PERENCANAAN SEBAGAI LANGKAH KONKRIT MENCAPAI BUDAYA
ORGANISASI YANG EFEKTIF
Makalah ini
disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Dasar-Dasar Administrasi
Dosen pengampu: Saliman, M.pd
Disusun oleh:
|
1. Ghani Prasetya (09416244017)
2. Siti Hajar Rohmah (09416244023)
3. Hida Mujahida Basori (12416241060)
4. Indra Purwo Adi (12416244001)
5. Imna Layinatus Sifa (12416241054)
6. Fitria Mustika Dewi (12426241046)
|
7.
Anggun Astria (09416244029)
8.
Yusuf Aditiya Tama (09416244049)
9.
Gian Tri Widodo (12416241007)
10. Lois Wayant Pratiwi (12416241012)
11. Hasna Umul Fitroh (12416241041)
|
PRODI
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Teori-teori
manajemen modern menekankan pentingnya perilaku pelaku manajerial dalam
melaksanakan tugasnya. Perilaku tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh budaya
organisasi. Baik atau buruknya layanan menajerial ditentukan oleh perilaku
manajerial. Puas atau tidaknya konsumen, pelanggan, nasabah, atau klien
tergantung pada perilaku pemberi layanan.
Setiap
(organisasi) mempunyai budaya organisasi yang mempengaruhi semua aspek
organisasi dan perilaku anggotanya secara individual dan kelompok. Budaya
sistem sosial atau organisasi memengaruhi sikap dan perilaku anggota
organisasi. Contoh umum mengenai hubungan budaya organisasi, sikap, dan
perilaku anggota dan kinerja organisasi yang baik adalah budaya organisasi
bangsa jepang. Budaya perusahaan
Jepang jauh berbeda. Perusahaan Jepang berusaha mempertahankan nilai
paternalistik, lingkungan yang kekeluargaan, yang kemudian membuat karyawan
sangat setia dan berdedikasi pada perusahaan.
Hal
yang sangat berbeda dengan di Indonesia, budaya organisasi bangsa Indonesia
yang sangat berbeda dengan budaya Jepang. Sebagian besar para pelaku organisasi
kurang loyal terhadap organisasinya dan kurang memahami tujuan apa yang
sebenarnya hendak dicapai. Oleh sebab itu untuk mewujudkan budaya organisasi
yang efektif, diperlukan suatu strategi yaitu sebuah Perencanaan.
B.
Rumusan
Masalah
Organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama
yaitu tujuan organisasi. Orang-orang yang memiliki pola dan daya pikir berbeda
pastinya memiliki tujuan yang berbeda dalam Organisasi. Organisasi berperan
mewadai pola dan daya pikir para anggotanya agar tercipta satu tujuan yaitu
tujuan organisasi. Makalah ini mencoba membahas bagaiman suatu perencanaan yang
sebagai pencapaian tujuan awal organisasi. Permasalahan ini meliputi :
1. Pengertian Perencanaan
2. Arti dan maksud perencanaan
3. Unsur-unsur perencanaan
4. Tahap-tahap yang harus
dilalui untuk membentuk perencanaan
5. Tipe-tipe perencanaan
6. Tipe-tipe perencanaan administrasi
7. Hiraki perencanaan
8. Proses perencanaan
9. Teknik perencanan
10. Budaya organisasi yang
efektif
11. Upaya
Membangun Budaya Organisasi yang Kuat, Adaptif, dan Transformatif
12. Peran budaya organisasi
13. Perencanaan yang baik
14. Rintangan-rintangan dari perencanaan yang efektif
15. Contoh-contoh perencanaan pada administrasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Perencanaan
Perencanaan
adalah keputusan untuk waktu yang akan datang, apa yang dilakukan, bilamana
akan dilakukan, dan siapa yang akan melakukan. Perencanaan dimaksud untuk
memperoleh sesuatu dalam waktu yang akan datang, dan usaha atau cara yang
efektif untuk pencapaiannya. Perencanaan adalah suatu keputusan apa yang
diharapkan dalam waktu yang akan datang. Perencanaan bukan suatu tindakan tapi
suatu proses, yaitu proses yang tidak mempunyai penyelesaian atau titik akhir.
Berdasarkan
uraian tersebut maka perencanaan mempunyai dua komponen, yaitu yang bersifat
optimis dan pesimis. Bersifat optimis berdasarkan kepercayaan bahwa sesuatu
dapat dilakukan dengan harapan bahwa yang diinginkan akan terlaksana. Sedangkan
sifat pesimis berdasarkan atas kepercayaan bahwa apa yangdiinginkan tidak akan
terjadi.
Menurut
Agus Sabardi (2001: 54) perencanaan merupakan sutau proses dasar yang digunakan
untuk memilih tujuan dan cara pencapaiannya. Perencanaan tidak lain merupakan
kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk
mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan
David L. Kurtz (1984) bahwa planning may
be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and
develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan
T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan
penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem,
anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan
banyak terlibat dalam fungsi ini”. Dengan demikian perencanaan merupakan suatu
cara atau metode-metode yang sistematis guna mencapai tujuan tertentu pada
waktu yang akan datang.
Pendapat –pendapat tentang
perencanaan.
Sesuai dengan pengertianya, maka terdapat beberapa pendapat
mengenai batasan (definisi) daripada perencanaan.
-
Pendapat pertama : Perencanaan sebagai suatu proses.
Dalam pengertian ini Garth N.
Jone mendefinisikan perencanaan sebagai berikut, “Perencanaan adalah proses pemilihan dan pengembangan daripada tindakan yang
paling baik/menguntungkan untuk mencapai tujuan.”
-
Pendapat kedua: Perencanaan sebagai fungsi managemen.
Dalam pengertian ini Mc. Farland mendefinisikan perencanaan sebagai
berikut, “Perencanaan adalah fungsi dimana
pimpinan kemungkinan menggunakan pengaruh daripada kewenanganya, yang dapat
mengubah kegiatan dan tujuan daripada organisasi.”
-
Pendapat ketiga: Perencanaan sebagai
suatu keputusan.
Dalam pengertian ini W.H. Newman
memberikan definisi sebagai berikut, “Perencanaan adalah keputusan apa yang akan dikerjakan untuk waktu yang akan
datang ,yaitu suatu rencana yang
diproyeksikan dalam suatu tindakan.”
Berdasarkan atas pendapat-pendapat tersebut di atas,
jelaslah bahwa; perencanaan dianggap sebagai suatu proses , dianggap sebagai
suatu fungsi dan dapat di anggap sebagai suatu keputusan.
Perencanaan sebagai suatu proses, karena perencanaan adalah
suatu tindakan pemilihan yang terbaik/menguntungkan dari berbagai alternative
dalam usaha pencapaian tujuan. Adapun Perencanaan sebagai fungsi managemen, di
mana pimpinan (manager) wajib melakukan perencanaan sebagai pedoman dalam
kegiatannya untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan perencanaan sebagai
keputusan ialah untuk kejelasan apa yang akan dilakukan, bilamana akan
dilakukan dan siapa yang akan melakukan.
Pada umumnya, suatu rencana yang baik berisikan atau memuat enam unsur, yaitu: the what, the why, the where, the when, the who, dan the how. Jadi, suatu rencana yang baik
harus memberikan jawaban kepada enam pertanyaan berikut.
1.
Tindakan apa yang harus dikerjakan?
2.
Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan?
3.
Di manakah tindakan itu harus dilaksanakan?
4.
Kapankah tindakan itu dilaksanakan?
5.
Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu?
6.
Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu?
Dari jawaban-jawaban pertanyaan di atas, sesuatu rencana harus memuat
hal-hal sebagai berikut:
1.
Penjelasan dari perincian kegiatan-kegiatan yang
dibutuhkannya, faktor-faktor produksi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan
tersebut agar apa yang menjadi tujuan dapat dihasilkan.
2.
Penjelasan mengapa kegiatan-kegiatan itu harus dikerjakan dan
mengapa tujuan yang ditentukan itu harus dicapai.
3.
Penjelasan tentang lokasi fisik setiap kegiatan yang harus
dikerjakan sehingga tersedia segala fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk
mengerjakan pekerjaan itu.
4.
Penjelasan mengenai waktu dimulainya pekerjaan dan diselesai-
kannya pekerjaan baik untuk tiap-tiap bagian pekerjaan maupun untuk seluruh
pekerja. Di sini harus ditetapkan standar waktu untuk mengerjakan, baik
bagian-bagian pekerjaan maupun untuk seluruh pekerjaan.
5.
Penjelasan tentang para petugas yang akan mengerjakan
pekerja- annya, baik mengenai kuantitas maupun mengenai kualitas, yaitu
kualifikasi-kualifikasi pegawai, seperti keahlian, pengalaman, dan sebagainya.
Di sini pula harus dijelaskan authority, responsibility dan accountability dari masing-masing
pegawai.
6.
Penjelasan tentang teknik mengerjakan pekerjaan.
Perencanaan adalah suatu proses kesinambungan, dan tidak ada
rencana yang bersifat final, tetapi selalu merupakan bahan untuk diadakan
perbaikan. Oleh karena itu rencana bukan merupakan hasil akhir daripada proses
perencanaan, tetapi sekedar sebagai laporan sementara . Bersama ini diberikan contoh tata urutan
bagian-bagian/unsur-unsur perencanaan yang merupakan sistematika berpikir dalam
perencanaan.
a.
Hasil akhir (the ends), yaitu spesifikasi
dari tujuan-tujuan/sasaran-sasaran target perencanaan. Di sini ditentukan apa yang ingin di capai, dan bilamana kita akan mencapainya.
b.
Alat-alat (the means); yaitu meliputi pemilihan dari kebijaksanaan, strategi,
prosedur dan prakteknya. Di sini di tentukan bagaimana menyelesaikan rencana.
c.
Sumber-sumber (the resources); yaitu meliputi
kuantitas, mendapatkan dan mengalokasikan bermacam-macam sumber, antara lain:
tenaga kerja, keuangan, material, tanah, dan sebagainya.
d.
Pelaksanaan (implementation); yaitu
menentukan prosedur pengambilan keputusan dan cara mengorganisasikannya
sehingga rencana tersebut dapat dilaksanakan
e.
Pengawasan (control); yaitu menentukan prosedur apa yang dilakukan dalam
menemukan kesalahan, kegagalan daripada rencana dan untuk mencegah atau
memperbaiki kesalahan untuk kelanjutanya.
C.
Tahap-tahap
Perencanaan
Menurut Stoner
(Agus Sabardi, 2001: 55) perencanaan merupakan suatu kegiatan yang terbagi
dalam 4 tahap dan berlaku untuk semua jenjang organisasi yaitu:
1. Tahap
1: Menetapkan Serangkaian Tujuan
Perencanaan
dimulai dengan keputusan-keputusan tentang apa yang dibutuhkan oleh organisasi
atau kelompok kerja. Tanpa rumusan yang jelas, organisasi akan menggunakan
sumber dayanya secara tidak efektif. Identifikasi prioritas dan menentukan
tujuan yang spesifik sehingga memungkinkan organisasi menggunakan sumber
dayanya secara efektif.
2. Tahap
2: Merumuskan Keadaan Sekarang
Hanya
dengan menganalisis kondisi organisasi saat ini, rencana dapat dirumuskan untuk
menggambarkan rencana kegiatan selanjutnya. Misalnya menganalisis sejauh mana
posisi organisasi dari tujuannya dan sumber daya apa saja yang tersedia untuk
pencapaian tujuan tersebut. Selain itu, komunikasi yang terbuka dengan para
anggota organisasi, data keuangan, dan statistik diperlukan pada tahap ini.
John M. Ivancevich (2006: 115) mengemukakan komunikasi merupakan hal yang
mengikat kesatuan organisasi. Komunikasi membantu anggota-anggota organisasi
mencapai tujuan individu dan organisasi, merespons, dan mengimplementasikan
perubahan organisasi, mengkoordinasikan aktivitas organisasi, dan ikut
memainkan peran dalam hamper semua tindakan organisasi yang relevan. Bila
sebuah organisasi sampai pada titik di mana komunikasi dalam organisasi tidak
berjalan efektif, maka organisis tersebut tidak akan berfungsi seefektif yang
seharusnya.
3. Tahap
3: Identifikasi segala Kemudahan dan Hambatan
Mengidentifikasi
faktor internal dan eksternal apa saja yang dapat membatu suatu organisasi
dalam mencapai tujuannya, serta faktor-faktor yang dapat menimbulkan
hambatan-hambatan organisasi dalam mencapai tujuannya. Perlu juga dilakukan
antisipasi situasi dengan memprediksi problem dan kesempatan-kesempatan yang
mungkin terjadi pada masa yang akan datang merupakan esensi dari proses
perencanaan.
4. Tahap
4: Mengembangkan Serangkaian Kegiatan untuk Pencapaian Tujuan
Tahap
terakhir ini melibatkan pengembangan berbagai alternative kegiatan untuk
pencapaian tujuan, evaluasi alternative tersebut dan pemilihan alternative
terbaik di antara alternative yang ada untuk pencapaian tujuan.
Tahapan tersebut
jika digambarkan, akan tampak seperti gambar di bawah ini:
|
Tahap
1
Menetapkan Serangkaian Tujuan
|
|
Tahap
3
Identifikasi
segala Kemudahan dan Hambatan
|
|
Tahap
2
Merumuskan
Keadaan Sekarang
|
|
Tahap
4: Mengembangkan Serangkaian Kegiatan untuk Pencapaian Tujuan
|
|
U
|
|
J
|
|
U
|
|
A
|
|
N
|
|
T
|
Sesuai dengan pendapat A.M. Williams, maka poses
perencanaan meliputi :
1. Menentukan/menetapkan
dengan jelas maksud/tujuan
Berarti
menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan dilakukan. Maksud dan tujuan
itu adalah sasaran yang ingin dicapai dengan menentukan kebijaksanaan berarti
apa yang akan ditempuh untuk menyelesaikan tujuan.
2. Menentukan
alternatif
Artinya
bahwa pimpinan tau manager harus memperhitungkan faktor-faktor yang dihadapi,
yaitu kejadian-kejadian yang akan datang.
3. Mengatur
sumber-sumber yang diperlukan
Antara
lain: tenaga kerja, biaya, peralatan, bahan-bahan atau perlengkapan, dan waktu
yang diperlukan. Hal itu harus sudah tersedia bila diperlukan.
4. Menentukan
organisasi, metode, dan prosedur
Maksudnya
bahwa dalam pelaksanaan rencana ini perlu adanya suatu organisasi, metode atau
tata kerja, termasuk juga bimbingandan pengawsan yang diperlukan dalam kegiatan
itu.
5. Menentukan
atau menetapkan rencana itu sendiri.
Pembuatan
rencana itu sendir meliputi :
a. Hal-hal
yang mencakup penentuan tujuan dan sasaran.
b. Target
yang akan dicapai, dan yang akan mempunyai pengaruh terhadap pekerjaan
organisasi itu.
c. Sumber-sumber
yang diperlukan, yaitu: tenaga manusia, biaya, alat, bahan dan termasuk waktu
penyelesaian rencana.
d. Metode
dan pelaksanaan rencana.
Rencana yang baik, haruslah mengandung sifat-sifat sebagai berikut:
1.
Pemakaian kata-kata yang sederhana dan terang,
Kata-kata dan kalimat-kalimat yang dipergunakan oleh
suatu rencana haruslah sederhana dan mudah dimengerti untuk meniadakan
penafsiran yang berbeda. Sering si pembuat rencana tidaklah selalu orang yang
melaksanakan rencana karenanya susunan kata dan kalimat harus sedemikian rupa
sehingga mudah diketahui maksudnya oleh setiap orang.
2.
Fleksibel,
Selanjutnya, suatu rencana haruslah fleksibel, artinya
rencana tersebut harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah yang
tidak diduga sebelumnya. Dengan kata lain, suatu rencana tidak perlu diubah
seluruhnya kalau terjadi perubahan keadaan, melainkan hanya perubahan sedikit
saja yang dimungkinkan oleh rencana sebelumnya.
3.
Mempunyai stabilitas,
Di samping adanya kemungkinan mengadakan perubahan,
maka suatu rencana haruslah mempunyai sifat stabil, yang berarti tidak perlu
setiap kali diubah atau tidak dipakai sama sekali.
4.
Ada dalam perimbangan, dan
Seterusnya suatu rencana haruslah ada dalam perimbangan,
berarti bahwa pemberian waktu dan faktor-faktor produksi kepada setiap unsur
organisasi seimbang dengan kebutuhannya.
5.
Meliputi semua tindakan yang diperlukan.
Akhirnya, rencana tersebut haruslah cukup luas untuk
meliputi semua tindakan yang diperlukan, artinya haruslah rencana tersebut
meliputi seluruh unsure-unsur organisasi.
D.
Tipe-tipe
Perencanaan
Salah satu usaha untuk menilai kegiatan perencanaan yang
bermacam-macam ialah meninjau berbagai tipe perencanaan yang merupakan hasil
daripada proses perencanaan. Disamping itu juga
adanya hirarkhi perencanaan, menggolongkan rencana sesuai dengan
tingkat-tingkat managemen di mana rencana itu dilaksanakan, yaitu :
1.
Tujuan (objectives)
Tingkatan yang
tertinggi daripada perencanaan ialah menunjukan hasil akhir, di mana kegiatan
organisasi itu diarahkan dan termasuk kegiatan akhir ini ialah : sasaran dan
target. Tujuan dirumuskan oleh pimpinan tingkat atas berdasarkan penilaian
ekonomi, sosial dan politik sesuai dengan garis-garis pengarahan strategi dan
kebijaksanaan.
2.
Strategi
Tindakan
perencanaan pimpinan tingkat atas dimaksudkan untuk mencapai tujuan.
Perencanaan strategi adalah sifat jangka panjang dan menjadi perencanaanyang
bersifat taktis pada pimpinan tingakt bawah.
3.
Kebijaksanaan (policies)
Kebijaksanaan ialah
pernyataan umum perilaku daripada organisasi. Dengan menetapkan pedoman untuk
pemikiran dan pengambilan keputusan dalam rangka tersedianya sumber-sumber yang
diperlukan.
4.
Prosedur (procedures)
Seperti halnya
kebijaksanaan, tetapi prosedur banyak ditekankan dalam menentukan jawaban yang
tertentu dalam mengendalikan kegiatan dalam waktu yang akan datang. Pada
dasarnya prosedur menggambarkan urut-urutan yang bersifat kronologis daripada
tindakan yang harus dilakukan.
5.
Anggaran
Anggaran adalah proses penentuan keadaan yang berhubungan dengan dana organisasi. Anggaran Organisasi adalah suatu rencana yang meliputi sumber-sumber dana yanga ada kaitanya terhadap semua tahap-tahap kegiatan untuk periode tertentu dalam waktu yang akan datang.
Anggaran adalah proses penentuan keadaan yang berhubungan dengan dana organisasi. Anggaran Organisasi adalah suatu rencana yang meliputi sumber-sumber dana yanga ada kaitanya terhadap semua tahap-tahap kegiatan untuk periode tertentu dalam waktu yang akan datang.
6.
Rencana proyek (project plans)
Rencana proyek
adalah perpaduan dari tujuan, kebijaksanaan, prosedur, anggaran dan unsur-unsur
lain yang diperluakn untuk melaksanakan tujuan tertentu yang telah ditentukan
sebelumnya.
7.
Rencana fungsional (functional plan)
Rencana
fungsional dalah suatu garis besar tindakan yang akan dilakuakn dalam bidang
fungsional, misalnya: pemasaran, produksi, keungan dan sebagainya.
E. Tipe – tipe Perencanaan Administrasi
1.
W.H Newman membagi tipe-tipe
perencanaan aministrasi sebagai berikut :
a.
Sasaran
Sasaran memberikan arah kegiatan yang bermacam-macam, terutama yang berhubungan dengan proses perencanaan. Hal ini
akan menentukan adanya desentrasi perencanaan, kordinasi, motivasi, dan
terutama unsure yang penting adalah pengawasan.
b. Rencana tunggal
Rencana tunggal adalah menentukan langkah kegiatan,
disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, dan selesai apabila sasarangnya
telah tercapai.
c.
Rencana induk
Rencana induk ini dapat dipergunakan terus-menerus. Rencana induk ini adalah suatu rencana yang luas. Oleh
karena itu rencana lain harus serasi dan terpadu, termasuk juga rencana tunggal
merupakan bagian daripada rencana induk ini, terutama apabila adanya efek yang
terus-menerus terhadap rencana induk ini.
2. Perencanaan Berdasarkan sasaran
a.
Tujuan
Setiap organisasi haru menjelaskan secara jelas tujuan
sebagai landasan untuk semua perencanaan. Tujuan ini mungkin bermacam-macam, tertapi harus dilakukan
secara seimbang, sehingga satu sama lain berjalan seirama. Tujuan yang luas itu
diterjemahkan sedemikian rupa dan dirumuskan secara terperinci, sehingga
diperlukan adanya sasaran antara. Dengan demikian
maka sasaran-sasaran antara itu dapat dibagi-bagi ke dalam unit-unit atau
bagian-bagian lain yang lebih kecil dan dipergunakan sebagai tujuan.
b.
Anggaran dan batas waktunya
Anggaran adalah permyataan dalam bentuk angka-angla terutama
dalam bentuk perhitungan keungan, dengan pengharapan agar kegiatan pada suatu
periode tertentu hasilnya dapat diperoleh untuk waktu yang akan dating.Anggaran
yang telah disiapkan itu merupakan perkiraan, disamping menggambarkan
perencanaan yang sesungguhnya untuk setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Jelasnya anggaran menentukan di mna kegiatan itu untuk mencapai sasarannya.
c.
Batas waktu anggaran
Dimaksudkan suatu rencana yang
harus selesai dalam batas waktu yang ditentukan. Dengan perkataan lain suatu
rangkaian rencana anggaran sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang
harus diselesaiakan dengan batas waktu yg telah ditentukan.
d.
Sasaran kegiatan
Kegiatan yang bermacam-macam itu ditentukan berdasarkan atas
standar sebagai ukuran hasil . Standar hasil ini biasanya dinyatakan dalam
bentuk fisik, umpama : Membuat tembok gedung sekian meter persegi selesai dalam
sekian jam. Mungkin dapat digunakan untuk mengukur kerugian waktu umpama :
beberapa jam waktu yang hilang dari para karyawan karena kemacetan di jalan
waktu berangkat ke kantor.
3. Rencana Tunggal
a.
Program utama
Program utama menunjukan langkah “dasar” yang perlu
ditentukan untuk menyelesaiakn suatu tujuan. Siapakan yang bertanggung jawab
untuk setipa langkah (tahap) dan perkiraan lamanya waktu untuk setiap tahap itu
Tujuan daripada program utama ini sangat bermanfaat tidak
hanya untuk segala ancaman kegiatan daripada organisasi, tetapi juga untuk
tugas utamanya. Misalnya : Departemen pertanian sebagai program utamanya ialah
meningkatakan produksi padi,tanpa meninggalkan tugas utamnya, yaitu bimbingan
dan penyuluhan kepada para petani.
b.
Proyek
Proyek adalah bagian dari program umum yang secara relative
terpisah, direncanakan dan dilaksanakan tersendiri, dan bila telah selesai
pekerjaan itu dihentikan. Pimpinan menghendaki agar proyek dilaksanakan berdasarkanmatas
tahap-tahap daripada kegiatan
organisasi.Misalnya : Departemen pertanian dalam program peningkatan produksi
padi, mendasarkan atas intensifikasi dan extensifikasi, Untuk tahap itu di
perlukan rencana kerja tersendiri yang dinamakan Proyek Bimbingan Masal
(Bimas), Intensifikasi Masal (Inmas), dan Inntensifikasi khsus. Untuk
melaksanakan proyek ini diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Mengatur organisasi dan
personalnya (organizing and staffing), yaitu dengan membentuk panitia yang
mempunya wewenang dan tanggung jawab, membentukan tugas dan kewajiban para
anggota, dan sebagainya.
2.
Menentukan kebijaksanaan untuk
sesuatu proyek (Setting policies for the project). Bimbingan adalah diperlukan
sejak dari permulaanya dalam hal-hal yang berhubungan dengan tugas yang
dilakukan, termasuk mengadakan survey.
3.
Memepersiapkan uraian
pekerjaan (job description). Hal ini
menyangkut keputusan tentang bentuk, isi dan istilah yang di gunakan dalam
uraian termasuk jadwal waktu
pelaksanaan.
4.
Penilaian pekerjaan (Evalution
the job). Faktor perbandingan adalah suatu metode yang dipergunakan. Misalnya :
Kelompok pekerjaan harus terperinci secara jelas.
5.
Membuat survey lapangan (making a
field survey), sebagai kelengkapan dan perbandingan.
6.
Mengembangkan data sebagain
sumber informasi (Developing data as source of information).
7.
Menetapkan rencana (Installing
the plan)
8.
Memberikan informasi kepada para
pegawai (Information employer).
Proyek adalah suatu
bentuk rencana yang fleksibel dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi
setempat.
c.
Program khusus
Tipe lain daripada rencana tunggal adalah program khusus,
yang merupakan salah satu tahap daripada kegiatan organisasi. Lain hanya dengan
proyek, program khusus ini tidak mempunya data yang sempurna secara jelas.
Jelasnya Program khusus ini adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang
terjadi terus menerus, di mana reancana ini harus disesuaikan dari waktu
kewaktu dengan memperhitungkan situasi dan kondisi yang telah ada. Misalnya :
Pembangunan Daerah Timor Timur, sebagai proyek khusus Pemerintah pusat.
d.
Rencana Terperinci.
Rencana yang lebih terperinci adalah suatu hal yang sangat
diinginkan. Rencana yang mengatur secara terperinci ini sangat diperlukan untuk
melaksanakan keputusan dari Pimpinan. Rencana terperinci ini meliputi hal-hal
yang berhubungan dengan tenaga kerja, pengggunaan alat-alat dan perlengkapan
atau sumbersumber dan informasi yang diperlukan, misalnya : jadwal waktu,
pemberian order, standar metode, prosedur termasuk sistem pelaporan,
pertanggungjawaban dan pengawasan.
4.
Rencana Induk
Rencana Induk dapat
dibeda-bedakan atas :
a.
Kebijaksanaan.
Kebijaksanaan
adalah suatu rencana umum (general Plan), yang menjadi pedoman daripada para
anggota-anggotanya dalam melaksanakan kegiatannya. Di samping itu kebijaksanaan
merupakan pola daripada kegiatan organisasi. Sesungguhnya setiap usaha harus
menentukan pola kebijaksanaan ini yang mencakup semua kegiatan-kegiatan yang
pokok daripada organisasinya. Dengan demikian maka pimpinan akan lebih muda
memutuskan, yang mana kegiatan- kegiatan yang berhubungan dengan kebijaksanaan
khusus, dan mana yang diperlukan suatu penanganan yang lebih baik, atau hal-hal
yg bersifat fleksibel.
b.
Prosedur.
Perbedaan antara
kebijaksanaan, metode dan prosedur. Prosedur ialah proses untuk diketahui apa
yang harus dilakukan. Dengan demikian langkah-langkah/ tahap-tahap ini menjadi
suatu hal yang rutin dan tugas daripada administrasi ini adalah menyederhanakan
(simplified) supaya tidak berbelit belit dan membuang-buang waktu.
Prosedur
untuk memindahkan informasi dilakukan dengan bentuk tertulis, untuk itu
diperlukan persiapan dalam bentuk standar atau formulir, yang dapat digunakan
untuk menggambarkan hal-hal yang penting daripada prosedur. Formulir isian ini
dalam praktek harus teliti dan jelas, yang merupakan catatan informasi dalam
bentuk standar, yang penyimpanannya diatur secara rapi, sebagai dokumen
informasi.
c.
Metode.
Standar metode
adalah “cara /jalan yang terbaik” untuk melaksanakan setiap kegiatan/pekerjaan.
Standar metode ini dimaksudkan agar setiap pekerja dalammelaksanakan
pekerjaannya mempunyai hasil yang sempurna dengan mencapai “efisiensi”
Penggunaan daripada standar metode ini tidak hanya untuk mencapai efisiensi ,
tetapi juga terhadap kualitas pekerjaannya dan keseragaman daripada hasil yang
diharapkan.
Perbedaan antara kebijaksanaan dan metode. Kebijaksanaan
pada dasarnya mencakup bidang yang luas atau sebagai pedoman pokok, sedangkan
metode ialah berhubungan dengan cara/jalan bagaimana suatu kebijaksanaan itu
dilakukan. Pengertian ini sangat berguna terutama untuk membedakan pandangannya
masing-masing, lebih-lebih penetrapannya dalam perencanaan. Dengan demikian
para pimpinan organisasi tidak hanya terlibat dalam penentuan metode dan
prosedur saja, tanpa menentukan terlebih dahulu pola kebijaksanaannya atau
sebaliknya, sedangkan dalam administrasi yang baik selalu mempertimbangkan
kedua-duanya yaitu kebijaksanaan dan metode.
F. Hirarki Perencanaan
Menurut Mc.Farland, perencanan di dalam suatu organisasi, mengikuti
adanya tingkat-tingkat Managemen yaitu sesuai dengan perbedaan daripada
tingkat-tingkat kewenangan (authority) dan pertanggungjawabannya. Adapun kegiatan perencanaan sesuai dengan kewenangannya
adalah sebagai berikut :
|
Kewenangan/tanggung jawab
|
Perencanan
|
|
Pimpinan tingkat Atas
|
-
Sasaran
-
Kebijaksanaan
-
Rencana jangka panjang
|
|
Pimpinan tingkat Menengah
|
-
Melengkapi sasaran
-
Kebijaksanaan untuk mencapai
sasaran
-
Program
-
Targets
|
|
Pimpinan tingkat
|
-
Sasaran Jangka Pendek
-
Melengkapi Kebijaksanaan
-
Proyek (project)
-
Jadwal (schedule)
|
|
|
|
G.
Proses Perencanaan
Sesuai dengan pendapat A.M Williams, maka proses dari pada
perencanaan meliputi :
1. Menentukan/menetapkan
dengan jelas maksud/tujuan, berarti menentukan
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan dilakukan.
2. Menentukan
alternative, artinya bahwa pimpinan/manager
harus memperhitungkan faktor-faktor yang akan dihadapi, yaitu kejadian-kejadian
yg akan datang.
3. Mengatur
sumber-sumber yang diperlukan, antara lain :
tenaga kerja, biaya, peralatan, bahan-bahan/perlengkapan, waktu yang diperlukan. Hal itu harus sudah tersedia bila diperlukan.
4. Menentukan
organisasi, metode dan prosedur, maksudnya bahwa
dalam pelaksanaan rencana ini perlu adanya suatu organisasi, metode
dan tata kerja, termasuk juga bimbingan dan pengawasan yang diperlukan dalam
kegiatan itu.
5. Menentukan/menetapkan
rencana itu sendiri. Pembuatan rencana
itu sendiri meliputi:
1.
Hal-hal yang mencakup penentuan
tujuan dan sasaran.
2.
Target yang akan dicapai, dan
yang akan mempunyai pengaruh terhadap pekerjaan organisasi itu.
3.
Sumber-sumber yang diperlukan , yaitu : tenaga manusia, biaya, alat, bahan
dan termasuk waktu penyelesaian rencana.
4.
Metode dan prosedur pelaksanaan rencana
H.
Teknik-teknik Perencanaan
Teknik-teknik
perencanaan adalah: metode perencanaan yang berhubungan dengan prosedur
bagaimana perncan melaksanakan tugasnya. Prosedur
berhubungan juga dengan langkah-langkah apa yang akan dilakukan mulai dari
persiapan sampai berakhirnya dengan perncanaan tersebut. Semua itu harus
sesuai dengan keperluan tiap-tiap
langkah. Prosedur ini disebut pendekatan analitis oleh H.Newman.
Langkah-langkah
pendekatan analitis:
1.
Menentukan permasalahannya
Apa yang harus
dilakukan oleh pimpinan dalam mencapai tujuan, atau apa yang akan dicapai.
2.
Berusaha mendapatkan fakta-fakta
yang penting/dibutuhkan
Sedapat mungkin
dengan waktu yang tersedia, mampu mendapatkan fakta itu dalam bentuk yang baik
sebagai sumber informasi.
3.
Analisa sumber informasi
Mempertimbangkan
faktor-faktor informasi itu saatu sama lain dan mencoba menghubungkan faktor
informasi itu satu sama lain.
4.
Memilih tindakan-tindakan
alternatif
5.
Mempertimbangkan alternatif
Mempertimbangkan
untuk memutuskan mana yang terbaik untuk memecahkan masalah.
6.
Mengambil keputusan
Melakukan analisa
dan observasi selanjutnya untuk melihat apakah adanya faktor-faktor baru yang
akan timbul yang mungkin diperlukan untuk suatu perubahan dalam pembuatan
rencana.
I.
Budaya
Organisasi yang Efektif
1. Pengertian
Budaya Organisasi
Menurut Luthans (Andreas Lako, 2004:
29), budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan
perilaku anggota organisasi. Setiap anggota akan berperilaku sesuai dengan
budaya yang berlaku agar diterima oleh lingkungannya. Sarplin (1995) menyatakan
bahwa budaya organisasi merupakan suatu system nilai, kepercayaan, dan
kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur
system formalnya menghasilkan norma-norma perilaku organisasi. Stoner et al.
(1995) mendefinisikan budaya organisasi sebagai suatu cognitive framework yang meliputi sikap, nilai-nilai, norma
perilaku dan harapan-harapan yang disumbangkan oleh anggota organisasi. Davis
(1984) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan
nilai-nilai (values) organisasi yang
dipahami, dijiwai dan dipraktikkan oleh organisasi sehingga pola tersebut
memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam
organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas,
dapat disimpulkan budaya organisasi merupakan suatu sikap, nilai-nilai, norma
perilaku, kebiasaan, dan pola keyakinan yang dipahami, dijiwai, dan
dipraktikkan oleh organisasi, sehingga pola tersebut dapat menjadi dasar aturan
berpelikaku dalam organisasi. Budaya organisasi diyakini merupakan faktor
penentu utama kesuksesan kinerja ekonomi suatu organisasi. Keberhasilan suatu
organisasi mengimplementasikan aspek-aspek atau nilai-nilai (values) budaya organisasinya dapat
mendorong organisasi tersebut tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
2. Karakteristik
dan Level Budaya Organisasi
Luthans (Andreas Lako, 2004: 33)
mengidentifikasi ada enam karakteristik penting dalam budaya organisasi yaitu:
a.
Observed
behavioral regularities
Yaitu apabila
para partisipan organisasi saling berinteraksi satu sama lain, maka mereka akan
menggunakan bahasa, terminology, dan ritual-ritual yang sama yang berhubungan
dengan rasa hormat dan cara bertindak
b.
Norms
Yaitu
standar-standar perilaku yang ada, mencakup pedoman tentang berapa banyak yang
harus dilaksanakan dan perbuatan-perbuatan apa saja yang boleh dan tidak boleh
dilakukan.
c.
Dominant
values
Ada sejumlah
values utama yang organisasi anjurkan dan harapkan kepada para anggota
organisasi untuk menyumbangkannya, misalnya kualitas prooduk yang tinggi,
absensi yang rendah, dan efisiensi yang tinggi.
d.
Philosophy
Ada sejumlah
kebijakan yang menyatakan keyakinan organisasi tentang bagaimana para karyawan
adan atau para pelanggan diperlakukan.
e.
Rules
Ada sejumlah
pedoman pasti yang berhubungan dengan kemajuan atau cara berhubungan yang baik
dalam organisasi. Para karyawan baru harus mempelajari “ikatan” atau rules yang telah ada sehingga mereka
dapat diterima sebagai full-fledget
anggota kelompok.
f.
Organizational
climate
Yaitu ada suatu feeling
yang menyeluruh yang dibawa oleh physical layout, cara para anggota organisasi
berinteraksi, dan cara para anggota organisasi memperlakukan dirinya menghadapi
pihak pelanggan dan pihak luar lainnya.
Schein (Andreas Lako, 2004: 35)
menyatakan bahwa budaya organisasi berada pada tiga tingkat, yaitu:
a.
Artifacts
(Artifak)
Level ini merupakan dimensi yang paling
terlihat dari budaya organisasi, merupakan lingkungan fisik dan sosial
organisasi. Pada level ini, orang memasuki suatu organisasi dapat melihat
dengan jelas bangunan, output (barang
dan jasa), teknologi, bahasa tulisan dan lisan, produk seni, dan perilaku
anggota organisasi. Budaya organisasi memiliki ciri
yang semua struktur dan proses organisasional dapat terlihat. Dijelaskan bahwa
seorang anggota organisasi baru memasuki suatu organisasi yang telah memiliki
proses dan struktur yang visible dan menghadapi (melihat, mendengarkan, dan
merasakan) suatu kelompok baru dengan suatu budaya baru yang asing baginya.
Karena antara organisasi yang satu dengan yang lain artifacts-nya berbeda-beda,
maka pendatang baru perlu belajar memberikan perhatian yang khusus kepada
budaya organisasi tersebut.
b.
Espoused
Values (Nilai-nilai)
Para
anggota organisasi mempertanyakan “apa yang seharusnya dapat mereka berikan
untuk organisasi”. Pada tingkat ini, baik organisasi maupun anggota organisasi
membutuhkan tuntutan strategi, goals, dan filosofi dari pemimpin organisasi
untuk bertindak. Menurut Schein, kebanyakan budaya organisasi dapat menelusuri
kembali expoused values ini, dan
mempelajari maknanya dalam konteks organisasi. Semua
pembelajaran organisasi merefleksikan nilai-nilai anggota organisasi, perasaan
mereka mengenai apa yang seharusnya berbeda dengan apa adanya. Jika anggota
organisasi menghadapi persoalan atau tugas baru, solusinya adalah nilai-nilai
c.
Basic
Underlying Assumptions (Asumsi Dasar)
Pada tingkat
basic underlying assumptions, berisi
sejumlah kepercayaan atau keyakinan (beliefs)
bahwa anggota organisasi mendapat jaminan (taken
for granted) bahwa mereka diterima secara baik untuk melakukan sesuatu
secara efisien dan efektif. Asumsi-asumsi dasar ini mempengaruhi perasaan,
pemikiran, persepsi, kepercayaan, dan pikiran bawah sadar anggota organisasi. Sikap
solusi yang dikemukakan pemimpin perusahaan dapat berhasil berulang-ulang, maka
solusi dianggap sebagai sudah seharusnya (taken
for granted).
|
Artifacts
|
|
Basic Underlying
Assumptions
|
|
Espoused Values
|
Gambar 2. Level Budaya menurut Schein
3. Budaya
Organisasi yang Efektif (Kuat, Adaptif, dan Transformatif)
Budaya
organisasi yang efektif memiliki paling sedikit dua sifat, yaitu:
a. Kuat
(strong) artinya budaya tersebut
mampu mengikat dan mempengaruhi perilaku individu pelaku organisasi untuk
menyelaraskan tujuan individu dan kelompoknya dengan tujuan organisasi, serta
mampu mendorong para pelaku organisasi untuk memiliki goals, objectives,
persepsi, perasaan, nilai, dan kepercayaan, interaksi sosial, dan norma-norma
bersama sehingga mereka mampu bekerja dan mengekspresikan potensi mereka dalam
arah dan tujuan yang sama.
b. Dinamis
dan adaptif, artinya budaya tersebut fleksibel dan responsive terhadap dinamika
lingkungan internal dan eksternal organisasi yang demikian cepat dan komples.
J.
Upaya
Membangun Budaya Organisasi yang Kuat, Adaptif, dan Transformatif
Andreas Lako
(2004: 57) mengemukakan beberapa strategi yang perlu disiasati dan ditempuh
para pelaku organisasi sebagai upaya membangun budaya organisasi yang kuat,
adaptif, dan transformative antara lain:
1. Merekrut
dan mengembangkan pola kepemimpinan yang transformasional (transformational leadership)
Visi
dan tindakan para pemimpin puncak dan manajer memiliki implikasi langsung
terhadap kinerja perusahaan dan perilaku karyawan. Oleh karena itu, perekrutan
dan pengembangan para eksekutif perusahaan harus dilakukan dalam kerangka
mengembangkan kepemimpinan yang adaptif dan transformasional, yaitu pemimpin
yang mampu menggerakkan seluruh jajaran organisasi untuk bekerja melebihi
ekspektasi serta sekaligus melakukan transformasi struktur dan operasional yang
diperlukan tanpa menimbulkan gejolak atau kekacauan yang merugikan. Pemimpin
yang transformative adalah pemimpin yang memiliki visi ke depan, mampu
mengidentifikasi perubahan lingkungan, dan mentrasnformasikan perubahan
lingkungan ke dalam perusahaan, mempelopori perubahan, memberikan inspirasi dan
motivasi kepada individu-individu untuk berkreatif dan berinovatif, membangun
kerjasama tim yang kompak dan inovatif, membawa perubahan dan pembaharuan dalam
etos kerja dan kinerja manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan
mengendalikan perusahaan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Mendesain
kembali strategi manajemen sumber daya manusia (SDM) yang berbasis pada budaya
perusahaan.
Manajemen
SDM merupakan suatu proses manajemen yang dirancang untuk mendapatkan SDM yang
berkualitas (recruitment), melatih
dan mengembangkan SDM agar memiliki kompetensi tertentu (pengetahuan, keterampilan,
kemampuan, dan pengalaman) sesuai dengan yang dibtuhkan perusahaan,
memberdayakan (empowering) SDM sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan
perusahaan, dan memelihara (maintenance) SDM sebagai asset perusahaan dengan
memberikan rewards tertentu.
3. Mendesain
kembali strategi system usaha dan strategi bersaing perusahaan agar sesuai
dengan trend lingkungan stakeholders
dan pergeseran paradigm dari variabel-variavel mega-environment.
Ini
berarti perusahaan perlu beradaptasi dan mengadopsi nilai-nilai budaya global
yang dianggap dapat menjadi share values
untuk membangun core competence
perusahaan.
4. Mendesain
kembali strukutur organisasi yang memisahkan tugas dan tanggung jawab
structural atau fungsional secara jelas dan tegas.
Struktur
ini berfungsi untuk menunjuk bagaimana
tugas dan tanggung jawab tersebut dibagi dan diintegrasikan. Dengan mendesain kembali
struktur organisasi, setiap level organisasi akan dipimpin oleh para manejer transformasional
yang berdedikasi dan bertanggung jawab.
5. Merancang
bangun kembali system manajemen dan system pengendalian yang berbasis pada shared values budaya perusahaan.
Perancangan
ini dimaksudkan untuk menuntun perusahaan dan para pelakunya bekerja melakukan
proses manajemen dan menuntun bagaimana kinerja (efisiensi dan efektivitas)
dari setiap proses manajemen tersebut tercapai. Dalam proses tersebut, para
leader merumuskan misi dan visi perusahaan. Misi dan visi yang telah dirumuskan
tersebut selanjutnya digunakan untuk merumuskan tujuan perusahaan.
6. Perusahaan
perlu memberikan perhatian serius terhadap isu diversity and multiculturalism karena isu-isu tersebut berpengaruh
kuat terhadap keberhasilan kinerja suatu perusahaan.
Ada
beberapa isu multiculturalism yang menurut Hofstede dan Cox mempengaruhi
peningkatan kinerja organisasional, antara lain: gender diversity and higher career involvement of woman, heterogenitas
ras, etnik, kewarganegaraan, heterogenitas budaya organisasi. Dalam menghadapi
isu-isu tersebut, perusahaan dan pelaku organisasi harus membangun system yang
fleksibel dan adaptif.
K.
Peran
Budaya Organisasi
Budaya
organisasi diteliti secara intensif oleh para pakar untuk mengetahui perannya
dalam organisasi. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa budaya organisasi
mempunya peran besar dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Akan tetapi
sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa budaya organisasi dapat menghambat
perkembangan organisasi. Berikut adalah peran budaya organisasi terhadap
organisasi, anggota organisasi, dan mereka yang berhubungan dengan organisasi :
1. Identitas
organisasi.
Budaya
organisasi berisi satu set karakteristik yang melukiskan organisasi dan
membedakannya dengan organisasi yang lain. Budaya organisasi menunjukkan
identitas organisasi kepada orang diluar organisasi
2. Menyatukan
organisasi.
Budaya
organisasi merupakan lem normatif yang merekatkan unsur-unsur organisasi
menjadi satu.
3. Reduksi
konflik
Budaya
organisasi sering dilukiskan sebagai semen atau lem yang menyatukan organisasi,
dan hal tersebut menyebabkan konflik terssendiri.
4. Komitmen
kepada organisasi dan kelompok.
Budaya
organisasi bukan saja menyatukan, tetapi juga memfasilitasi komitmen anggota
organisasi kepada organisasi dan kelompok kerjanya
5. Reduksi
ketidakpastian
Budaya organisasi
mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepastian.
6. Menciptakan
konsistensi
Budaya
organisasi menciptakan konsistensi berpikir , berperilaku, dan merespons
lingkungan organisasi
7. Motivasi
Budaya
organisasi merupakan kekuatan tidak terlihat atau invisible force di belakang
faktor-faktor organisasi yang kelihatan dan dapat diobservasi
8. Kinerja
organisasi
Budaya
organisasi yang kondusif menciptakan, meningkatkan, dan mempertahankan kinerja
tingggi.
9. Keselamatan
kerja
Budaya
organisasi mempunyai pengaruh besar terhadap keselamatan kerja
10. Sumber
keunggulan kompetitif
Budaya
organisasi merupakan salah satu sumber keunggulan kompetitif, dimana hal ini
yang kuat mendorong motivasi kerja, konsistensi, efektivitas, dan efesiensi,
serta menurunkan ketidakpastian yang memungkinkan kesuksesan organiasi dalam
pasar dan persaingan.
L.
Rintangan-rintangan dari Perencanaan yang Efektif
1.
Jangka waktu yang digunakan
Waktu yang
dipergunakan untuk perencanaan oleh pimpinan akan menentukan besarnya
ketelitian daripada perencanaan itu sendiri. Banyaknya waktu yang disediakan
dalam perencanaan menentukan banyaknya
hal-hal yang akan diketahui di luar kemampuannya. Yang berarti akan lebih mampu
melihat kejadian-kejadian yang akan datang. Keadaan sekarang merupakan bagian
yang menentukan perencanaan waktu yang akan datang, karena kondisi sekarang ini
memberikan gambaran untuk keperluan-keperluan yang akan datang, sekalipun tidak
selalu tepat.
2.
Kejadian-kejadian yang tidak dapat diramalkan
sebelumnya
Perencanaan didasarkan atas kemampuan dalam keadaan
sekarang, dengan mengusahakan memperhitungkan apa yang dapat tercapai dalam
waktu yang akan datang. Sebab pimpinan dalam kemampuan nya untuk melihat ke
depan berdasarkan atas perhitungan yang bersifat kualitatif bagi suksesnya
suatu perencanaan.
3.
Kemampuan mental
Perencanaan mendasarkan diri atas kegiatan intelektual.
Yaitu proses kemampuan mengerjakan deretan ide-ide yang abstrak untuk melihat
perubahan-perubahan dari beberapa kemungkinan berpengaruh yang dihadapi dalam
waktu yang akan datang. Salah satu bentuk dari
membuat konsep yang merupakan gambaran dari kemampuan dan kecakapan nya tanpa
melihat efek yang mungkin terjadi. Demikian pula daya ciptanya juga terbatas.
4.
Kekurangan informasi
Perencanaan yang tidak cukup informasi , akan sukar untuk
dipertanggungjawabkan. Informasi yang bersifat kuantatif maupun kualitatif
adalah merupakan bagian daripada periode waktu dalam perencanaan. Periode waktu yang tersedia
untuk memperoleh informasi yang cukup terbatas. Perencanaan yang kurang baik,
adalah yang disusun dengan informasi yang salah. Karena itu perlu diadakan
studi dan penelitian bagi perencanaan yang baik.
5.
Kesukaran-kesukaran/rintangan-rintangan
administrasi
M.
Contoh-contoh Perencanaan pada Administrasi
1.
Perencanaan Sumber Daya Manusia
Perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan tenaga
kerja didefinisikan sebagai proses menentukan kebutuhan tenaga kerja dan
berarti mempertemukan kebutuhan tersebut agar pelaksanaannya berintegrasi dengan
rencana organisasi. Selain itu,perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan
tenaga kerja dapat diartikan sebagai suatu proses menentukan kebutuhan akan
tenaga kerja berdasarkan peramalan, pengembangan, pengimplementasian, dan
pengontrolan kebutuhan tersebut yang berintegrasi dengan rencana organisasi
agar tercipta jumlah pegawai, penempatan pegawai secara tepat dan bermanfaat
secara ekonomis.
Perencanaan sumber daya manusia bertujuan supaya organisasi
memiliki tenaga kerja atau pegawai yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan
organisasi tersebut dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, akan tetapi juga
agar para pegawai yang dipekerjakan itu memenuhi berbagai persyaratan yang
ditentukan untuk jabatan dan pekerjaan yang akan dipangku dan dilaksanakannya.
Selanjutnya ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan
dalam perencanaan sumber daya manusia, yaitu :
a.
Tujuan
Tujuan perencanaan sumber daya
manusia adalah menghubungkan sumber daya manusia yang ada untuk kebutuhan
perusahaan pada masa datang.
b.
Perencanaan Organisasi
Merupakan aktivitas yang
dilakukan perusahaan untuk mengadakan perubahan yang positif bagi perkembangan
organisasi.
Perencanaan sumber daya manusia hanya akan terselenggara
dengan baik apabila bentuk, jenis dan sifat, serta intensitas tantangan
tersebut dipahami dengan tepat. Hasil analisis berbagai tantangan itu harus
tercermin dalam suatu peta kebutuhan sumber daya manusia untuk satu kurun waktu
tertentu di masa depan.
2.
Perencanaan dan Pengembangan
Karier
Yang dimaksud dengan karier ialah sekusensi kedudukan atau
jabatan yang dipangku oleh seseorang dalam kehidupan kekaryawanannya, dimulai
sejak ia pertama kali diangkat sebagai pegawai tetap hingga ia mencapai usia
pensiun setelah mana yang bersangkutan meninggalkan “panggung” kekaryawanannya.
Kemajuan dalam karier seseorang tidak terjadi dengan
sendirinya. Karier perlu direncanakan dan dikembangkan. Pengalaman banyak orang
menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk merencanakan dan mengembangkan karier
seseorang pegawai berada di pundak tiga pihak, yaitu pegawai yang bersangkutan
sendiri, atasan langsung, maupun petugas atau pejabat dari satuan kerja yang
mengelola sumber daya manusia dalam organisasi.
Agar meraih kemajuan dalam karier, seorang pegawai tentunya
harus menampilkan kemampuan dan produktivitas kerja yang semaksimal mungkin
disamping menunjukkan perilaku yang positif dalam berpikir dan bertindak.
Hasil positif yang diharapkan diperoleh dengan adanya perencanaan
karier yang mantap antara lain kegairahan bekerja di kalangan para anggota
organisasi karena mereka mengetahui bahwa apabila mereka mampu memenuhi
persyaratan kepegawaian dengan baik, termasuk prestasi kerja seperti yang
diharapkan oleh organisasi, karier akan terjamin.
3.
Perencanaan Kebutuhan
Telah dimaklumi bahwa perencaan merupakan kegiatan
pengambilan keputusan sekarang mengenai hal-hal yang akan dilakukan di masa
depan. Telah diketahui pula bahwa dalam menyusun suatu rencana yang baik, enam
pertanyaan yang perlu terjawab secara meyakinkan ialah apa, dimana, bilamana,
bagaimana, siapa, dan mengapa.
Diterapkan dalam perencanaan kebutuhan logistik,
definisi dan konsepsi tentang perencanaan diatas berarti bahwa yang diperlukan
oleh suatu organisasi dalam hal sarana dan prasarana tertentu harus berkaitan
langsung dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian berbagai
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan strategi yang
telah dirumuskan.
Dengan perkataan lain, logistik yang dibituhkan harus
menjamin bahwa penyelenggaraan semua jenis fungsi organisasi-baik yang sifatnya
fungsi utama maupun fungsi penunjang-berlangsung dengan lancar, efisian dan
efektif.
Bentuk jenis, mutu dan jumlah kebutuhan tersebut akan
dapat diketahui dengan lebih jelas apabila dikaitkan dengan jawaban terhadap
enam pertanyaan yang telah dikemukakan diatas.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perencanaan merupakan suatu cara atau
metode-metode yang sistematis guna mencapai tujuan tertentu pada waktu yang
akan datang. Pada umumnya, suatu rencana yang baik
berisikan atau memuat enam unsur, yaitu: the what,
the why, the where, the when, the who, dan the how. Perencanaan dapat diaplikasikan dalam sebuah organisasi
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, misalnya untuk membangun budaya
organisasi yang efektif.
Budaya
organisasi yang efektif memiliki paling sedikit dua sifat, yaitu:
a. Kuat
(strong) artinya budaya tersebut
mampu mengikat dan mempengaruhi perilaku individu pelaku organisasi untuk
menyelaraskan tujuan individu dan kelompoknya dengan tujuan organisasi, serta
mampu mendorong para pelaku organisasi untuk memiliki goals, objectives,
persepsi, perasaan, nilai, dan kepercayaan, interaksi sosial, dan norma-norma
bersama sehingga mereka mampu bekerja dan mengekspresikan potensi mereka dalam
arah dan tujuan yang sama.
b. Dinamis
dan adaptif, artinya budaya tersebut fleksibel dan responsive terhadap dinamika
lingkungan internal dan eksternal organisasi yang demikian cepat dan komples.
Beberapa
strategi yang perlu disiasati dan ditempuh para pelaku organisasi sebagai upaya
membangun budaya organisasi yang kuat, adaptif, dan transformative antara lain:
4. Merekrut
dan mengembangkan pola kepemimpinan yang transformasional (transformational leadership)
5. Mendesain
kembali strategi manajemen sumber daya manusia (SDM) yang berbasis pada budaya
perusahaan.
6. Mendesain
kembali strategi system usaha dan strategi bersaing perusahaan agar sesuai
dengan trend lingkungan stakeholders
dan pergeseran paradigm dari variabel-variavel mega-environment.
7. Mendesain
kembali strukutur organisasi yang memisahkan tugas dan tanggung jawab
structural atau fungsional secara jelas dan tegas.
8. Merancang
bangun kembali system manajemen dan system pengendalian yang berbasis pada shared values budaya perusahaan.
9. Perusahaan
perlu memberikan perhatian serius terhadap isu diversity and multiculturalism karena isu-isu tersebut berpengaruh
kuat terhadap keberhasilan kinerja suatu perusahaan.
B.
Saran
Dalam
sebuah organisasi untuk pencapaian tujuannya perlu adanya suatu langkah yaitu
melalui Perencanaan. Suatu rencana yang baik berisikan atau memuat enam unsur,
yaitu: the what, the why, the where, the when,
the who, dan the how. Kunci utamanya berada pada leader
yang harus mampu meminimalisir hambatan-hambatan dalam sebuah perencanaan yang
telah dikemukakan di atas.
Untuk
membangun budaya perusahaan yang ampuh, adaptif, dan transformasional, para
leader perlu menggali kembali nilai-nilai individu atau kelompok SDM dan
nilai-nilai organisasional. Kemudian kedua nilai tersebut dirumuskan menjadi shared
values, dengan menggunakan pendekatan participatory. Artinya, pendekatan yang
bersifat top-down (leader berinisiatif melakukan perubahan dan memimpin proses
perubahan) dan bersifat bottom down (leader berinisiatif melakukan proses
perubahan atau pembaharuan dengan melibatkan partisipasi atau datang dari
anggota organisasi pada level bawah).
DAFTAR PUSTAKA
A.B Susanto, dkk. (2006). Strategi Organisasi.Yogyakarta: Amara
Books.
Handayaningrat, Soewarno. (1990). Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan
Manajemen.Jakarta: CV. Hajimas Agung.
John. M. Ivancevich. (2007).
Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Lako, Andreas. (2004). Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi.
Yogyakarta: Amara Books
Mangkunegara, Anwar Prabu. Manajemen
Sumber Daya Manusia Perusahaan. 2004. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sabardi, Agus. (2001). Manajemen
Pengantar.Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Siagian, Sondang. Kerangka dasar ilmu administrasi. 2001. Jakarta : PT Rineka Cipta
Wirawan. (2008). Budaya dan Iklim Organisasi. Jakarta:
Salemba Empat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar