatan kerja, adat istiadat, dan kebijaksanaan masyarakat, serta masalah-masalah yang dihadapinya.
c.       Melakukan hubungan antar manusia yang baik
Sebagaimana diketahui bahwa unsur manusia adalah yang menentukan berhasilnya pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, perlu di bina hubungan antarmanusia yang sebaik-baiknya, sehingga merupakan suatu tim yang dapat bekerja sama dengan penuh kesadaran di antara mereka, tanpa suatu paksaan apapun.
d.      Mampu mengadakan hubungan kerja (komunikasi) dengan baik ke dalam maupun keluar
Oleh karena setiap pekerjaan tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri tanpa kerjasama dengan orang-orang atau unit-unit yang lain, maka diperlukan hubungan kerja, baik di dalam organisasinya maupun di luar organisasinya. Hal ini diperlukan kemampuan pimpinan untuk mengadakan pendekatan baik yang bersifat interdisipliner, multifungsi maupun yang bersifat lintas sektoral.
e.       Mampu melakukan koordinasi
Di dalam suatu organisasi yang kompleks, dimana banyak terdapat pengkhususan dari berbagai kegiatan pekerjaan, maka diperlukan pimpinan untuk mengkoordinasi berbagai kegiatan itu agar tercapai adanya kesatuan usaha/ tindak dalam mencapai tujuan organisasi.
f.       Mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat
Secara macam masalah yang dihadapi oleh organisasi perlu diselesaikan secara cepat dan tepat. Bila tidak ada keputusan berarti akan menghambat pelaksanaan pekerjaan organisasi itu. Oleh karena itu, diperlukan pimpinan yang mengambil keputusan yang cepat dan tepat, agar tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan organisasi.
g.      Mampu mengadakan hubungan masyarakat (pulic relation)
Pemimpin harus mampu memberikan informasi dan meyakinkan masyarakat di luar organisasinya. Informasi ini perlu diberikan kepada para langganan (client) atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Hal ini dimaksudkan agar tugas pekerjaannya mendapat bantuan atau dukung dari masyarakat tersebut.
v  Syarat-syarat Pemimpin dan Kepemimpinan.
1.      Syarat-syarat minimal yang harus dimiliki pada seorang pemimpin adalah:
a.       Watak yang baik (karakter, budi pekerti, dan moral).
b.      Intelegensia yang tinggi.
c.       Kesiapan lahir dan batin.
d.      Sadar akan tanggung jawab.
e.       Membimbing dirinya dengan asas-asas dan prinsip-prinsip kepemimpinan.
f.       Mengenal anak buahnya.
g.      Melaksanakan kegiatan-kegiatan dan perintah-perintah dengan penuh tanggung jawab.
h.      Paham akan cara bagaimana seharusnya mengukur dan menilai kepemimpinannya.
i.        Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang menonjol.

v  Sifat-sifat kepemimpinan meliputi antara lain:
1.      Jujur
2.      Berpengetahuan.
3.      Berani
4.      Mampu mengambil keputusan.
5.      Dapat dipercaya.
6.      Berinisiatif.
7.      Bijaksana.
8.      Tegas.
9.      Adil.
10.  Menjadi tauladan.
11.  Tahan uji (ulet)
12.  Loyalitas
13.  Tidak mementingkan diri sendiri.
14.  Antusias.
15.  Simpatik.
16.  Rendah hati.

v  Asas-asas kepemimpinan
1.      Takwa ialah beriman kepada tuhan yang maha esa.
2.      Ing ngarsa sung tulada, ialah memberi suri tauladan dihadapan anak buah.
3.      Ing madya mangun karsa, ialah ikut bergiat serta menggugah semangat ditengah-tengah anak buah.
4.      Tut wuri handayani, ialah mempengaruhi dan memberikan dorongan dari belakang kepada anak buah.
5.      Waspada purba wasesa, ialah selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani memberi koreksi kepada anak buah.
6.      Ambeg parama arta, ialah dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
7.      Prasaja, ialah tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan.
8.      Satya, adalah sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan, bawahan terhadap atasan dan kesamping.
9.      Gemi nastiti ialah kesdaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan.
10.  Belaka ialah kemauan, kerelaan, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan.
11.  Legawa ialah kemauan,kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.

v  Prinsip-prinsip kepemimpinan
1.      Mahir dalam soal-soal teknis dan taktis.
2.      Ketahui diri sendiri, cari dan usahakan selalu perbaikan-perbaikan.
3.      Yakinkan diri, bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalankan.
4.      Ketahui anggota-anggota bawahan dan juga serta pelihara kesejahteraan mereka.
5.      Usahakan dan pelihara selalu, agar anggota mendapatkan keterangan-keterangan yang diperlukan.
6.      Berilah tauladan dan contoh yang baik.
7.      Tumbuhkan rasa tanggung jawab dikalangan para anggota.
8.      Latih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak.
9.      Buat keputusan-keputusan yang sehat dan pada waktunya.
10.  Berilah tugas dan pekerjaan pimpinan (komando) sesuai dengan kemampuannya.
11.  Bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.

v  Tipe-tipe pemimpin.
1.      Tipe pemimpin yang otokratis,
2.      Tipe pemimpin yang militeristis,
3.      Tipe pemimpin yang paternalistis,
4.      Tipe pemimpin yang kharismatis, dan
5.      Tipe pemimpin yang demokratis.
Teknik kepemimpinan adalah kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan pada praktek kehidupan serta organisasi; melingkupi konsep-konsep pemikiran, perilaku sehari-hari dan semua peralatan yang dipakainya. Kategori yang dimasukkan dalam teknik kepemimpinan, antara lain :
a.    Ethika profesi pemimpin
     Pembahasan mengenai kewajiban-kewajiban pemimpin, tingkah laku pemimpin yang baik, dan dapat dibedakan dari tingkah laku yang buruk, serta moral pemimpin.
b.    Kebutuhan dan motivasi
     Untuk mempertahankan hidupnya, maka kebutuhan tertentu dari manusia harus dipenuhi. Kebutuhan ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni : kebutuhan tingkat vital biologis (sandang, pangan, papan, air, udara, dll); kebutuhan tingkat sosial-budaya (status sosial, prestise, empati, cinta kasih, pengakuan diri, dll) serta kebutuhan tingkat religius (kebutuhan merasakan terjamin, aman sentausa serta bahagia di dunia dan di akherat dan kebutuhan untuk bersatu manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sementara motivasi merupakan gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku menuju pada satu sasaran tertentu; atau alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat; atau ide pokok yang sementara berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia, biasanya merupakan satu peristiwa masa lampau, ingatan, gambaran fantasi dan perasaan-perasaan tertentu.
c.    Dinamika kelompok
     Tiga aktivitas kelompok, yaitu : aktivitas murni teknis (aktivitas melakukan fungsi teknis tertentu), aktivitas sosio-teknis (aktivitas teknis yang dikombinasikan dengan aktivitas-aktivitas sosial dan interaksi sosial) dan aktivitas murni sosial (aktivitas yang berlangsung atas dasar kepentingan pribadi yang tidak mungkin bisa dilepaskan dengan pribadi lain).
d.   Komunikasi
     Kapasitas individu atau kelompok untuk menyampaikan perasaan, fikiran dan kehendak kepada individu dan kelompok lain (Kartono: 1983,61-86).
e.    Kemampuan pengambilan keputusan
     Untuk memecahkan bermacam-macam permasalahan hidup yang dihadapi setiap harinya, terutama masalah yang rumit, manusia itu selalu diharuskan melakukan pemilihan dari sekian banyak alternatif. Untuk sampai pada satu keputusan, manusia menggunakan enam cara, yaitu :
·      Memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
·      Memohon restu dan petunjuk dari orang-orang bijaksana.
·      Mendasarkan diri pada firasat dan intuisi sendiri.
·      Menggunakan akal sehat atau common sense.
·      Melandaskan diri pada daya fikir yang logis.
·      Menggunakan cara-cara penyelesaian ilmiah (Wahjosumidjo: 1982).
f.     Ketrampilan berdiskusi dan “games” lainnya
     Kemampuan berdiskusi dengan baik merupakan salah satu persyaratan mutlak bagi setiap unsur pimpinan. Sebab, diskusi merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan atasan, sesama kolega dan bawahan, untuk memecahkan masalah. Diskusi dipakai sebagai forum untuk bertukar informasi, pendapat dan pengalaman, dalam bentuk tanya-jawab yang teratur, dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian yang lebih luas, kejelasan yang lebih gamblang dan cermat tentang suatu permasalahan, untuk kebijaksanaan pengambilan keputusan (Kartono: 1983,99).
2.3.       Arti Penting Motivasi
Barelson dan Steiner mengartikan istilah motif ialah suatu pernyataan batin yang berwujud daya kekuatan untuk bertindak atau bergerak secara langsung atau melalui saluran perilaku yang mengarah terhadap sasaran.
Morrison (1994) memberikan pengertian motivasi sebagai kecendrungan seseorang melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah sasaran. Jika perilaku tersebut mengarah pada suatu obyek (sasaranya) maka dengan motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau sasaran yang sebesar-besarnya sehingga pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga efektivitas kerja dapat dicapai.
Menurut Gibson (1997), motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku.
Vroom (1964) dalam Luthan (2005) mengatakan kekuatan motivasi adalah valensi dan harapan. Teori pengharapan berargumentasi bahwa motivasi kerja ditentukan oleh keyakinan individu yang berhubungan dengan hubungan usaha-kinerja (expectancy/ pengharapan), hubungan kerja-hasil (instrumentalitas/ perantara), dan persepsi pentingnya berbagai macam hasil pekerjaan (valence/ valensi).
Motivasi sebagaimana didefinisikan oleh Robbins (2003) merupakan kemauan untuk menggunakan usaha tingkat tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan individu. Dalam definisi ini ada tiga elemen penting yaitu; usaha, tujuan, dan kebutuhan.
Motivasi merupakan  pengertian umum dalam bentuk dorongan , kehendak, kebutuhan, dan keinginan. Dengan kata lain motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi menyangkut reaksi berantai, yaitu dimulai dari kebutuhan yang dirasakan (the need), lalu timbul keinginan atau sasaran yang hendak dicapai (want), kemudian menyebabkan usaha-usaha untuk mencapai sasaran atau tujuan yang berakhir dengan pemuasan (Satisfaction). Reaksi berantai antara kebutuhan, keinginan dan pemuasan (need, want, satisfaction) tidak selalu berjalan sedemikian mudah sebagaimana yang digambarkan. Kebutuhan yang diinginkan bisa disebabkan karena perilaku, namun dapat pula kebutuhan itu sendiri yang menjadi akibat dari perilaku.
Motivasi berbeda dengan pemuasan.  Motivasi dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan usaha untuk mencapai pemuasan keingian atau tujuan. Pemuasan dimaksudkan untuk merasakan kesenangan atau kebahagiaan apabila suatu keinginan telah dapat dipuaskan. Dengan kata lain, motivasi menyangkut dorongan untuk mencapai hasil, sedangkan pemuasan menyangkut hasil yang telah dirasakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu rangkaian kegiatan pemberian dorongan, yaitu bukan hanya kepada orang lain tetapi juga kepada diri sendiri. Sehingga melalui dorongan ini diharapkan akan dapat bertindak kearah tujuan yang diinginkan.

Motivasi dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Setiap perasaan atau kehendak dan  keinginan yang sangat memengaruhi kemauan individu sehingga individu tersebut didorong untuk berperilaku dan bertindak.
2.    Pengaruh kekuatan yang menimbulkan perilaku individu.
3.    Setiap tindakan atau kejadian yang menyebabkan berubahnya perilaku seseorang,
4.    Proses dalam yang menentukan gerakan atau perilaku individu kepada tujuan (goals)
v  Kendala dan Faktor Pendukung Motivasi
Ø  Kendala-kendala motivasi
1.      Untuk menentukan alat motivasi yang paling tepat, sulit karena keinginan setiap individu karyawan tidak sama.
2.      Kemampuan perusahaan terbatas dalam menyediakan fasilitas dan insentif.
3.      Manajer sulit mengetahui motivasi kerja setiap individu karyawan
4.      Manajer sulit memberikan insentif yang adil dan layak.
Ø  Faktor pendukung pemberian motivasi
Walaupun setiap individu karyawan mempunyai keinginan yang berbeda-beda, tetapi ada kesamaan dalam kebutuhannya, yaitu setiap manusia ingin hidup dan untuk hidup perlu makan dan manusia normal mempunyai harga diri. Jadi setiap manusia/karyawan mengharapkan kompensasi dari prestasi yang diberikannya serta ingin memperoleh pujian, perlakuan yang baik dari atasannya.

v  Tujuan Pemberian Motivasi
1)      Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan;
2)      Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan;
3)      Meningkatkan produktivitas kerja karyawan;
4)      Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan;
5)      Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan;
6)      Mengefektifkan pengadaan karyawan;
7)      Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik;
8)      Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan;
9)      Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan;
10)  Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya;
11)  Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahsan baku;

v  Alat-Alat Motivasi
1)      Materiil insentif
2)      Nonmaterial insentif
3)      Kombinasi materiil dan nonmaterial insentif.

v  Jenis-Jenis Motivasi
1)      Motivasi positif (intensif positif), manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik.
2)      Motivasi negative (insentif negatif),manajer memotivasi bawahan-nya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik (prestasi rendah)



v  Metode-Metode Motivasi
1)      Metode langsung (direct motivation), adalah motivasi (materiil & nonmaterial) yang diberikan secara langsung kepada setiap individu karyawan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasannya.
2)      Metode tidak langsung (indirect motivation), adalah motivasi yang diberikan hanya merupakan fasilitas-fasilitas yang mendukung serta menunjang gairah kerja/kelancaran tugas, sehingga para karyawan betah dan bersemangat melakukan pekerjaan.

v  Model-Model Motivasi
1)      Model tradisional, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan agar gairah bekerjanya meningkat dilakukan dengan system insentif yaitu memberikan insentif materiil kepada karyawannya yang berprestasi.
2)      Model hubungan manusia, mengemukakan bahwa untuk memotivasi bawahan supaya gairah bekerjanya meningkat, dilakukan dengan mengikuti kebutuhan social mereka dengan membuat mereka merasa berguna serta penting.
3)      Model sumber daya manusia, mengemukakan bahwa karyawan dimotivasi oleh banya factor, bukan hanya uang/barang atau keinginan atas kepuasan saja, tetapi juga kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti.

v  Proses Motivasi
1)      Tujuan, dalam proses memotivasi perlu ditetapkan terlebih dahulu tujuan organisasi, baru kemudian para bawahan dimotivasi kearah tujuan tersebut.
2)      Mengetahui kepentingan
Dalam proses motivasi harus dilakukan komunikasi yang baik dan efektif dengan bawahan.
3)      Integrasi tujuan
dalam proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan karyawan.
4)      Fasilitas.
manajer dalam memotivasi harus memberikan fasilitas kepada perusahaan dan individu karyawan yang akan mendukung kelancaran pelaksanaan pekerjaan, misalnya memberikan bantuan kendaraan kepada salesman.
5)      Team work.
Manajer harus mampu menciptakan team work yang terkoordinasi baik yang bias mencapai tujuan perusahaan.

B.     Hubungan Antara Motivasi dengan Kepemimpinan Untuk Mencapai Tujuan
Proses kepemimpinan secara singkat sering dikatakan sebagai cara untuk mencapai tujuan melalui orang lain. Orang lain disini bisa diartikan sebagai orang-perorang, atau sekelompok orang. Akan tetapi karena orang banyak itu terdiri dari individu dengan kebutuhan yang bervariasi, diperlukan kiat-kiat khusus untuk mengatur supaya kebutuhan, keinginan, dan kepentingan yang bermacam-macam tersebut bisa terakomodasi sehingga timbul dorongan atau motivasi untuk secara mandiri bekerja mencapai tujuan pribadi maupun kelompok. 
Dalam proses kepemimpinan, motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam kepemimpinan, karena memimpin adalah memotivasi. Seorang pemimpin harus bekerja bersama-sama dengan orang lain atau bawahannya, untuk itu diperlukan kemampuan memberikan motivasi kepada bawahan. Menurut Wahjosumidjo (1984), kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi, sebab keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat bergantung kepada kewibawaan, dan juga pemimpin itu di dalam menciptakan motivasi di dalam diri setiap orang bawahan, kolega maupun atasan pemimpin itu sendiri.
Seorang pemimpin memotivasi pengikut melalui gaya kepemimpinan tertentu yang akan menghasilkan pencapaian tujuan kelompok dan tujuan individu. Pengikut yang termotivasi akan berusaha mencapai tujuan secara sukarela dan selanjutnya menghasilkan kepuasan. Kepuasan mengakibatkan kepada perilaku pencapaian tujuan yang diulang kembali untuk mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang.
Motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kebutuhan ini menimbulkan keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhinya. Di sisni kebutuhan dapat dilihat sebagai kekurangan (defisiensi) yang dialami individu pada waktu tertentu. Kekurangan tersebut dapat bersifat fisik (misalnya : kebutuhan akan makanan), psikologis (misalnya : kebutuhan untuk beraktualisasi diri), atau sosiologis (misalnya : kebutuhan untuk interaksi sosial). Kekurangan-kekurangan merupakan pemicu timbulnya keinginan dan perilaku untuk meresponnya. Sebenarnya kalau ditelusuri lebih dalam, motivasi bukan saja karena adanya kebutuhan, melainkan lebih karena adanya harapan akan dapat dipenuhinya kebutuhan itu.





[1] J.M.Pfiffner&B.W.Presthus, “Public Administration” (Forth Edition) The Roald Press Co. N.Y.1960.p.92.

[2] D.E. Mc. Farland, op.cit.p.253.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar