LITOSFER
Disusun
Oleh:
1. Devi
Wakhyuningtiyas : 12416241051
2. Imna
Layinatusifa : 12416241054
3. Susi
Hartini : 12416241063
4. Erny
Nuraini Yenianarti : 12416241065
5. Nuzlul
Ramdhan Galih S : 12416244005
6. Nur
Cholik : 12416244006
PENDIDIKAN
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Litosfer
ialah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di
lautan ) yang terdiri dari pegunungan, gunung,dataran tinggi
,perbukitan,dataran rendah , canyon,lubuk dan lain-lain. Litosfer mencakup
lempeng bumi (crust) dan bagian paling atas dari mantel bumi (astenosfir).
Keberadaan litosfer yang kokoh diatas lapisan yang cair liat yang dapat
menyebabkan litosfer bergerak merupakan inti dari teori tektonik lempeng.
Seorang
geograf diharapkan memahami litosfer ini karena peranannya dalam pembentukan
muka bumi sebagai tempat kehidupan manusia dan mempengaruhi karakteristik
manusia yang menghuninya. Mengapa kondisi litosfer berbeda dengan permukaan
bumi? Itu disebabkan karena,pertama material batuan sebagai penyusun bumi
mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Kedua proses-proses yang terjadi
pada litosfer akibat tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) dan dari
luar bumi (eksogen) berbeda.
Tenaga
endogen berperan membangun bentuk muka bumi atau mengadakan kenampakan baru,
sedangkan tenaga eksogen lebih bersifat merusak bentuk muka bumi yang dibangun
oleh tenaga endogen. Litosfer tersusun atas lempeng-lempeng (plates) yang
saling bergerak, yakni lempeng benua dan lempeng samudra.
Peran
tanah pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai tempat
tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya dan penyuplai kebutuhan
air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara dan
nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial) dan
secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi
aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh,
proteksi).Untuk itu perlu mempelajari
dan membahas materi tentang litosfer sebagai pembentuk permukaan muka bumi.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan
beberapa pokok permasalahan sebagai berikut :
1.
Apa pengertian litosfer?
2.
Bagaimana proses pembentukan muka bumi?
3.
Bagaimana pergerakan lempeng?
4.
Apa saja aspek-aspek pembentuk litosfer?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan
beberapa pokok tujuan pembahasan yaitu :
1.
Mengetahui pengertian litosfer
2.
Mengetahui proses pembentukan muka bumi
3.
Mengetahui bagaimana pergerakan lempeng
4.
Mengetahui aspek-aspek pembentuk
litosfer
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Litosfer
Litosfer
adalah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di
lautan) yang terdiri dari pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah,
canyon, lubuk dan lain-lain. Seorang geograf diharapkan memahami litosfer ini karena
peranannya dalam pembentukan muka bumi sebagai tempat atau ajang kehidupan
manusia
B. Proses
Pembentukan Muka Bumi oleh Tenaga Endogen
Dalam
proses perkembangan lapisan kerak bumi, kekuatan yang berasal dari dalam perut
bumi dapat mengakibatkan terjadinya
proses-proses geologis. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya. Proses
pembentukan muka bumi ini disebut proses endogen, yang meliputi perambatan
magma ke lapisan kerak bumi, keluarnya magma ke permukaan bumi dari dalam perut
bumi, gerakan-gerakan tektonik dari lapisan kerak bumi yang mengakibatkan
terjadinya peninggian permukaan secara perlahan dan perubahan-perubahan dari
beberapa tempat guncangan-guncangan yang kuat yang kadang-kadang sangat
berbahaya di beberapa tempat di Bumi serta gangguan di lapisan batu yang
horizontal.
1. Gerakan Batu Api ( Igneous Activity)
Bumi
adalah suatu figur yang padat dengan keseimbangan thermodinamik ( thermodynamic
equilibrium). Keseimbangan terjadi akibat proses perkembangan Bumi. Gangguan
terhadap keseimbangan thermodinamik ini dimanapun di bumi, ( misal: turunnya
tekanan atau naiknya temperatur) dengan cepat mentransformasikan massa bumi di
tempat yang terkena gangguan, dari padat menjadi cair. Transformasi ini
disertai dengan pertambahan volume secara kolosal dank arena mengalirnya massa
silikat (magma) yang panas ke daerah kerak bumi yang lemah, maka permukaan
daerah tersebut kadang_kadang menjadi tinggi.
Proses
pembentukan magma terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km, di mana temperature
(1.200 – 1.400) melampui titik cair batu-batuan. Magma tersebut di desak menuju ke permukaan, berkurang
unsur-unsur gas dalam magma secara tetap tentu dilepaskan melalui suatu
rangkaian letupan-letupan, proses ini merupakan suatu manifestasi yang cepat
dari kegiatan letupan gunung berapi.
2. Gerakan
Batu Api Intrusif
Pada
kegiatan vulkanis yang bersifat intrusif, magma memasuki lapisan kerak bumi
membentuk lapisan-lapisan magmatis atau intrusi-intrusi di dalamnya. Tipe-tipe
intrusi yaitu :
a.
Batholith
Lapisan benda-benda
magmatis yang tidak beraturan dengan sisi-sisi curam. Lapisan terbentuk ketika
magma membeku di kedalaman yang lumayan di bagian tengah dari daerah yang
berlipat-berlipat.
b.
Stock
Lapisan benda-benda
magmatis yang lebih kecil dari lapisan batholiths (kurang dari 100 km2)
tetapi mempunyai kondisi pembentukan, bidang, dan komponen batu yang sama.
c.
Laccolith
Lapisan benda-benda
magmatis yang berbentuk seperti kubah dengan permukaan yang cenbung dan dasar
yang datar.
d.
Fissured
instrusions
Intrusi-intrusi yang
merupakan jalur-jalur panjang terbentuk ketika magma memasuki rekahan-rekahan
lapisan batu-batuan menjauhi lapisan-lapisan intrusive yang besar.
e.
Sheet
vein
Lapisan-lapisan
intrusive yang besar yang dapat dilacak di wilayah-wilayah yang luas dan
terdapat di antara lapisan-lapisan batu-batu di sekitarnya yang berselaras
dengan batu-batu tersebut.
3. Gerak
Batu Api Effusif atau Vulkanisme
Letusan gunung berapi adalah salah satu
fenomena alam yang paling menakutkan. Kalau kita berbicara tentang gunung
berapi maka secara umum kita akan bertanya apakah gunung tersebut masih aktif
atau tidak, tetapi pembagian aktif ini semata-mata bersifat konvensional.
Banyak terjadi peristiwa di man gunung berapi yang secara tidak terduga menjadi
aktif setelah periode “tidur” selama berabad-abad; dalam masa berabd-abad ini
lereng-lerengnya telah ditumbuhi oleh hutan-hutan dan kawahnya telah berubah
menjadi danau. Pada kenyataannya gunung berapi tersebut dianggap tidak aktif
lagi hanya karena tidak ada informasi mengenai kegiataannya sampai ke tangan kita.
Gunung-gunung api yang dianggap aktif adalah gunung api yang bererupsi secara
berkesinambungan atau yang telah pernah meletus menurut perjalanan sejarah.
4. Pergerakan
Lapisan Kerak Bumi
Lapisan kerak bumi melakukan gerakan
yang konstan akibat aksi kekuatan dari dalam perut bumi. Hal ini
dimanifestasikan dengan adanya peninggian dan penurunan permukaan tanah,
penekanan terhadap lapisan-lapisan hingga membentuk lipatan-lipatan dan
pemecahan lapisan-lapisan batu-batu.
Pergerakan ini timbul disebabkan
kekuatan tektonik, yang aktivitasnya menimbulkan perubahan-perubahan yang
esensial dalam struktur lapisan kerak bumi. Aktivitas yang bersumber dari
tenaga alam bumi dapat dilihat dalam beberapa cara, di antaranya yang paling
populer dan berbahaya adalah aktivitas tenaga dalam bumi yang menimbulkan gempa
bumi yang dapat diamati dan dipelajari secara langsung.
a). Gempa bumi
Gempa bumi dapat
menghancurkan daerah-daerah luas, menelan korban jiwa dan memporak-porandakan
kota-kota besar dan kecil.
1. Asal
Mula Terjadinya Gempa Bumi.
a. Fall
Earthquake (gempa bumi runtuhan)
Terjadi akibat
runtuhnya batu-batu raksasa dari sisi-sisi gunung, atau akibat runtuhnya
gua-gua besar. Radius getarannya tidak begitu terasa.
b. Vulcanic
Earthquake (gempa bumi vulkanis)
Terjadi akibat aktivitas
gunung berapi. Dalam banyak peristiwa, gempa bumi ini mendahului erupsi gunung
berapi, tetapi lebih sering mereka terjadi secara bersamaan. Getaran gempa
vulkanis lebih terasa ketimbang getaran gempa runtuhan, di mana getarannya
terasa di daerahnya yang lebih luas.
c. Tectonic
Earthquake (gempa bumi tektonik)
Gempa ini terjadi
diiringi oleh proses pembuatan lapisan gunung-gunung dan pegunungan. Gempa
tektonik paling sering terjadi.
2. Pergerakan
Kerak Bumi Selama Gempa Bumi.
a. Gelombang
Longitudinal
Menimbulkan getaran
gelombang gempa yang sangat cepat bergerak, dengan laju kecepatan 7 atau 8 km
per detik pada lapisan batu yang padat.
b. Gelombang
Transversal
Laju kecepatan
gelombang transversal kira-kira setengah laju kecepatan gelombang longitudinal.
Oleh karena itu gelombang longitudinal lebih dahulu mencapai episentrum dan
yang lebih dahulu tercatat oleh seismograph. Tingkat dan sifat kerusakan yang
ditimbulkan goncangan gempa di permukaan bumi dan terhadap bangunan-bangunan
diatasnya, tergantung pada arah gelombang.
3. Pendeteksiaan
Adanya Gempa Bumi.
Percobaan-percobaan
telah dilakukan untuk menggunakan peralatan khusus untuk mendeteksi akan adanya
gempa bumi. Hasil yang cukup memuaskan telah dicapai dengan alat tiltmeter, yang mengatur dengan sangat
tepat bertambahnya tanah-tanah yang mengalami penurunan. Pada setiap tempat di
permukaan bumi, turunnya permukaan tanah secara horizontal berubah-ubah secara
berkesinambungan. Perubahan ini berlangsung secara lambat, tetapi akan
dipercepat persis sebelum gempa bumi terjadi.
4. Gempa
Laut.
Goncangan-goncangan
seismik kadang terjadi di dasar samudra. Goncangan-goncangan yang menimbulkan tsunami mencapai ketinggian beberapa
puluh meter dan menimbulkan kerusakan besar ketika mendekati pantai.
b). Pergerakan Epirogenik
Gerakan-gerakan
epeirogenik meliputi wilayah yang luas dari lapisan kerak bumi. Mereka lambat
dan hanya dapat dideteksi dalam observasi yang memakan waktu bertahun-tahun.
Contohnya, perubahan-perubahan posisi garis pantai ditinjau dari tinggi
permukaan air laut.
c). Pergerakan Folding
dan Repturing
1. Lapisan
Batu yang Rapuh dan yang Tidak Rapuh
Batu-batu yang
merupakan komposisi dari bagian teratas dari lapisan kerak bumi umumnya
tersusun dalam suatu rangkaian susunan berlapis-lapis yang telah terbentuk terlebih
dahulu terutama di basin-basin berair. Dalam suatu formasi berlapis-lapis,
tiap-tiap lapisan dipisahkan dari lapisan-lapisan lainnya oleh suatu bidang
stratifikasi atau bidang pemisah. Bidang bawah suatu stratum disebut kaki
lapisan (foot) sedang bidang atas
disebut lapisan roof.
Ketika dulu terbentuk,
lapisan battu-batu endapan terletak di atas dasar basin secara horizontal.
Dalam susunan yang berlapis-lapis semacam itu, lapisan-lapisan terletak saling
tumpang tindih. Bila kondisi dari proses pengendapan konstan, bidang-bidang
pemisah lapisan akan tersusun sejajar satu dengan yang lainnya, dengan demikian
lapisan-lapisan kana terlihat lebih harmonis.
Jika susunan lapisan
terletak sejajar antara satu sama lain dan tidak ada spasi antara lapisan yang
satu dengan yang lain, maka kita akan menjumpai suatu keadaan yang disebut stratograph unconformity. Misalnya,
endapan batu-batui di laut yang terbentuk pada masa Jurassic, langsung terletak
sesudah lapisan endapan batu-batu yang terbentuk pada masa Devonian; seandainya
pembentukan lapipsan-lapisan telah secara harmonis maka lapisan-lapisan yang
terjadi setelah lapisan Devonian, berturut-turut lapisan Carboniferous –
Permian – Triassic, baru lapisan Jurassic.
2. Dislokasi
peretakan (ruptured dislocations)
Dislokasi ini terjadi
ketika pecahan atau retakan yang panjangnya mulai dari beberapa mm sampai
beberapa puluh bahkan ratusan km; lapisan pada sepanjang retakan atau pecahan
sering terpisah. Bidang-bidang permukaan yang membelah lapisan disebut fault crevice dan itu bias vertical
atau miring. Strata bias terbelah sejajar dengan faulth crevice mulai dari lapisan foot
sampai lapisan roof taupun sebaliknya. System retakan-retakan yang pararel jarang terjadi. System retakan membelah dari
atas ke bawah maupun yang sebaliknya. Hal ini
mengakibatkan timbulnya tonjolan-tonjolan permukaan yang disebut horst dan permukaan cekung disebut graben.
3. Dislokasi
Lipatan
Dalam banyak kejadian,
strata melengkung naik turun seperti riak ombak dan membentuk lipatan-lipatan
(fold). Ukuan dari lipatan-lipatan ini sangat bervariasi. Suatu fold memiliki
unsur-unsur sebagai berikut :
a. Limb,
dua permukaan yang kurang lebih rata membatasi fold.
b. Curve,
bidang atas yang melengkung menghubungkan dua limb.
c. Fold bend,
garis yang melewati titik-titik puncak (tempat-tempat tertinggi pada puncak
suatu fold).
d. Fold angle,
sudut antara bidang-bidang yang diperpanjang dari garis-garis fold bend sampai
ke tempat dimana mereka saling berpotongan.
e. Axial surface,
permukaan yang melintasi semua lapisan pada bidang fold yang melengkung dan
membagi fold angle menjadi dua bagian.
f. Fold axis,
garis disepanjang axial surface dan fold memotoong permukaan bumi.
C. Pergerakan
Lempeng
Pergerakan lempeng memiliki peran dalam proses
pembentukan litosfer. Pergerakan lempeng terjadi dalam beberapa kemungkinan,
tetapi secara garis besar pergerakan lempeng diklasifikasikan menjadi 2, yaitu
gerakan konvergen dan divergen. Gerakan konvergen adalah gerakan
lempeng-lempeng saling bertemu. Gerakan divergen adalah gerakan lempeng-lempeng
yang saling menjauh atau saling meninggalkan.
a. Gerakan
konvergen
Gerakan
konvergen dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu konvergensi antara lempeng benua dengan lempeng samudera, konvergensi
antara lempeng benua dengan lempeng benua, dan konvergensi antara lempeng samudera
dengan lempeng samudera.
1. Konvergensi
antara lempeng benua dengan lempeng samudera.
Konvergensi
antara lempeng benua dengan lempeng samudera merupakan peristiwa yang sering
kali menjadi perhatian masyarakat karena dampaknya langsung dirasakan. Kedua
jenis lempeng ini memiliki sifat yang berbeda. Lempeng samudera karena memiliki
berat jenis yang berbeda maka ketika terjadi konvergensi (tumbukan),maka
lempeng samudera menyelusup ke bawah lempeng benua.
Tumbukan lempeng
ini menyebabkan bagian lempeng samudera yang menyelusup mengalami gesekan yang
suhunya sangat panas. Suhu yang panas ini menyebabkan batuan penyusun lempeng
samudera menjadi cair liat. Batuan yang cair liat mengalami tekanan yang kuat
karena dorongan lempeng yang menyelusup tersebut menyebabkan meterial cair liat
ini berusaha mencari jalan ke luar. Jalan keluar ini dapat melalui lubang
kepundan gunung api (vulkan) atau bila lapisan batuan di atasnya lemah akan
menembus lapisan batuan tersebut, sehingga dapat membentuk gunung api baru.
Tumbukan lempeng
ini memiliki intensitas yang berbeda-beda. Pada tumbukan dengan intensitas
tinggi menghasilkan energi getaran yang besat yang dikenal dengan istilah gempa
bumi (earthquake), sehingga dapat menggoncang-goncang permukaan bumi dan menghancurkan
peradaban manusia. Gerakan lempeng terjadi terus menerus, sehingga kemungkinan
terjadi gempa pun terus menerus. Saat kemarin di Pulau Jawa, di hari lain
mungkin terjadi di tempat lain. Di daerah yang merupakan pertemuan dua lempeng,
maka frekuensi gempa akan lebih sering terjadi. Daerah-daerah yang memiliki
kemungkinan gempa dengan frekuensi tinggi antara lain, sepanjang pantai barat
Sumatera, sepanjang selatan Pulau Jawa, Bali.
2. Konvergensi
antara lempeng benua dengan lempeng benua.
Tumbukan lempeng
benua dengan benua yang lain memiliki berat jenis yang sama-sama ringan
menyebabkan lempeng benua ini naik. Lempeng benua ini pada bagian atasnya
kemungkinan melengkung atau melipat, sehingga dapat terbentuk gunung atau
pegunungan. Pegunungan ini berbeda dengan pegunungan yang terbentuk oleh
tumbukan lempeng benua dengan lempeng samudera yang menghasilkan gunung api.
Pada konvergensi lempeng benua dengan lempeng benua, gunung yang dihasilka
bukan merupakan gunung api, karena tidak terdapat sumber magma yang berasal
dari gesekan lempeng yang menghujam dan menjadi cair liat.
3. Konvergensi
antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.
Konvergensi
antara lempeng samudera dengan lempeng samudera dapat menyebabkan salah satu
lempeng yang lebih tebal atau berat menghujam ke bawah masuk ke zona
astenosfera sehingga terdapat bagian lempeng yang menjadi cair liat karena suhu
yang sangat tinggi. Karena peristiwa ini terjadi di tengah laut, maka bila
batuan cair liat ini mendesak ke bagian atas terbentuk gunung api bawah laut.
Gunung api bawah laut ini meletus dapat menimbulkan gelombang Tsunami.
b. Gerakan
divergen
1. Divergensi
antara lempeng benua dengan lempeng benua.
Gerekan antara
dua lempeng benua yang saling meninggalkan ini dapat menyebabkan terjadinya
celah atau jurang yang dalam. Bila celah tersebut dimasuki oleh air, maka celah
tersebut akan menjadi tubuh perairan, pemisah antara 2 daratan.
2. Dinvergensi
antara lempeng samudera dengan lempeng samudera.
Jenis divergensi
ini akan menyebabkan terdapatnya area di samudera yang kosong (rongga). Rongga ini dapat berupa
palung laut yang sangat dalam. Pada peristiwa divergensi ini dapat menyebabkan
terjadinya tsunami, karena rongga yang kosong dapat menyedot air dari bagian
lain secara tiba-tiba sehingga pertemuan arus air tersebut menghasilkan energi
yang besar dan lain.
Pergerakan lempeng baik yang konvergen maupun
divergen terjadi secara terus menerus karena energi panas konveksi dialirkan
terus menerus. Oleh karena itu, posisi berbagai benua (lempeng benua) yang
selalu berinteraksi dengan lempeng-lempeng lainnya, tidak tertutup kumungkinan
selalu berubah. Lempeng-lempeng penyusun litosfer ini saling berhimpit,
sehingga bila salah satu bergeser lempeng yang berdekatan akan ikut bergeser.
Karena adanya pergeseran lempeng ini juga memungkinkan dampak dari gerakan
lempeng akan dirasakan oleh manusia sebagai penghuni litosfer. Hal penting yang
harus diantisipasi oleh manusia sebagai penghuni adalah mengurangi dampak yang
mungkin timbul, karena gempa bumi yang sering sebagai sebuah bencana tidak
dapat dicegah oleh manusia.
D. Proses
Pembentukan Muka Bumi oleh Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen merupakan tenaga yang
berasal dari luar permukaan bumi yang berpengaruh terhadap pembentukan relief
muka bumi. Pada umumnya bentuk muka bumi yang telah di bangun oleh tenaga endogen
di rusak oleh tenaga eksogen. Tenaga eksogen dapat berupa radiasi matahari,
air, angin, gletser, dan makhluk hidup.
1.
Radiasi matahari
Pada
saat siang hari radiasi matahari tinggi sehingga udara terasa panas. Sedangkan
pada malam hari pengaruh radiasi matahari sangat kecil sehingga terasa dingin.
Pada saat siang hari terjadi pengembangan batuan karena suhunya panas,
sedangkan pada malam hari terjadi pengkerutan batuan karena suhunya dingin.
Akibat pengembangan dan pengkerutan batuan yang terjadi secara terus menerus
menyebabkan batuan menjadi pecah, peristiwa seperti ini disebut pelapukan
mekanik. Tipe pelapukan seperti ini dominan terjadidi daerah arid; karena di
daerah ini pada saat siang hari terasa sangat panasdan malam hai terasa dingin.
Sebenarnya proses pelapukan tidak secara langsung merubah bentuk relief muka
bumi.
a. Pelapukan
Batu
Pelapukan
atau weathering adalah suatu istilah untuk menggambarkan suatu proses yang
merupakan gabungan dari proses-proses mekanik (fisika), kimia, dan biologis
(organic) yang terjadi di permukaan bumi, yang juga merupakan akibat adanya
pengambangan (perbedaan tinggi rendah) temperature udara, pembekuan air, aksi
dan reaksi oksigen dan karbondioksida di udara, pengendapan penguapan atmosfer
(curah hujan) dan aksi-aksi dan reaksi asam-asam organic di permukaan dan di
dalam tanah.
1).
Pelapukan Mekanik (Fisika)
Disebabkan
adanya perubahan temperature mineral-mineral dan batu-batu yang mana perubahan
temperature tersebut disebabkan oleh pengembangan-pengembangan suhu udara dan
juga karena mendapat panas langsun dari matahari. Mineral dan batu akan memuai
kalau dipanaskan, dan menciut (menyusut) kalau didinginkan. Sebenarnya pemuaian
dan penyusutan tidak terlalu berarti tetapi jika hal tersebut terjadi secara
konstan dan berulang-ulang dalam kurun waktu ratusan atau ribuan tahun,
dampaknya akan sangat terasa, ikatan antara molekul-molekul dalam batu secara
bertahap menjadi rapuh; semakin besar molekul semakin cepat ikatan antara
mereka merapuh karena molekul-molekul yang lebih halus pemuaiannya tidaklah
sebesar molekul yang besar.
2). Pelapukan Kimia
Uap-uap dan
gas-gas yang beraksi di udara dan sinar matahari mengakibatan perubahan kimia
terhadap komposisi mineral dan batu-batu. Uap air yang berkondensasi menjadi
cairan mengandung berbagai jenis unsure dalam larutan, yang mnambah kecairan
larutan-larutan mineral. Kelembaban yang kaya akan asam-asam organic bukan
hanya bahan pelarut, tetapi juga menstimulir terjadinya proses-proses seperti hydrolisasi
dan oksidasi.
3). Pelapukan Bilogis dan Organis
Kehadiran mokroorganik di
lapisan-lapisan paling atas dipermukaan bumi menambah intensitas reaksi-reaksi
kimia. Menurut V.I. Vernadsky, Feldspar menyerah kepada pelapukan hanya apabila
bakteri berperan serta dalam pelapukan tersebut. Bila hanya air dan oksigen
yang menjadi dalang pelapukan, hampir tidak mempan bagi Feldspar. Organisme
mengubah batu-batu secara kimia dan mekanik. Lichens dan lumut-lumut hidup di
prmukaan batu, mengambil unsur-unsur sari makanan dari permukaan batu sehingga
mereka merusak permukaan batu trsebut. Akar tanaman juga merusak lapisan tanah
dan batu-batuan secara mekanik dan kimia. Semut dan cacing tanah juga turut
merusak.
2. Air
Di daerah tropis
seperti di Indonesia tenaga eksogen yang berupa air mempunyai peranan cukup
besar. Daerah ini banyak terjadi hujan dengan itensitas yang cukup tinggi.
Tetesan air hujan yang jatuh secara terus-menerus mampu memecahkan agregat
tanah. Gerakan geologis air di permukaan tanah
Curah hijan dan salju yang turun dari
lapisan atmosfer dan juga air yang datang dari sumber-sumber mata air mengalir
di permukaan bumi dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah;
menjalankan fungsi geologis dalam perjalannya.Kita bedakan sekarang aksi gerakan
air yang mengalir di permukaan bumi tetapi tidak dalam saluran-saluran tertentu
(bidang erosi atau proses deluvial) dengan aksi gerakan air yang mengalir di
permukaan bumi dalan saluran-saluran tertentu yaitu arus-arus air dan sungai
(erosi linear atau proses erosife).
a. Proses
Deluvial
Semakin curam permukaan lereng dimana
air mengalir dan semakin banyak air hujan yang diperolehnya maka semakin kuat
kekuatan yang menggerakan arus air tersebut dan aksi air itupun semakin kuat
pula. Aksi air ini termasuk mengikis dan membawa hasil-hasil pelapukan dan
partikel-partikel dari batu-batu yang agak lunak seperti tanah liat marl, yang
membentuk lembah-lembah. Partikel-partikel ini bergerak menusuri lereng dan
masuk kerongga (lubang). Suatu lereng kadang-kadang menurun langsung menuju
sesuatu aliran air (sungai) yang mana dalam hal ini partikel-partikel yang
terbawah oleh air lereng tadi masuk ke sungai dan terbawa jauh. Tetapi biasanya
lereng-lereng seperti ini datar dasarnya dimana kecepatan arus air menurun. Terbentuklan
endapan-endapan unsur-unsur. Jika sungai terletak jauh dari kaki lereng air
yang mengalir di atas lereng ini mungkin tidak akan mencapainya sehingga dalam
peristiwa ini unsure-unsur mengendap pada dasar lereng. Arus air yang mengalir
diatas permukaan lereng tetapi tidak bermuara ke sungai-sungai akan
mengakibatkan unsur-unsur yang terkikis mengendap didasar aliran air tersebut
inilah yang disebut istilah proses deluvial dan unsure yang mengendap disebuut
diluvium.
b. Erosi
Aliran
air di permukaan tanah sebagai akibat adanya hujan akan mampu mengikis batuan
atau tanah yang di lalui air tersebut, peristiwa seperti ini disebut dengan
erosi.
3. Angin
Pengaruh
aktivitas angin terhadap bentuk muka bumi sangat Nampak di daerah arid. Angin
yang bergerak dengan kencang akan mampu membawa debu dan pasir sehingga
mengikis batuan yang diterpanya. Oleh karena itu banyak batuan berbentuk
cendawan di daerah gurun atau arid. Disamping tu pasir dan debu yang terbawa
angis akan diendapkan di suatu tempat dalam bentuk gumuk pasir (bukit pasir).
Peristiwa ini disebut dengan istilah erosi dan sedimentasi.
a. Gerakan
Geologis Angin
Kekuatan efektif dari
angin yang berhembus tergantung kepada kecepatannya.Angin yang berhembus dengan
kecepatan beberapa cm/detik,sudah cukup kuat menerbangkan debu.Suatu tiupan
angin yang berhembus dengan kecepatan rata-rata yang lebih kuat dapat
memindahkan batu-batuan dengan ukuran diameter beberapa sentimeter dari
tempatnya semula.
b. Deflasi
dan korasi
Korasi dan deflasi
adalah dua proses yang saling behubungan dan saling melengkapi.Intensitas
korasi tidaklah sama pada setiap tempat,dan tergantung kepada bobot kekerasan
batu-batu tersebut,ukuran molekul,dan susunan unsur-unsur dalam batu
tersebut,keadaan perekatan dan lapisan serta faktor-faktor lainnya.
4. Gletser
Merupakan
bongkahan-bogkahan es yang mluncur dari lereng pegunungan ketempat yang lebih
rendah. Selama dalam prjalanan meluncur ke bawah, gletser mengukis batuan atau
tanah yang dilaluinya dan kemudian diendapkan di tempat tertentu. Endapan yang
berbentuk disebut dengan moraine atau glacial till.
5. Makhluk
Hidup
Makhluk
hidup yang berupa hewan maupun tumbuhan dapat menjadi penyebab lapuknya suatu
batuan, sehingga batuan mnjadi hancur dan diangkut oleh angin maupun air dan
mengendap di suatu tempat. Contoh makhluk hidup yang dapat menghacuran batuan
adalah semut dan rayap, saat membuat lubang rumahnya. Juga tumbuhan, yang
akarnya dapa memecah batuan.
E. Aspek-Aspek
Litosfer
Dalam litosfer dapat dipelajari tentang batuan,
tanah, pegunungan, dataran tinggi, bukit, dan dataran rendah. Dalam makalah ini
akan membahas salah satu aspek dari litosfer yaitu tanah.
1. Perkembangan
dan Pengertian Tanah
Pada
mulanya tanah dipandang sebagai lapisan permukaan bumi (natural body)yang
berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami serangkaian
pelapukan oleh gaya-gaya alam (natural dorce), sehingga membentuk regolit
(lapisan berpartikel). Dinamika dan evoilusi alam ini terhimpun dalam devinisi
bahwa tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak di
permukaan bumi, yang telah dan akan mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh
faktor-faktor genetik dan lingkungan
yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme
(makro dan mikro) dan topografi pada suatu periode tertentu.
Tanah
pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai tempat tumbuh
berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya dan penyuplai kebutuhan air
dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara dan nutrisi
(senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial) dan secara
biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif
dalam penyediaan hara tersebut dan
zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara
integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan
produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, maupun
kehutanan.
Atas definisi diatas tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu:
Atas definisi diatas tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu:
1. Tempat
tumbuh dan berkembangnya perakaran
2. Penyedia
kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktifitas metabolismenya, baik
selama pertumbuhan maupun untuk reproduksi, meliputi air, dan udara dan
unsur-unsur hara
3. Penyedis
kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktifitasnya supaya
berlangsung optimum.
4. Habitat
biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tidak
langsung dalam penyedia kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun
yang berdampak negatif karenba merupakan hama-penyakit tanaman.
2. Profil
Tanah
Profil
tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan
induk tanah (regolit), yang biasanya terdiri dari horizon-horizon O-A-E-B-C-R.
Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut Solum Tanah, horizon
O-A disebut lapisan tanah atas dan horizon E-B disebut lapisan tanah bawah.
Kegunaan langsung dari profil tanah antara lain
untuk mengetahui:
a. Kedalaman
lapisan olah atau solum tanah yang merupakan indikator potensi kedalaman akar
tanaman untuk berpenetrasi.
b. Kelengkapan
atau differensiasi horizon pada profil tanah merupakan indikator umur tanah
atau proses-proses pembentukan (genesis) yang telah dilaluinya.
c. Warna
tanah merupakan indikator sifat alami tanah.
3. Komponen
Tanah
Tanah mineral yang dapat berfungsi
sebagai media tumbuh ideal secara material tersusun oleh 4 komponen, yaitu
bahan padatan (mineral dan bahan organik), air dan udara.
Secara alamiah proporsi
komponen-komponen tanah sangat bergantung pada:
a. Ukuran
partikel penyusun tanah.
b. Sumber
bahan organik tanah.
c. Iklim
terutama curah hujan dan temperatur.
d. Sumber
air.
4. Pembentukan
dan Perkembangan Tanah
|
Bahan induk
|
|
Bebatuan/bahan mineral
|
|
Profil Tanah
|
Pelapukan Pedogenesis
a. Bahan
induk tanah dan proses pelapukan
1. Jenis dan komposisi mineral
Lapisan kerak bumi (lithosfer)
tersusun oleh potensial berbagai unsur kimiawi baik yang berfungsi sebagai
unsur hara tetanaman maupun yang berfungsi lain. Unsur kimiawi penyusun
lithosfer yaitu : oksigen, silicon, aluminium, ferrum/besi, kalsium, natrium,
kalium, magnesium, H, B, C, dll. Unsur-unsur lithosfer ini berada dalam bentuk
mineral primer, sekunder, dan mineral aksesori (pelengkap), oksida-hidroksida
bebas, garam-garam dan senyawa-senyawa organik komkpleks maupun sederhana.
Menurut Darmawijaya (1990), mineral didefinisikan sebagai bahan alam homogen
dari senyawa organik asli, yang berkomposisi kimiawi tetap dan bersusunan
molekul geometris.
Berdasarkan cara
pembetukannya, bebatuan dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu:
1)
Batuan beku (igneus rock) merupakan
batuan yang terbentuk dari proses
solidifikasi (pembekuan) magma
cair. Apabila proses pembekuan jauh berada dibawah tanah disebut plutonik (batuan dalam), jika
pembekuannya terjadi di liang-liang menuju kepermukaan tanah disebut intrusi (batuan gang), dan jika
pembekuan terjadi didalam tanah maka disebut ekskrusi (batuan vulkanik atau lelehan).
2)
Batuan sedimen (sedimentary rock)
merupakan bebeatuan yang terbentuk dari proses konsolidasi (pemadatan)
endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angin atau air dipermukaan bumi.
Apabila dalam proses konsolidasi dipicu oleh proses mekanistik disebut elastik, sedangkan jika terbentuk dari
endapan termasuk larutan yang berkonsolidasinya dipicu oleh proses-proses kimia
disebut nonelastik.
3)
Batuan peralihan merupakan batuan beku
atau batuan sedimen yang telah mengalami transformasi (perubahan rupa) akibat
adanya pengaruh suhu, tekanan, cairan atau gas aktif.
Sedangkan berdasarkan silikanya
(SiO2) bebatuan diklasifikasikan menjadi:
a). Batuan masam, apabila
mengandung lebih dari 65% silika
b). Batuan netral
(intermedier), apabila berkadar 55-65% silika
c).
Batuan basa, apabila memiliki kurang dari 65% silika
2. Proses
pelapukan dan faktor-faktor pemicunya
Pelapukan
merupakan proses alamiah akibat bekerjanya gaya-gaya alam baik secara fisik
maupun kimiawi yang menyebabkan terjadinya pemecah-belahan, penghancur luluh
lantakan dan transformasi bebatuan dan mineral-mineral penyusunnya menjadi
material lepas (regolit) dipermukaan bumi.
Proses
pelapukan sangat dipengaruhi oleh iklim dan tipe bebatuan, dan terjadi melalui
dua mekanisme, yaitu pelapukan fisik dan pelapukan kimiawi:
a. Pelapukan
fisik
Pelapukan
fisik (disintegrasi) merupakan proses mekanik yang menyebabkna betauan masif pecah hancur terfragmentasi
menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan kimiawi sama sekali. Proses
ini sngat dominan pada kondisi suhu rendah seperti di kutub atau pada kondisi
suhu tinggi di padang pasir.
Proses
pelapukan fisik yang dipicu oleh air dapat terjadi lewat beberapa mekanisme:
a) Pada
batuan yang talah retak, air masuk kecelah-celahnya kemudian membeku, pembekuan
ini menyebabkan membeasrnya rekahan-rekahan tersebut.
b) Hantaman
butir-butir hujan dan aliran air/es menyebabkan terjadinya pengikisan dan
retaknya bebatuan, menghasilkan partikel-partikel halus yang terangkut ke
tempat-tempat rendah.
b. Pelapukan
kimiawi
Pelapukan atau tranformasi kimiawi
umumnya merupakan proses yang menyertai proses pelapukan fisik dan menyebabkan
terjadinya perubahan dalam komposisi kimiawi maupun komposisi bebatuan.
Mekanisme yang terlibat dalam transformasi kimiawi meliputi: pelarutan
(solubilitasi), hidratasi, oksidasi, hidrolis, reduksi, karbonatasi, asidifikasi
(pengasaman)
3. Klasifikasi
bahan induk tanah
Polynov
cit. Darmawijaya (1990) memilah bahan induk hsil proses pelapukan bebatuan
menjadi 4 fase, yaitu:
Fase I,
menghasilkan fragmen bebatuan yang telah kehilangan senyawa-senyawa
berklorin-sulfur
Fase II,
menghasilkan fragmen yang juga telah mulai kehilangan basa-basa (Ca, Na, K dan
Mg)
Fase III,
menghasilkan fragmen yang sebagian besar basa-basanya telah hilang, sehingga
silika dari struktur alumino-silikatnya menjadi mobil, dan akhirnya
Fase IV, menghasilkan
fragmen bentuk akhir hasil pelapukan, yang sebagian besar berupa sesquioksida
Secara keeseluruhan proses pelapukan
bebatuan menghasilkan dua macam material bahan induk yang siap diproses menjadi
tanah, yaitu: bahan residual (sedimentary materials), bahan angkutan
(transported materials).
a. Bahan
residual
Merupakan
bahan mineral yang terbentuk dari hasil pelapukan bebatuan secara in situ
(asli), sehingga mempunyai susunan kimiawi yang teargnatung sepenuhnya pada
bebatuan aslinya, dan biasanya relatif miskin hara.
Jenis-jenis
bahan induk ini dinamakan = bebatuan asalnya yaitu:
1. Bahan
induk batu-beku, seperti asal granit, basalt dan asal andesit
2. Bahan
induk batu sedimen, misalnya asal batua kapur, batu pasir dan asal shale
3. Bahan
induk batu alih rupa, seperti marmer, gneiss, dan asal quarsit
4. Untuk
daerah berawa, bahan organik yang aslinya terbentuk dari proses dekomposisi
sisa-sisa tanaman disebut endapan atau deposit kumulosa (gambut)
b. Bahan
angkutan
Merupakan
bahan hasil pelapukan yang dipindahkan dari tempat aslinya, biasanya berbentuk
campuran sehingga relaatif subur.
Bahan angkutan ini berdasarkan
jenis pembawanya (carrier) dipilah menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Angkutan
air, menghasilkan endapan aluvial (sungai), endapan lakurstrin (danau) dan
endapan marine (laut)
2. Angkutan
angin, menghasilkan endapan aeolian yang mebentuk butir-butir pasir (sand
dunes) dan endapan loes (debu) yang terbentuk menyusul periode akhir glacial.
3. Angkutan
gravitasi (gaya berat), menghasilkan endapan kolluvial. Endapan ini biasanya
terjadi didaerah pegunungan atau perbukitan.
4. Angkutan
es, menghasilkan endapan glacial, yang terangkut saat perpindahan bukit-bukit
es pada musim semi.
A. Faktor
dan proses pembentukan tanah
Secara
umum tanah dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Tanah
endodinamomorf, yaitu tanah yang mempunyai sifat terutama yang identik dengan
bahan induknya, atau terbentuk dari bahan induk residual, contohnya:
a.
Lithosol, yang terdapat di Orissa India,
berwarna kuning dan terbentuk dari bahan induk kompleks granit, gneiss, dan
schist.
b.
Andosol di dataran tinggi Indonesia dan
Filipina
c.
Grumodol dipulai jawa
d.
Organosol (tanah gambut) dikawasan
rawa-rawa pantai timur sumatra selatan.
2) Tanah
ektodinamomorf, yang mempunyai sifat-sifat tidak identik dengan bahan induknya.
Contohnya tanah aluvial yang terletak di pinggiran sungai.
Kedua
golongan tanah tersebut baik pembentukannya (genesis) maupun perkembangannya
(diferensiasi horizon) dipengaruhi oleh 5 faktor yang bekerja secara integral
dan kontinyu melalui mekannisme baik secara fisik, kimiawi maupun biologis.
Korelasi antara kelima faktor ini dnegan sifat-sifat tanha yang terbentuk
diformulasikan oleh Jenny (cit. Darmawijaya, 1990) sebagai berikut:
1) Iklim
Merupakan rerata cuaca pada jangka
panjang, minimal permusim atau per periode atau per tahun, dan seterusnya,
sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek,
misalnya harian, mingguan,dan maksimal semusim atau periode.
2) Pengaruh
curah hujan
Sebagai pelarut dan pengangkut,
maka air hujan akan memengaruhi: 1) komposisi kimiawi mineral-mineral penyusun
tanah, 2) kedalaman dan differensiasi profl tanah, dan 3) sifat fisik tanah.
Curah hujan berkorelasi erat dengan pembetukan biomass (bahan organik) tanah,
karena air merupakan komponen utama tetanaman maka kurnagnya curah hujan akan
menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.
3) Pengaruh
temperatur
Perbedaan temperatur merupakn
ccerminan energi panas matahari yang sampai ke suatu wilayah, sehingga
berfungsi sebagai pemicu:
a) Proses
fisik dalam pembentukan liat dari mineral-mineral bahan induk tanah, dnegan
mekanisme indentik proses pelapukan bebatuan yang telah diuraikan diatas
b) Keanekaragaman
hayati yang aktif, karena masing-masing kelompok terutama mikrobia mempunyai
temperatur optimum spesifik, sehingga perbedaan temperatur akan menghasilkan
jenis dan populasi mikrobia yang berbeda pula.
c) Kesempurnaan
proses dekomposisi biomass tanah sehingga ke mineralisasi
4) Jasad
hidup
Diantara berbagai jasad hidup,
vegetasi atau makroflora merupakan yang paling berperan dalam memengaruhi
proses genesis dan perkembangan profil tanah, karena merupakan sumber utama
biomass atau bahan organuk tanah BOT.
5) Bahan
induk
Jenis bahan induk akan menentukan
sifat fisik maupun kimiawi tanah yang terbentuk secara endodinamomorf, tetapi
pengaruhnya menjadi tidak jelas terhadap tanah-tanah yang terbentuk secara
ektodinamomorf. Pengaruh bahan induk sangat jelas terrlihat pada tanah-tanah
muda-dewasa, namun dalam perrkembangannya terjadi proses pelapukan lebih
lanjut, apabila mengalami pelindian atau erosi berat, maka pengaruh ini makin
tidak jelas bahkan dapat hilang sama sekali.
6) Topografi
Topografi merupakan perbedaan
tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah, termasuk perbedaan kecuraman dan
bentuk lereng. Peran topografi falm proses genesis dan perkembangan profil
tanah adalah memlalui empat cara, yaitu:
a) Jumlah
air hujan yang dapat menyerap atau disimpan oleh massa tanah
b) Kedalaman
air tanah
c) Besarnya
erosi yang dapat terjadi
d) Arah
pergerakan air yang membaha bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ke
tempat yang rendah. Empat perannya ini, maka Hardjowigeno (1993) menyimpulkan
bahwa sifat-sifat tanah yang tepengaruhi meliputi:
a) Ketebalan
solum dan bahan organik pada horizon O
b) Kadar
bahan organik pada horizon O dan air tanah
c) Warna,
temperatur dan taraf perrkembangan horizon
d) Reaksi
tanah dan kadar garam mudah larut
e) Jenis
dan taraf perkembangan lapisan padas, dan
f) Sifat
bahan induk tanah
Lewat
7) Waktu
Periode waktu pembentukan akan
menentukan jenis dan sifat-sifat tanah yang terbentuk disuatu kawasan, karena
waktu memberikan kesempatan kepada 4 faktor pembentukan tanah lainnya untuk
memengaruhi proses-proses pembentukan tanah makin lama makin sensitif. Oleh
karena itu waktu merupakan faktor pasif, semua jenis tanah yang sama tetapi
berasal dari bahan induk dan iklim yang berbeda dapat mempunyai umur tidak sama
atau sebaliknya, maka kematangan suatu jenis tanah tidak saja tergantung
umurnya tetapi lebih tergnatung pada kelengkapan horizoltal.
Mohr dan van baren membedakan 5
fase pertumbuhan tanah, yaitu:
1) Fase
awal, dengan indikator bahan induk yang masih belum mengalami proses pelapukan,
baik disintegrasi maupun dekomposisi
2) Fase
juvenil, dengan indikator bahan induk yang telah mulai mengalami prosese pelapukan, tetapi
sebagian beasr masih asli
3) Fase
viril, diindikasikan oleh optimumnya laju proses pelapukan, kebanyakan bebatuan
sudah mulai pecah, minerl-mineral sekunder talah terbentuk sehingga kadar kiat
meningkat
4) Fase
senil, diindikasikan oleh proses pelapukan yang telah lanjut, yaitu laju
kecepatan proses yang mulai menurun, dan mineral-mineral tahan lapuk masih
bertahan
5) Fase
akhir, ditandai oleh berakhirnya proses pelapukan.
BAB III
PENUTUP
Dari uraian pembahasan diatas dapat
diambil suatu kesimpulan:
1. Litosfer
adalah fenomena berupa kenampakan bentuk permukaan bumi (di daratan maupun di
lautan) yang terdiri dari pegunungan, gunung, dataran tinggi, dataran rendah,
canyon, lubuk dan lain-lain.
2. Proses
Pembentukan Muka Bumi
a. Proses
pembentukan muka bumi oleh tenaga endogen antara lain gerakan batu api (igneous
activity ), gerakan batu api intrusif,gerakan batu api effusif atau vulkanisme,
serta pergerakan lapisan kerak bumi.
b. Proses
pembentukan muka bumi oleh tenaga eksogen antara lain : sinar matahari,air, angin,gletser
dan makhluk hidup.
3. Pergerakan
lempeng secara garis besar pergerakan lempeng diklasifikasikan menjadi 2, yaitu
gerakan konvergen dan divergen.
4. Salah
satu aspek lithosfer adalah tanah, tanah sebagai lapisan permukaan bumi
(natural body)yang berasal dari bebatuan (natural
material) yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam
(natural dorce), sehingga membentuk regolit (lapisan berpartikel)
DAFTAR
PUSTAKA
Bambang Syaeful Hadi dan
Suparmini.2009.Dasar-dasar Geografi.Yogyakarta
Hanafiah,Kemar Ali.2005.Dasar-dasar Ilmu
Tanah.Jakarta;Raja Grafindo Persada
O.Lange dkk.1991.Geologi
Umum.Jakarta;Gaya Maedia Pratama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar