Jumat, 01 November 2013

LITOSFER



LITOSFER



Disusun Oleh:
1.      Devi Wakhyuningtiyas           : 12416241051
2.      Imna Layinatusifa                   : 12416241054
3.      Susi Hartini                             : 12416241063
4.      Erny Nuraini Yenianarti          : 12416241065
5.      Nuzlul Ramdhan Galih S        : 12416244005
6.      Nur Cholik                              : 12416244006


PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Litosfer ialah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di lautan ) yang terdiri dari pegunungan, gunung,dataran tinggi ,perbukitan,dataran rendah , canyon,lubuk dan lain-lain. Litosfer mencakup lempeng bumi (crust) dan bagian paling atas dari mantel bumi (astenosfir). Keberadaan litosfer yang kokoh diatas lapisan yang cair liat yang dapat menyebabkan litosfer bergerak merupakan inti dari teori tektonik lempeng.
            Seorang geograf diharapkan memahami litosfer ini karena peranannya dalam pembentukan muka bumi sebagai tempat kehidupan manusia dan mempengaruhi karakteristik manusia yang menghuninya. Mengapa kondisi litosfer berbeda dengan permukaan bumi? Itu disebabkan karena,pertama material batuan sebagai penyusun bumi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Kedua proses-proses yang terjadi pada litosfer akibat tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) dan dari luar bumi (eksogen) berbeda.
            Tenaga endogen berperan membangun bentuk muka bumi atau mengadakan kenampakan baru, sedangkan tenaga eksogen lebih bersifat merusak bentuk muka bumi yang dibangun oleh tenaga endogen. Litosfer tersusun atas lempeng-lempeng (plates) yang saling bergerak, yakni lempeng benua dan lempeng samudra.
            Peran tanah pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara dan nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial) dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi).Untuk itu  perlu mempelajari dan membahas materi tentang litosfer sebagai pembentuk permukaan muka bumi.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa pengertian litosfer?
2.      Bagaimana proses pembentukan muka bumi?
3.      Bagaimana pergerakan lempeng?
4.      Apa saja aspek-aspek pembentuk litosfer?


C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan beberapa pokok tujuan pembahasan yaitu :
1.      Mengetahui pengertian litosfer
2.      Mengetahui proses pembentukan muka bumi
3.      Mengetahui bagaimana pergerakan lempeng
4.      Mengetahui aspek-aspek pembentuk litosfer









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Litosfer
            Litosfer adalah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di lautan) yang terdiri dari pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah, canyon, lubuk dan lain-lain. Seorang geograf diharapkan memahami litosfer ini karena peranannya dalam pembentukan muka bumi sebagai tempat atau ajang kehidupan manusia
B.     Proses Pembentukan Muka Bumi oleh Tenaga Endogen
            Dalam proses perkembangan lapisan kerak bumi, kekuatan yang berasal dari dalam perut bumi  dapat mengakibatkan terjadinya proses-proses geologis. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya. Proses pembentukan muka bumi ini disebut proses endogen, yang meliputi perambatan magma ke lapisan kerak bumi, keluarnya magma ke permukaan bumi dari dalam perut bumi, gerakan-gerakan tektonik dari lapisan kerak bumi yang mengakibatkan terjadinya peninggian permukaan secara perlahan dan perubahan-perubahan dari beberapa tempat guncangan-guncangan yang kuat yang kadang-kadang sangat berbahaya di beberapa tempat di Bumi serta gangguan di lapisan batu yang horizontal.

1.        Gerakan Batu Api ( Igneous Activity)
Bumi adalah suatu figur yang padat dengan keseimbangan thermodinamik ( thermodynamic equilibrium). Keseimbangan terjadi akibat proses perkembangan Bumi. Gangguan terhadap keseimbangan thermodinamik ini dimanapun di bumi, ( misal: turunnya tekanan atau naiknya temperatur) dengan cepat mentransformasikan massa bumi di tempat yang terkena gangguan, dari padat menjadi cair. Transformasi ini disertai dengan pertambahan volume secara kolosal dank arena mengalirnya massa silikat (magma) yang panas ke daerah kerak bumi yang lemah, maka permukaan daerah tersebut kadang_kadang menjadi tinggi.
Proses pembentukan magma terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km, di mana temperature (1.200 – 1.400) melampui titik cair batu-batuan. Magma tersebut  di desak menuju ke permukaan, berkurang unsur-unsur gas dalam magma secara tetap tentu dilepaskan melalui suatu rangkaian letupan-letupan, proses ini merupakan suatu manifestasi yang cepat dari kegiatan letupan gunung berapi.

2.      Gerakan Batu Api Intrusif
Pada kegiatan vulkanis yang bersifat intrusif, magma memasuki lapisan kerak bumi membentuk lapisan-lapisan magmatis atau intrusi-intrusi di dalamnya. Tipe-tipe intrusi yaitu :
a.      Batholith
Lapisan benda-benda magmatis yang tidak beraturan dengan sisi-sisi curam. Lapisan terbentuk ketika magma membeku di kedalaman yang lumayan di bagian tengah dari daerah yang berlipat-berlipat.
b.      Stock
Lapisan benda-benda magmatis yang lebih kecil dari lapisan batholiths (kurang dari 100 km2) tetapi mempunyai kondisi pembentukan, bidang, dan komponen batu yang sama.
c.       Laccolith
Lapisan benda-benda magmatis yang berbentuk seperti kubah dengan permukaan yang cenbung dan dasar yang datar.
d.      Fissured instrusions
Intrusi-intrusi yang merupakan jalur-jalur panjang terbentuk ketika magma memasuki rekahan-rekahan lapisan batu-batuan menjauhi lapisan-lapisan intrusive yang besar.
e.       Sheet vein
Lapisan-lapisan intrusive yang besar yang dapat dilacak di wilayah-wilayah yang luas dan terdapat di antara lapisan-lapisan batu-batu di sekitarnya yang berselaras dengan batu-batu tersebut.

3.      Gerak Batu Api Effusif atau Vulkanisme
Letusan gunung berapi adalah salah satu fenomena alam yang paling menakutkan. Kalau kita berbicara tentang gunung berapi maka secara umum kita akan bertanya apakah gunung tersebut masih aktif atau tidak, tetapi pembagian aktif ini semata-mata bersifat konvensional. Banyak terjadi peristiwa di man gunung berapi yang secara tidak terduga menjadi aktif setelah periode “tidur” selama berabad-abad; dalam masa berabd-abad ini lereng-lerengnya telah ditumbuhi oleh hutan-hutan dan kawahnya telah berubah menjadi danau. Pada kenyataannya gunung berapi tersebut dianggap tidak aktif lagi hanya karena tidak ada informasi mengenai kegiataannya sampai ke tangan kita. Gunung-gunung api yang dianggap aktif adalah gunung api yang bererupsi secara berkesinambungan atau yang telah pernah meletus menurut perjalanan sejarah.
4.      Pergerakan Lapisan Kerak Bumi
Lapisan kerak bumi melakukan gerakan yang konstan akibat aksi kekuatan dari dalam perut bumi. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya peninggian dan penurunan permukaan tanah, penekanan terhadap lapisan-lapisan hingga membentuk lipatan-lipatan dan pemecahan lapisan-lapisan batu-batu.
Pergerakan ini timbul disebabkan kekuatan tektonik, yang aktivitasnya menimbulkan perubahan-perubahan yang esensial dalam struktur lapisan kerak bumi. Aktivitas yang bersumber dari tenaga alam bumi dapat dilihat dalam beberapa cara, di antaranya yang paling populer dan berbahaya adalah aktivitas tenaga dalam bumi yang menimbulkan gempa bumi yang dapat diamati dan dipelajari secara langsung.
a). Gempa bumi
Gempa bumi dapat menghancurkan daerah-daerah luas, menelan korban jiwa dan memporak-porandakan kota-kota besar dan kecil.
1.      Asal Mula Terjadinya Gempa Bumi.
a.     Fall Earthquake (gempa bumi runtuhan)
Terjadi akibat runtuhnya batu-batu raksasa dari sisi-sisi gunung, atau akibat runtuhnya gua-gua besar. Radius getarannya tidak begitu terasa.
b.      Vulcanic Earthquake (gempa bumi vulkanis)
Terjadi akibat aktivitas gunung berapi. Dalam banyak peristiwa, gempa bumi ini mendahului erupsi gunung berapi, tetapi lebih sering mereka terjadi secara bersamaan. Getaran gempa vulkanis lebih terasa ketimbang getaran gempa runtuhan, di mana getarannya terasa di daerahnya yang lebih luas.
c.       Tectonic Earthquake (gempa bumi tektonik)
Gempa ini terjadi diiringi oleh proses pembuatan lapisan gunung-gunung dan pegunungan. Gempa tektonik paling sering terjadi.
2.      Pergerakan Kerak Bumi Selama Gempa Bumi.
a.       Gelombang Longitudinal
Menimbulkan getaran gelombang gempa yang sangat cepat bergerak, dengan laju kecepatan 7 atau 8 km per detik pada lapisan batu yang padat.
b.      Gelombang Transversal
Laju kecepatan gelombang transversal kira-kira setengah laju kecepatan gelombang longitudinal. Oleh karena itu gelombang longitudinal lebih dahulu mencapai episentrum dan yang lebih dahulu tercatat oleh seismograph. Tingkat dan sifat kerusakan yang ditimbulkan goncangan gempa di permukaan bumi dan terhadap bangunan-bangunan diatasnya, tergantung pada arah gelombang.
3.      Pendeteksiaan Adanya Gempa Bumi.
Percobaan-percobaan telah dilakukan untuk menggunakan peralatan khusus untuk mendeteksi akan adanya gempa bumi. Hasil yang cukup memuaskan telah dicapai dengan alat tiltmeter, yang mengatur dengan sangat tepat bertambahnya tanah-tanah yang mengalami penurunan. Pada setiap tempat di permukaan bumi, turunnya permukaan tanah secara horizontal berubah-ubah secara berkesinambungan. Perubahan ini berlangsung secara lambat, tetapi akan dipercepat persis sebelum gempa bumi terjadi.
4.      Gempa Laut.
Goncangan-goncangan seismik kadang terjadi di dasar samudra. Goncangan-goncangan yang menimbulkan tsunami mencapai ketinggian beberapa puluh meter dan menimbulkan kerusakan besar ketika mendekati pantai.
b). Pergerakan Epirogenik
Gerakan-gerakan epeirogenik meliputi wilayah yang luas dari lapisan kerak bumi. Mereka lambat dan hanya dapat dideteksi dalam observasi yang memakan waktu bertahun-tahun. Contohnya, perubahan-perubahan posisi garis pantai ditinjau dari tinggi permukaan air laut. 
c). Pergerakan Folding dan Repturing
1.      Lapisan Batu yang Rapuh dan yang Tidak Rapuh
Batu-batu yang merupakan komposisi dari bagian teratas dari lapisan kerak bumi umumnya tersusun dalam suatu rangkaian susunan berlapis-lapis yang telah terbentuk terlebih dahulu terutama di basin-basin berair. Dalam suatu formasi berlapis-lapis, tiap-tiap lapisan dipisahkan dari lapisan-lapisan lainnya oleh suatu bidang stratifikasi atau bidang pemisah. Bidang bawah suatu stratum disebut kaki lapisan (foot) sedang bidang atas disebut lapisan roof.
Ketika dulu terbentuk, lapisan battu-batu endapan terletak di atas dasar basin secara horizontal. Dalam susunan yang berlapis-lapis semacam itu, lapisan-lapisan terletak saling tumpang tindih. Bila kondisi dari proses pengendapan konstan, bidang-bidang pemisah lapisan akan tersusun sejajar satu dengan yang lainnya, dengan demikian lapisan-lapisan kana terlihat lebih harmonis.
Jika susunan lapisan terletak sejajar antara satu sama lain dan tidak ada spasi antara lapisan yang satu dengan yang lain, maka kita akan menjumpai suatu keadaan yang disebut stratograph unconformity. Misalnya, endapan batu-batui di laut yang terbentuk pada masa Jurassic, langsung terletak sesudah lapisan endapan batu-batu yang terbentuk pada masa Devonian; seandainya pembentukan lapipsan-lapisan telah secara harmonis maka lapisan-lapisan yang terjadi setelah lapisan Devonian, berturut-turut lapisan Carboniferous – Permian – Triassic, baru lapisan Jurassic.
2.      Dislokasi peretakan (ruptured dislocations)
Dislokasi ini terjadi ketika pecahan atau retakan yang panjangnya mulai dari beberapa mm sampai beberapa puluh bahkan ratusan km; lapisan pada sepanjang retakan atau pecahan sering terpisah. Bidang-bidang permukaan yang membelah lapisan disebut fault crevice dan itu bias vertical atau miring. Strata bias terbelah sejajar dengan faulth crevice mulai dari  lapisan foot  sampai lapisan roof taupun sebaliknya. System retakan-retakan yang pararel  jarang terjadi. System retakan membelah dari atas ke bawah maupun yang sebaliknya. Hal ini  mengakibatkan timbulnya tonjolan-tonjolan permukaan yang disebut horst dan permukaan cekung disebut graben.
3.      Dislokasi Lipatan
Dalam banyak kejadian, strata melengkung naik turun seperti riak ombak dan membentuk lipatan-lipatan (fold). Ukuan dari lipatan-lipatan ini sangat bervariasi. Suatu fold memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
a.       Limb, dua permukaan yang kurang lebih rata membatasi fold.
b.      Curve, bidang atas yang melengkung menghubungkan dua limb.
c.       Fold bend, garis yang melewati titik-titik puncak (tempat-tempat tertinggi pada puncak suatu fold).
d.      Fold angle, sudut antara bidang-bidang yang diperpanjang dari garis-garis fold bend sampai ke tempat dimana mereka saling berpotongan.
e.       Axial surface, permukaan yang melintasi semua lapisan pada bidang fold yang melengkung dan membagi fold angle menjadi dua bagian.
f.       Fold axis, garis disepanjang axial surface dan fold memotoong permukaan bumi.
C.     Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng memiliki peran dalam proses pembentukan litosfer. Pergerakan lempeng terjadi dalam beberapa kemungkinan, tetapi secara garis besar pergerakan lempeng diklasifikasikan menjadi 2, yaitu gerakan konvergen dan divergen. Gerakan konvergen adalah gerakan lempeng-lempeng saling bertemu. Gerakan divergen adalah gerakan lempeng-lempeng yang saling menjauh atau saling meninggalkan.
a.       Gerakan konvergen
Gerakan konvergen dibedakan menjadi 3  macam, yaitu konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng samudera, konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng benua, dan konvergensi antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.
1.      Konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng samudera.
Konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng samudera merupakan peristiwa yang sering kali menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya langsung dirasakan. Kedua jenis lempeng ini memiliki sifat yang berbeda. Lempeng samudera karena memiliki berat jenis yang berbeda maka ketika terjadi konvergensi (tumbukan),maka lempeng samudera menyelusup ke bawah lempeng benua.
Tumbukan lempeng ini menyebabkan bagian lempeng samudera yang menyelusup mengalami gesekan yang suhunya sangat panas. Suhu yang panas ini menyebabkan batuan penyusun lempeng samudera menjadi cair liat. Batuan yang cair liat mengalami tekanan yang kuat karena dorongan lempeng yang menyelusup tersebut menyebabkan meterial cair liat ini berusaha mencari jalan ke luar. Jalan keluar ini dapat melalui lubang kepundan gunung api (vulkan) atau bila lapisan batuan di atasnya lemah akan menembus lapisan batuan tersebut, sehingga dapat membentuk gunung api baru.
Tumbukan lempeng ini memiliki intensitas yang berbeda-beda. Pada tumbukan dengan intensitas tinggi menghasilkan energi getaran yang besat yang dikenal dengan istilah gempa bumi (earthquake), sehingga dapat menggoncang-goncang permukaan bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Gerakan lempeng terjadi terus menerus, sehingga kemungkinan terjadi gempa pun terus menerus. Saat kemarin di Pulau Jawa, di hari lain mungkin terjadi di tempat lain. Di daerah yang merupakan pertemuan dua lempeng, maka frekuensi gempa akan lebih sering terjadi. Daerah-daerah yang memiliki kemungkinan gempa dengan frekuensi tinggi antara lain, sepanjang pantai barat Sumatera, sepanjang selatan Pulau Jawa, Bali.
2.      Konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng benua.
Tumbukan lempeng benua dengan benua yang lain memiliki berat jenis yang sama-sama ringan menyebabkan lempeng benua ini naik. Lempeng benua ini pada bagian atasnya kemungkinan melengkung atau melipat, sehingga dapat terbentuk gunung atau pegunungan. Pegunungan ini berbeda dengan pegunungan yang terbentuk oleh tumbukan lempeng benua dengan lempeng samudera yang menghasilkan gunung api. Pada konvergensi lempeng benua dengan lempeng benua, gunung yang dihasilka bukan merupakan gunung api, karena tidak terdapat sumber magma yang berasal dari gesekan lempeng yang menghujam dan menjadi cair liat.
3.      Konvergensi antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.
Konvergensi antara lempeng samudera dengan lempeng samudera dapat menyebabkan salah satu lempeng yang lebih tebal atau berat menghujam ke bawah masuk ke zona astenosfera sehingga terdapat bagian lempeng yang menjadi cair liat karena suhu yang sangat tinggi. Karena peristiwa ini terjadi di tengah laut, maka bila batuan cair liat ini mendesak ke bagian atas terbentuk gunung api bawah laut. Gunung api bawah laut ini meletus dapat menimbulkan gelombang Tsunami.
b.      Gerakan divergen
1.      Divergensi antara lempeng benua dengan lempeng benua.
Gerekan antara dua lempeng benua yang saling meninggalkan ini dapat menyebabkan terjadinya celah atau jurang yang dalam. Bila celah tersebut dimasuki oleh air, maka celah tersebut akan menjadi tubuh perairan, pemisah antara 2 daratan.
2.      Dinvergensi antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.
Jenis divergensi ini akan menyebabkan terdapatnya area di samudera  yang kosong (rongga). Rongga ini dapat berupa palung laut yang sangat dalam. Pada peristiwa divergensi ini dapat menyebabkan terjadinya tsunami, karena rongga yang kosong dapat menyedot air dari bagian lain secara tiba-tiba sehingga pertemuan arus air tersebut menghasilkan energi yang besar dan lain.
Pergerakan lempeng baik yang konvergen maupun divergen terjadi secara terus menerus karena energi panas konveksi dialirkan terus menerus. Oleh karena itu, posisi berbagai benua (lempeng benua) yang selalu berinteraksi dengan lempeng-lempeng lainnya, tidak tertutup kumungkinan selalu berubah. Lempeng-lempeng penyusun litosfer ini saling berhimpit, sehingga bila salah satu bergeser lempeng yang berdekatan akan ikut bergeser. Karena adanya pergeseran lempeng ini juga memungkinkan dampak dari gerakan lempeng akan dirasakan oleh manusia sebagai penghuni litosfer. Hal penting yang harus diantisipasi oleh manusia sebagai penghuni adalah mengurangi dampak yang mungkin timbul, karena gempa bumi yang sering sebagai sebuah bencana tidak dapat dicegah oleh manusia.

D.    Proses Pembentukan Muka Bumi oleh Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen merupakan tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi yang berpengaruh terhadap pembentukan relief muka bumi. Pada umumnya bentuk muka bumi yang telah di bangun oleh tenaga endogen di rusak oleh tenaga eksogen. Tenaga eksogen dapat berupa radiasi matahari, air, angin, gletser, dan makhluk hidup.
1.      Radiasi matahari
Pada saat siang hari radiasi matahari tinggi sehingga udara terasa panas. Sedangkan pada malam hari pengaruh radiasi matahari sangat kecil sehingga terasa dingin. Pada saat siang hari terjadi pengembangan batuan karena suhunya panas, sedangkan pada malam hari terjadi pengkerutan batuan karena suhunya dingin. Akibat pengembangan dan pengkerutan batuan yang terjadi secara terus menerus menyebabkan batuan menjadi pecah, peristiwa seperti ini disebut pelapukan mekanik. Tipe pelapukan seperti ini dominan terjadidi daerah arid; karena di daerah ini pada saat siang hari terasa sangat panasdan malam hai terasa dingin. Sebenarnya proses pelapukan tidak secara langsung merubah bentuk relief muka bumi.
a.    Pelapukan Batu
Pelapukan atau weathering adalah suatu istilah untuk menggambarkan suatu proses yang merupakan gabungan dari proses-proses mekanik (fisika), kimia, dan biologis (organic) yang terjadi di permukaan bumi, yang juga merupakan akibat adanya pengambangan (perbedaan tinggi rendah) temperature udara, pembekuan air, aksi dan reaksi oksigen dan karbondioksida di udara, pengendapan penguapan atmosfer (curah hujan) dan aksi-aksi dan reaksi asam-asam organic di permukaan dan di dalam tanah.
1). Pelapukan Mekanik (Fisika)
Disebabkan adanya perubahan temperature mineral-mineral dan batu-batu yang mana perubahan temperature tersebut disebabkan oleh pengembangan-pengembangan suhu udara dan juga karena mendapat panas langsun dari matahari. Mineral dan batu akan memuai kalau dipanaskan, dan menciut (menyusut) kalau didinginkan. Sebenarnya pemuaian dan penyusutan tidak terlalu berarti tetapi jika hal tersebut terjadi secara konstan dan berulang-ulang dalam kurun waktu ratusan atau ribuan tahun, dampaknya akan sangat terasa, ikatan antara molekul-molekul dalam batu secara bertahap menjadi rapuh; semakin besar molekul semakin cepat ikatan antara mereka merapuh karena molekul-molekul yang lebih halus pemuaiannya tidaklah sebesar molekul yang besar.
2). Pelapukan Kimia
Uap-uap dan gas-gas yang beraksi di udara dan sinar matahari mengakibatan perubahan kimia terhadap komposisi mineral dan batu-batu. Uap air yang berkondensasi menjadi cairan mengandung berbagai jenis unsure dalam larutan, yang mnambah kecairan larutan-larutan mineral. Kelembaban yang kaya akan asam-asam organic bukan hanya bahan pelarut, tetapi juga menstimulir terjadinya proses-proses seperti hydrolisasi dan oksidasi.
3). Pelapukan Bilogis dan Organis
Kehadiran mokroorganik di lapisan-lapisan paling atas dipermukaan bumi menambah intensitas reaksi-reaksi kimia. Menurut V.I. Vernadsky, Feldspar menyerah kepada pelapukan hanya apabila bakteri berperan serta dalam pelapukan tersebut. Bila hanya air dan oksigen yang menjadi dalang pelapukan, hampir tidak mempan bagi Feldspar. Organisme mengubah batu-batu secara kimia dan mekanik. Lichens dan lumut-lumut hidup di prmukaan batu, mengambil unsur-unsur sari makanan dari permukaan batu sehingga mereka merusak permukaan batu trsebut. Akar tanaman juga merusak lapisan tanah dan batu-batuan secara mekanik dan kimia. Semut dan cacing tanah juga turut merusak.
2.      Air
Di daerah tropis seperti di Indonesia tenaga eksogen yang berupa air mempunyai peranan cukup besar. Daerah ini banyak terjadi hujan dengan itensitas yang cukup tinggi. Tetesan air hujan yang jatuh secara terus-menerus mampu memecahkan agregat tanah. Gerakan geologis air di permukaan tanah
Curah hijan dan salju yang turun dari lapisan atmosfer dan juga air yang datang dari sumber-sumber mata air mengalir di permukaan bumi dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah; menjalankan fungsi geologis dalam perjalannya.Kita bedakan sekarang aksi gerakan air yang mengalir di permukaan bumi tetapi tidak dalam saluran-saluran tertentu (bidang erosi atau proses deluvial) dengan aksi gerakan air yang mengalir di permukaan bumi dalan saluran-saluran tertentu yaitu arus-arus air dan sungai (erosi linear atau proses erosife).
a.     Proses Deluvial
Semakin curam permukaan lereng dimana air mengalir dan semakin banyak air hujan yang diperolehnya maka semakin kuat kekuatan yang menggerakan arus air tersebut dan aksi air itupun semakin kuat pula. Aksi air ini termasuk mengikis dan membawa hasil-hasil pelapukan dan partikel-partikel dari batu-batu yang agak lunak seperti tanah liat marl, yang membentuk lembah-lembah. Partikel-partikel ini bergerak menusuri lereng dan masuk kerongga (lubang). Suatu lereng kadang-kadang menurun langsung menuju sesuatu aliran air (sungai) yang mana dalam hal ini partikel-partikel yang terbawah oleh air lereng tadi masuk ke sungai dan terbawa jauh. Tetapi biasanya lereng-lereng seperti ini datar dasarnya dimana kecepatan arus air menurun. Terbentuklan endapan-endapan unsur-unsur. Jika sungai terletak jauh dari kaki lereng air yang mengalir di atas lereng ini mungkin tidak akan mencapainya sehingga dalam peristiwa ini unsure-unsur mengendap pada dasar lereng. Arus air yang mengalir diatas permukaan lereng tetapi tidak bermuara ke sungai-sungai akan mengakibatkan unsur-unsur yang terkikis mengendap didasar aliran air tersebut inilah yang disebut istilah proses deluvial dan unsure yang mengendap disebuut diluvium.
b.    Erosi
Aliran air di permukaan tanah sebagai akibat adanya hujan akan mampu mengikis batuan atau tanah yang di lalui air tersebut, peristiwa seperti ini disebut dengan erosi.
3.      Angin
Pengaruh aktivitas angin terhadap bentuk muka bumi sangat Nampak di daerah arid. Angin yang bergerak dengan kencang akan mampu membawa debu dan pasir sehingga mengikis batuan yang diterpanya. Oleh karena itu banyak batuan berbentuk cendawan di daerah gurun atau arid. Disamping tu pasir dan debu yang terbawa angis akan diendapkan di suatu tempat dalam bentuk gumuk pasir (bukit pasir). Peristiwa ini disebut dengan istilah erosi dan sedimentasi.
a.       Gerakan Geologis Angin
Kekuatan efektif dari angin yang berhembus tergantung kepada kecepatannya.Angin yang berhembus dengan kecepatan beberapa cm/detik,sudah cukup kuat menerbangkan debu.Suatu tiupan angin yang berhembus dengan kecepatan rata-rata yang lebih kuat dapat memindahkan batu-batuan dengan ukuran diameter beberapa sentimeter dari tempatnya semula.
b.      Deflasi dan korasi
Korasi dan deflasi adalah dua proses yang saling behubungan dan saling melengkapi.Intensitas korasi tidaklah sama pada setiap tempat,dan tergantung kepada bobot kekerasan batu-batu tersebut,ukuran molekul,dan susunan unsur-unsur dalam batu tersebut,keadaan perekatan dan lapisan serta faktor-faktor lainnya.
4.      Gletser
Merupakan bongkahan-bogkahan es yang mluncur dari lereng pegunungan ketempat yang lebih rendah. Selama dalam prjalanan meluncur ke bawah, gletser mengukis batuan atau tanah yang dilaluinya dan kemudian diendapkan di tempat tertentu. Endapan yang berbentuk disebut dengan moraine atau glacial till.
5.      Makhluk Hidup
Makhluk hidup yang berupa hewan maupun tumbuhan dapat menjadi penyebab lapuknya suatu batuan, sehingga batuan mnjadi hancur dan diangkut oleh angin maupun air dan mengendap di suatu tempat. Contoh makhluk hidup yang dapat menghacuran batuan adalah semut dan rayap, saat membuat lubang rumahnya. Juga tumbuhan, yang akarnya dapa memecah batuan.
E.     Aspek-Aspek Litosfer
Dalam litosfer dapat dipelajari tentang batuan, tanah, pegunungan, dataran tinggi, bukit, dan dataran rendah. Dalam makalah ini akan membahas salah satu aspek dari litosfer yaitu tanah.
1.      Perkembangan dan Pengertian Tanah
Pada mulanya tanah dipandang sebagai lapisan permukaan bumi (natural body)yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural dorce), sehingga membentuk regolit (lapisan berpartikel). Dinamika dan evoilusi alam ini terhimpun dalam devinisi bahwa tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak di permukaan bumi, yang telah dan akan mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor  genetik dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme (makro dan mikro) dan topografi pada suatu periode tertentu.
Tanah pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara dan nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial) dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut  dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
            Atas definisi diatas tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu:
1.      Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
2.      Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktifitas metabolismenya, baik selama pertumbuhan maupun untuk reproduksi, meliputi air, dan udara dan unsur-unsur hara
3.      Penyedis kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktifitasnya supaya berlangsung optimum.
4.      Habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tidak langsung dalam penyedia kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karenba merupakan hama-penyakit tanaman.
2.      Profil Tanah
Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah (regolit), yang biasanya terdiri dari horizon-horizon O-A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut Solum Tanah, horizon O-A disebut lapisan tanah atas dan horizon E-B disebut lapisan tanah bawah.
Kegunaan langsung dari profil tanah antara lain untuk mengetahui:
a.       Kedalaman lapisan olah atau solum tanah yang merupakan indikator potensi kedalaman akar tanaman untuk berpenetrasi.
b.      Kelengkapan atau differensiasi horizon pada profil tanah merupakan indikator umur tanah atau proses-proses pembentukan (genesis) yang telah dilaluinya.
c.       Warna tanah merupakan indikator sifat alami tanah.
3.      Komponen Tanah
Tanah mineral yang dapat berfungsi sebagai media tumbuh ideal secara material tersusun oleh 4 komponen, yaitu bahan padatan (mineral dan bahan organik), air dan udara.
Secara alamiah proporsi komponen-komponen tanah sangat bergantung pada:
a.       Ukuran partikel penyusun tanah.
b.      Sumber bahan organik tanah.
c.       Iklim terutama curah hujan dan temperatur.
d.      Sumber air.
4.      Pembentukan dan Perkembangan Tanah
Bahan induk
Bebatuan/bahan mineral
Profil Tanah
Pada mulanya bumi dan langit diciptakan ALLAH SWT dalam satu kesatuan. Dan pada mulanya pula semua lapisan permukaan bumi berupa lempengan kontinyu berbahan mineral, kemudian selama periode yang lama (enam masa) terjadi proses-proses yang melibatkan gaya-gaya alam berupa benturan fisik dari meteor-meteor, letusan, gunung api, gempa bumi, hantaman air hujan, dan perubahan panas-dingin, sehingga lempengan ini menjadi pecah-merekah (TQS ‘Abasa:26-27), membentuk bebatuan yang kemudian terpecah membentuk partikel-partikel (regolit) yang menjadi bahan induk tanah. Hal ini perlu disadari oleh manusia bahwa proses genesis tanah (pedogenik) yang subur itu butuh waktu yang  sangat lama. Proses ini secara sederhana adalah :

                                                 Pelapukan                  Pedogenesis                                                   
a.       Bahan induk tanah dan proses pelapukan
1. Jenis dan komposisi mineral
Lapisan kerak bumi (lithosfer) tersusun oleh potensial berbagai unsur kimiawi baik yang berfungsi sebagai unsur hara tetanaman maupun yang berfungsi lain. Unsur kimiawi penyusun lithosfer yaitu : oksigen, silicon, aluminium, ferrum/besi, kalsium, natrium, kalium, magnesium, H, B, C, dll. Unsur-unsur lithosfer ini berada dalam bentuk mineral primer, sekunder, dan mineral aksesori (pelengkap), oksida-hidroksida bebas, garam-garam dan senyawa-senyawa organik komkpleks maupun sederhana. Menurut Darmawijaya (1990), mineral didefinisikan sebagai bahan alam homogen dari senyawa organik asli, yang berkomposisi kimiawi tetap dan bersusunan molekul geometris.
Berdasarkan cara pembetukannya, bebatuan dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu:
1)        Batuan beku (igneus rock) merupakan batuan yang terbentuk dari proses
solidifikasi (pembekuan) magma cair. Apabila proses pembekuan jauh berada dibawah tanah disebut plutonik (batuan dalam), jika pembekuannya terjadi di liang-liang menuju kepermukaan tanah disebut intrusi (batuan gang), dan jika pembekuan terjadi didalam tanah maka disebut ekskrusi (batuan vulkanik atau lelehan).
2)        Batuan sedimen (sedimentary rock) merupakan bebeatuan yang terbentuk dari proses konsolidasi (pemadatan) endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angin atau air dipermukaan bumi. Apabila dalam proses konsolidasi dipicu oleh proses mekanistik disebut elastik, sedangkan jika terbentuk dari endapan termasuk larutan yang berkonsolidasinya dipicu oleh proses-proses kimia disebut nonelastik.
3)        Batuan peralihan merupakan batuan beku atau batuan sedimen yang telah mengalami transformasi (perubahan rupa) akibat adanya pengaruh suhu, tekanan, cairan atau gas aktif.
Sedangkan berdasarkan silikanya (SiO2) bebatuan diklasifikasikan menjadi:
a). Batuan masam, apabila mengandung lebih dari 65% silika
b). Batuan netral (intermedier), apabila berkadar 55-65% silika
c). Batuan basa, apabila memiliki kurang dari 65% silika
2.    Proses pelapukan dan faktor-faktor pemicunya
Pelapukan merupakan proses alamiah akibat bekerjanya gaya-gaya alam baik secara fisik maupun kimiawi yang menyebabkan terjadinya pemecah-belahan, penghancur luluh lantakan dan transformasi bebatuan dan mineral-mineral penyusunnya menjadi material lepas (regolit) dipermukaan bumi.
Proses pelapukan sangat dipengaruhi oleh iklim dan tipe bebatuan, dan terjadi melalui dua mekanisme, yaitu pelapukan fisik dan pelapukan kimiawi:
a.    Pelapukan fisik
Pelapukan fisik (disintegrasi) merupakan proses mekanik yang menyebabkna  betauan masif pecah hancur terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan kimiawi sama sekali. Proses ini sngat dominan pada kondisi suhu rendah seperti di kutub atau pada kondisi suhu tinggi di padang pasir.
Proses pelapukan fisik yang dipicu oleh air dapat terjadi lewat beberapa mekanisme:
a)    Pada batuan yang talah retak, air masuk kecelah-celahnya kemudian membeku, pembekuan ini menyebabkan membeasrnya rekahan-rekahan tersebut.
b)   Hantaman butir-butir hujan dan aliran air/es menyebabkan terjadinya pengikisan dan retaknya bebatuan, menghasilkan partikel-partikel halus yang terangkut ke tempat-tempat rendah.
b.    Pelapukan kimiawi
Pelapukan atau tranformasi kimiawi umumnya merupakan proses yang menyertai proses pelapukan fisik dan menyebabkan terjadinya perubahan dalam komposisi kimiawi maupun komposisi bebatuan. Mekanisme yang terlibat dalam transformasi kimiawi meliputi: pelarutan (solubilitasi), hidratasi, oksidasi, hidrolis, reduksi, karbonatasi, asidifikasi (pengasaman)
3.    Klasifikasi bahan induk tanah
Polynov cit. Darmawijaya (1990) memilah bahan induk hsil proses pelapukan bebatuan menjadi 4 fase, yaitu:
Fase I, menghasilkan fragmen bebatuan yang telah kehilangan senyawa-senyawa berklorin-sulfur
Fase II, menghasilkan fragmen yang juga telah mulai kehilangan basa-basa (Ca, Na, K dan Mg)
Fase III, menghasilkan fragmen yang sebagian besar basa-basanya telah hilang, sehingga silika dari struktur alumino-silikatnya menjadi mobil, dan akhirnya
Fase IV, menghasilkan fragmen bentuk akhir hasil pelapukan, yang sebagian besar berupa sesquioksida
            Secara keeseluruhan proses pelapukan bebatuan menghasilkan dua macam material bahan induk yang siap diproses menjadi tanah, yaitu: bahan residual (sedimentary materials), bahan angkutan (transported materials).
a.    Bahan residual
Merupakan bahan mineral yang terbentuk dari hasil pelapukan bebatuan secara in situ (asli), sehingga mempunyai susunan kimiawi yang teargnatung sepenuhnya pada bebatuan aslinya, dan biasanya relatif miskin hara.
Jenis-jenis bahan induk ini dinamakan = bebatuan asalnya yaitu:
1.    Bahan induk batu-beku, seperti asal granit, basalt dan asal andesit
2.    Bahan induk batu sedimen, misalnya asal batua kapur, batu pasir dan asal shale
3.    Bahan induk batu alih rupa, seperti marmer, gneiss, dan asal quarsit
4.    Untuk daerah berawa, bahan organik yang aslinya terbentuk dari proses dekomposisi sisa-sisa tanaman disebut endapan atau deposit kumulosa (gambut)
b.    Bahan angkutan
Merupakan bahan hasil pelapukan yang dipindahkan dari tempat aslinya, biasanya berbentuk campuran sehingga relaatif subur.
Bahan angkutan ini berdasarkan jenis pembawanya (carrier) dipilah menjadi 4 golongan, yaitu:
1.    Angkutan air, menghasilkan endapan aluvial (sungai), endapan lakurstrin (danau) dan endapan marine (laut)
2.    Angkutan angin, menghasilkan endapan aeolian yang mebentuk butir-butir pasir (sand dunes) dan endapan loes (debu) yang terbentuk menyusul periode akhir glacial.
3.    Angkutan gravitasi (gaya berat), menghasilkan endapan kolluvial. Endapan ini biasanya terjadi didaerah pegunungan atau perbukitan.
4.    Angkutan es, menghasilkan endapan glacial, yang terangkut saat perpindahan bukit-bukit es pada musim semi.
A.  Faktor dan proses pembentukan tanah
Secara umum tanah dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
1)   Tanah endodinamomorf, yaitu tanah yang mempunyai sifat terutama yang identik dengan bahan induknya, atau terbentuk dari bahan induk residual, contohnya:
a.       Lithosol, yang terdapat di Orissa India, berwarna kuning dan terbentuk dari bahan induk kompleks granit, gneiss, dan schist.
b.      Andosol di dataran tinggi Indonesia dan Filipina
c.       Grumodol dipulai jawa
d.      Organosol (tanah gambut) dikawasan rawa-rawa pantai timur sumatra selatan.
2)   Tanah ektodinamomorf, yang mempunyai sifat-sifat tidak identik dengan bahan induknya. Contohnya tanah aluvial yang terletak di pinggiran sungai.
Kedua golongan tanah tersebut baik pembentukannya (genesis) maupun perkembangannya (diferensiasi horizon) dipengaruhi oleh 5 faktor yang bekerja secara integral dan kontinyu melalui mekannisme baik secara fisik, kimiawi maupun biologis. Korelasi antara kelima faktor ini dnegan sifat-sifat tanha yang terbentuk diformulasikan oleh Jenny (cit. Darmawijaya, 1990) sebagai berikut:
1)   Iklim
Merupakan rerata cuaca pada jangka panjang, minimal permusim atau per periode atau per tahun, dan seterusnya, sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek, misalnya harian, mingguan,dan maksimal semusim atau periode.
2)   Pengaruh curah hujan
Sebagai pelarut dan pengangkut, maka air hujan akan memengaruhi: 1) komposisi kimiawi mineral-mineral penyusun tanah, 2) kedalaman dan differensiasi profl tanah, dan 3) sifat fisik tanah. Curah hujan berkorelasi erat dengan pembetukan biomass (bahan organik) tanah, karena air merupakan komponen utama tetanaman maka kurnagnya curah hujan akan menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.
3)   Pengaruh temperatur
Perbedaan temperatur merupakn ccerminan energi panas matahari yang sampai ke suatu wilayah, sehingga berfungsi sebagai pemicu:
a)    Proses fisik dalam pembentukan liat dari mineral-mineral bahan induk tanah, dnegan mekanisme indentik proses pelapukan bebatuan yang telah diuraikan diatas
b)   Keanekaragaman hayati yang aktif, karena masing-masing kelompok terutama mikrobia mempunyai temperatur optimum spesifik, sehingga perbedaan temperatur akan menghasilkan jenis dan populasi mikrobia yang berbeda pula.
c)    Kesempurnaan proses dekomposisi biomass tanah sehingga ke mineralisasi
4)   Jasad hidup
Diantara berbagai jasad hidup, vegetasi atau makroflora merupakan yang paling berperan dalam memengaruhi proses genesis dan perkembangan profil tanah, karena merupakan sumber utama biomass atau bahan organuk tanah BOT.
5)   Bahan induk
Jenis bahan induk akan menentukan sifat fisik maupun kimiawi tanah yang terbentuk secara endodinamomorf, tetapi pengaruhnya menjadi tidak jelas terhadap tanah-tanah yang terbentuk secara ektodinamomorf. Pengaruh bahan induk sangat jelas terrlihat pada tanah-tanah muda-dewasa, namun dalam perrkembangannya terjadi proses pelapukan lebih lanjut, apabila mengalami pelindian atau erosi berat, maka pengaruh ini makin tidak jelas bahkan dapat hilang sama sekali.
6)   Topografi
Topografi merupakan perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah, termasuk perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Peran topografi falm proses genesis dan perkembangan profil tanah adalah memlalui empat cara, yaitu:
a)    Jumlah air hujan yang dapat menyerap atau disimpan oleh massa tanah
b)   Kedalaman air tanah
c)    Besarnya erosi yang dapat terjadi
d)   Arah pergerakan air yang membaha bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Empat perannya ini, maka Hardjowigeno (1993) menyimpulkan bahwa sifat-sifat tanah yang tepengaruhi meliputi:
a)    Ketebalan solum dan bahan organik pada horizon O
b)   Kadar bahan organik pada horizon O dan air tanah
c)    Warna, temperatur dan taraf perrkembangan horizon
d)   Reaksi tanah dan kadar garam mudah larut
e)    Jenis dan taraf perkembangan lapisan padas, dan
f)    Sifat bahan induk tanah
Lewat
7)   Waktu
Periode waktu pembentukan akan menentukan jenis dan sifat-sifat tanah yang terbentuk disuatu kawasan, karena waktu memberikan kesempatan kepada 4 faktor pembentukan tanah lainnya untuk memengaruhi proses-proses pembentukan tanah makin lama makin sensitif. Oleh karena itu waktu merupakan faktor pasif, semua jenis tanah yang sama tetapi berasal dari bahan induk dan iklim yang berbeda dapat mempunyai umur tidak sama atau sebaliknya, maka kematangan suatu jenis tanah tidak saja tergantung umurnya tetapi lebih tergnatung pada kelengkapan horizoltal.
Mohr dan van baren membedakan 5 fase pertumbuhan tanah, yaitu:
1)   Fase awal, dengan indikator bahan induk yang masih belum mengalami proses pelapukan, baik disintegrasi maupun dekomposisi
2)   Fase juvenil, dengan indikator bahan induk yang telah  mulai mengalami prosese pelapukan, tetapi sebagian beasr masih asli
3)   Fase viril, diindikasikan oleh optimumnya laju proses pelapukan, kebanyakan bebatuan sudah mulai pecah, minerl-mineral sekunder talah terbentuk sehingga kadar kiat meningkat
4)   Fase senil, diindikasikan oleh proses pelapukan yang telah lanjut, yaitu laju kecepatan proses yang mulai menurun, dan mineral-mineral tahan lapuk masih bertahan
5)   Fase akhir, ditandai oleh berakhirnya proses pelapukan.



























BAB III
PENUTUP
                                                              
Dari uraian pembahasan diatas dapat diambil suatu kesimpulan:
1.      Litosfer adalah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di lautan) yang terdiri dari pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah, canyon, lubuk dan lain-lain.
2.      Proses Pembentukan Muka Bumi
a.       Proses pembentukan muka bumi oleh tenaga endogen antara lain gerakan batu api (igneous activity ), gerakan batu api intrusif,gerakan batu api effusif atau vulkanisme, serta pergerakan lapisan kerak bumi.
b.      Proses pembentukan muka bumi oleh tenaga eksogen antara lain : sinar matahari,air, angin,gletser dan makhluk hidup.
3.      Pergerakan lempeng secara garis besar pergerakan lempeng diklasifikasikan menjadi 2, yaitu gerakan konvergen dan divergen.
4.      Salah satu aspek lithosfer adalah tanah, tanah sebagai lapisan permukaan bumi (natural body)yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural dorce), sehingga membentuk regolit (lapisan berpartikel)












DAFTAR PUSTAKA


Bambang Syaeful Hadi dan Suparmini.2009.Dasar-dasar Geografi.Yogyakarta
Hanafiah,Kemar Ali.2005.Dasar-dasar Ilmu Tanah.Jakarta;Raja Grafindo Persada
O.Lange dkk.1991.Geologi Umum.Jakarta;Gaya Maedia Pratama















Tidak ada komentar:

Posting Komentar