Senin, 25 April 2016

EKSESTENSI PASAR TRADISIONAL DI ERA GLOBALISASI : STUDI KASUS PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


EKSESTENSI PASAR TRADISIONAL DI ERA GLOBALISASI : STUDI KASUS PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Pembahasan ini disususn guna memenuhi salah satu tugas
Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Kajian Wilayah

Dosen pengampu Drs. Agus Sudarsono M.Pd

Disusun oleh :

Hida Mujahida Basori

NIM. 12416241060

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, merupakan pangsa pasar yang sangat menjanjikan. Tidak salah bilaperitel skala besar, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, memanfaatkan potensi tersebut dengan cara mengembangkan pasar modern di negeri ini. Saat ini, dampaknya sungguh luar biasa. Hampir di setiap sudut kota (bahkan desa), dengan mudah kita dapat menemukan pasar modern tersebut. terutama mini market. Kata ‘globalisasi’ di ambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi, dan istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran Negara atau batas-batas Negara. Hubungan internasional berlangsung dalam masyarakat internasional.
Globalisasi menggambarkan, bahwa warga dunia semakin menyatu. Mereka memiliki pola hubungan yang semakin erat. Kehidupan dunia seperti itu digambarkan sebagai desa yang mengglobal (global village). Dengan globalisasi seluruh bangsa dan Negara di dunia semakin terikat satu sama lain, mewujudkan suatu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Dalam dunia ekonomi, globalisasi merupakan suatu alat yang dapat memacu manusia dalam menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas. Manusia akan merasa terdorong untuk mengikuti arus globalisasi yang mengedepankan tenaga SDM yang berkualitas. Sehingga mau tidak mau manusia akan bersaing untuk kehidupan di era globalisasi tersebut.
Di Indonesia sendiri, globalisasi telah masuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Disadari atau tidak kita telah dipengaruhi dan mengikuti perubahan-perubahan global yang berasal dari luar negeri seperti teknologi komunikasi berupa handphone. Telepon genggam (handphone) sekarang tidak hanya dimiliki dan dipakai oleh masyarkat yang tinggal di perkotaan, akan tetapi sudah sampai ke masyarakat pedesaan. Hal ini merupakan bentk positif dari pengaruh globalisasi, karena dengan semakin tinggi teknologi komunikasi dapat mempermudah manusia untuk saling berinteraksi setiap waktu tanpa harus bertemu langsung dengan lawan bicara.
Selain dampak positif itu, globalisasi juga memberikan dampak negatif yang cukup signifikan. Contohnya dalam pasar tradisional. Pengaruh globalisasi dalam pasar tradisional di berbagai tempat di Indonesia mengharuskan banyak dari penjual di pasar tradisional ‘gulung tikar’. Hal ini seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa mayoritas penduduk Indonesia merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Pasar tradisional juga merupakan roh kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia, karena di dalamnya terdapat Interaksi sosial yang merupakan ciri umum orang Indonesia. Interaksi tersebut disebabkan karena faktor simpati. Biasanya antara penjual dan pembeli terjalin rasa saling tertarik yang muncul karena kebiasaan dan membuatnya merasa seolah-olah berada dalam keadaan yang sama, sehingga walaupun tujuan utama dari penjual adalah mencari keuntungan, akan tetapi gara-gara diantara mereka sudah terjalin perasaan saling pengertian maka harga barang yang diperjual-belikan tidak akan pernah dipermasalahkan. Harga barang tersebut bisa lebih rendah jauh di bawah harga normal.
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu memperjuangkan peran pasar-passar tradisional yang semakin terbenam seiring semakin gencarnya serangan globalisasi melalui pasar-pasar modern seperti mall-mall, supermarket, indomart dan lain sebagainya. Seandainya pemerintah tidak segera membantu pemulihan peran pasar tradisional dan terlalu menikmati pengaruh globalisasi, maka dalam beberapa tahun kedepan dapat dipastikan kita tidak akan melihat lagi pasar-pasar tradisional. Kita tidak akan melihat pola interaksi yang cukup menarik yang terjadi di pasar tradisional tersebut



PEMBAHASAN
1.      PASAR TRADISIONAL
Pengertian Pasar
Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam hal ini lebih condong ke arah pasar tradisional. Sedangkan dalam arti luas adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih condong ke arah pasar modern. Permintaan dan Penawaran dapat berupa barang atau jasa. Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007 mendefinisikan pasar sebagai area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya. Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Pasar dalam pengertian teori ekonomi adalah suatu situasi seorang atau lebih pembeli (konsumen) dan penjual (produsen dan pedagang) melakukan transaksi setelah kedua pihak telah mengambil kata sepakat tentang harga terhadap sejumlah (kuantitas) barang dengan kuantitas tertentu yang menjadi objek transaksi. Kedua pihak, pembeli dan penjual, mendapatkan manfaat dari adanya transaksi atau pasar. Pihak pembeli mendapatkan barang yang diinginkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya sedangkan penjual mendapatkan imbalan pendapatan untuk selanjutnya digunakan untuk membiayai aktivitasnya sebagai pelaku ekonomi produksi atau pedagang.
 Pasar tradisional adalah salah satu komponen utama pembentukan komunitas masyarakat baik di desa maupun di kota sebagai lembaga distribusi berbagai macam kebutuhan manusia seperti makanan, sumber energi, dan sumberdaya lainnya. Pasar berperan pula sebagai penghubung antara desa dan kota, perkembangan penduduk dan kebudayaan selalu diikuti oleh perkembangan pasar sebagai salah satu pendukung penting bagi kehidupan manusia sehari-hari terutama di kawasan perkotaan.
Pada saat ini  pusat-pusat perbelanjaan modern berkembang dengan pesat sampai kepinggiran kota kecamatan, namun peranan pasar tradisional masih tetap penting dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Pasar tradisional merupakan tempat untuk mendapatkan berbagai keperluan dan kebutuhan pokok mayoritas penduduk di tanah air dengan harga yang terjangkau. Jumlah pasar tradisional di Indonesia lebih dari 13.450 dengan jumlah pedagang berkisar 12.625.000 orang (APKASI, 2003). Pasar tradisional masih merupakan wadah utama penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi berskala menengah, kecil dan mikro yaitu para petani, nelayan, pengrajin dan home industri (industri rakyat). Para pedagang yang pada umumnya menggunakan modal sendiri dalam jumlah pas-pasan memulai usahanya, berjumlah puluhan juta dan menyandarkan hidupnya kepada pasar tradisional. Pada sisi lain, interaksi sosial sangat kental terjadi di dalam pasar tradisional, karena mekanisme transaksinya menggunakan metode tawar menawar. Para pedagang atau produsen dan pembeli atau konsumen dapat secara langsung berkomunikasi dan saling mengenal lebih jauh, bukan hanya menyangkut barang yang diperdagangkan tetapi juga menyangkut hal lainnya. Di pasar tradisional budaya masing-masing yang terkait dengan jenis masakan dan cara berpakaian, telah berkumpul dan berintekraksi dengan damai dengan latar belakang suku dan ras mulai dari keturunan Arab, Cina, Batak, Padang, Sunda, Jawa, Madura, Bugis dan lainnya. Selain itu, pasar tradisional selalu menjadi indikator nasional dalam kaitannya dengan pergerakan tingkat kestabilan harga atau inflasi domestic. Dalam menghitung inflasi, harga kebutuhan pokok penduduk yang dijual di pasar tradisional seperti beras, gula, dan sembilan kebutuhan pokok lainnya menjadi objek monitoring ahli statistik setiap bulannya, (www.menlh.go.id/pasarberseri/Pasarberseri.pdf.). 
Pasar Tradisional
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern. Dalam hal ini saya akan membahas mengenai pembangunan pasar tradisional yang berada di Tradisional Di Dusun Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

2.      GLOBALISASI
Pengertian Globalisasi
Menurut Kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, mengartikan global dengan concerning the whole earth. Maksudnya sesuatu yang berkaitan dengan dunia internasional atau seluruh alam jagad raya. Sesuatu hal yang dimaksud disini dapat berupa masalah, kejadian, kegiatan, atau bahkan sikap yang sangat berpengaruh dalam kehidupan yang lebih luas.
Menurut John Huckle, globalisasi adalah suatu proses dengan mana kejadian, keputusan, dan kegiatan di salah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Sementara itu, Albrow mengemukakan bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses di mana manusia di bumi ini diinkorporasikan (dimasukkan) ke dalam masyarakat dunia tunggal, masyarakat global. Karena proses ini bersifat majemuk, kita pun memandang globalisasi di dalam kemajemukan.
Menurut Prijono Tjjiptoherijanto, konsep globalisasi pada dasarnya mengacu pada pengertian ketiadaan batas antar negara (stateless). Konsep ini merujuk pada pengertian bahwa suatu negara (state) tidak dapat membendung “sesuatu” yang terjadi di negara lain. Pengertian “sesuatu” tersebut dikaitkan dengan banyak hal seperti pola perilaku, tatanan kehidupan, dan sistem perdagangan.
Dari beberapa definisi tersebut dapat dikatakan bahwa “globalisasi” merupakan suatu proses pengintegrasian manusia dengan segala macam aspek-aspeknya ke dalam satu kesatuan masyarakat yang utuh dan yang lebih besar.

Pengaruh Globalisasi terhadap Perekonomian Indonesia

Globalisasi menciptakan ketergantungan antara suatu negara dengan negara lainnya. Globalisasi juga merupakan sarana perdagangan antar negara yang nyaris tanpa batas, karena mudah, tarif, bea masuk dan pajaknya pun juga rendah. Globalisasi ditunjukkan dalam berbagai produk yang berasal dari negara-negara lain. Misalnya di Indonesia hampir semua barang merupakan produk cina mulai dari televisi, dvd player, sampai handphone pun merk china. Globalisasi juga memberikan kemudahan untuk mendapatkan sesuatu yang berasal dari negara-negara lain. Misalnya kita menginginkan suatu barang dari negara lain, maka kita tinggal mengirimnya melalui pesawat atau lainnya. Selain itu kita juga bisa mendapatkan informasi mengenai keadaan negara lain dengan cepat dan mudah yaitu melalui internet, televisi ataupun media lainnya. Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain:
a.       Globalisasi produksi yaitu dimana perusahaan berproduksi di negara dimana sumber daya itu berada. Hal ini dilakukan karena dapat mengurangi biaya dan upah untuk tenaga kerjanya jadi lebih murah
b.      Globalisasi pembiayaan yaitu perusahaan dapat memperoleh pembiayaan atau pinjaman dari berbagai negara yang ada di dunia
c.       Globalisasi tenaga kerja yaitu perusahaan akan mampu mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional sesuai dengan bidang keahliannya di berbagai Negara
d.      Globalisasi jaringan informasi yaitu suatu negara dapat dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi negara lain melalui televisi, internet, radio, dan sebagainya
e.       Globalisasi perdagangan yaitu menyamakan tarif untuk ekspor impor semua negara sehingga kegiatan perdagangan menjadi semakin cepat dan persaingan juga sehat.
Indonesia merupakan negara yang sebagaian besar sektor ekonominya dalam bentuk UMKM sehingga hal tersebut akan mempersulit indonesia untuk memasuki pasar global karena UMKM memiliki keterbatasan dengan modal dan teknologi. Apabila pada masa mendatang indonesia tidak mampu menghadapi persaingan perdagangan global, maka indonesia akan lebih bergantung pada negara-negara lain. Menghadapi persaingan global akan mengakibatkan kemenangan bagi yang kuat dan kekalahan bagi yang lemah dalam bersaing.
Globalisasi memasuki pasar dengan cara yang sistematis dengan tahapan pasar domestik, internasional, multinasional, global, dan transnasional melalui produk dan jasa, teknologi, budaya, dan sebagainya. Salah satu bentuk globalisasi yaitu di daerah depok, ada sebuah pasar tradisional yaitu pasar depok lama. Tidak jauh dari situ terdapat mall, di dalam mall tersebut terdapat supermarket. Akibat dari hal tersebut yaitu pasar tradisional akan mati dengan sendirinya secara perlahan karena kalah bersaing dengan supermarket yang ada di dekat pasar tersebut
 Lima karakteristik globalisasi:
a.       Terjadinya pertumbuhan transaksi keuangan antar negara (internasional)sangat cepat
b.      Pertumbuhan perdagangan yang sangat cepat
c.       Gelombang investasi asing langsung
d.      Timbulnya pasar global
e.       Penyebaran teknologi
Dengan kelima karakteristik tersebut, akan timbul konsekuensi bagi perekonomian indonesia dalam UMKM, Swasta, maupun BUMN. Ini dikarenakan lemahnya UMKM dalam mengakses sumber-sumber ekonomi sementara swasta dan BUMN juga sering kalah dalam bersaing pada skala global.
Globalisasi seperti sistem ekonomi yang terdiri dari negara-negara kuat dan pemilik modal. Ini sama saja dengan sistem ekonomi kapitalis karena hanya sebagian kecil masyarakat yang akan menikmati globalisasi. Sedangkan UMKM akan mati karena ketidakmampuan mereka untuk menghadapi efisiensi dengan kemampuan swasta besar dalam mengoptimalkan mesin-mesin industri yang mereka miliki.

3.      POTENSI DAERAH SEKITAR PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
Pasar tradisional yang berada di Dusun Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta termasuk  pasar yang dikelola oleh Pemerintah Desa.pasar yang baru berdiri sekitar 3 bulan yang lalu ini  merupakan sebuah aset ekonomi dan budaya di tingkat desa, tetapi seiring perkembangan pasar modern yang begitu pesat lambat laun mengancam keberadaan pasar tradisional.
Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia itu ada. Salah satu kegiatan manusia dalam usaha memenuhi kebutuhannya adalah memerlukan adanya pasar sebagai sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini didasari oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber pada problem untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok). Manusia sebagai makhluk sosial dalam perkembangannya juga menghadapi kebutuhan sosial untuk mencapai kepuasan atas kekuasaan, kekayaan dan martabat.
Pasar adalah tempat dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Pasar di dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang yang masuk ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar main saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi tentang suatu hal. Pasar desa memegang peranan yang sangat penting pada masyarakat pedesaan. Pasar, pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung di dalam suatu masyarakat. Melalui pasar ditawarkan alternatif-alternatif kebudayaan yang berlainan dari kebudayaan setempat.
Pasar memiliki kontribusi yang besar bagi kehidupan masyarakat pedesaan, tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga di bidang sosial dan budaya. Pasar desa pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung dalam suatu masyarakat. Untuk itu pasar desa harus mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya Pemerintah Desa sebagai tonggak ekonomi pedesaan. Dan juga diperlukan suatu upaya pemberdayaan terhadap pasar desa agar tetap terjaga eksistensinya untuk mampu bersaing dengan pasar modern. Pasar tradisional saat ini masih menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi penting bagi sebagian masyarakat Indonesia. Berbagai kendala dan perubahan yang terjadi telah meminggirkan pasar tradisional yang telah lama memiliki fungsi redistribusi produk-produk yang dihasilkan masyarakat. Perbaikan manajemen pasar tradisional diharapkan dapat meningkatkan daya saing, efisiensi pembiayaan dan pengelolaan lingkungan. Pada kondisi demikian, diperlukan pemikiran ulang akan keberadaan pasar tradisional. Dua hal perlu dicermati dalam hal ini, yaitu: (1) diperlukan pemikiran untuk meningkatkan kinerja dan tampilan pasar tradisional dan (2) ajakan perlunya mengedepankan produk ramah lingkungan dan menumbuhkan rasa cinta produk-produk sendiri.
Oleh karena itu, pasar desa harus dilindungi dan dikembangkan sebagai tonggak ekonomi pedesaan serta diperlukan suatu upaya pemberdayaan terhadap pasar tradisional agar terjaga eksistensi pasar tradisional untuk tetap mampu bersaing dengan pasar modern serta dapat terus memberikan kontribusi bagi desa maupun Pendapatan Asli Daerah yang dikelola oleh Dinas setempat.
4.      OPTIMALISASI POTENSI DAERAH SEKITAR PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
Pasar tradisional merupakan tempat menilai tingkat perekonomian masyarakat di desa kecamatan, dan seyogyanya kesejahteraan masyarakat merupakan tingkat tertinggi keberhasilan pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai aparatur yang bekerja untuk rakyat. Dalam pembangunan dan pengembangan pasar tradisional di daerah-daerah kecamatan, adapun faktor yang menjadi penimbang yaitu pengukuran jumlah penduduk untuk mengetahui substansi kebutuhan masyarakat setempat, agar pembangunan sarana pasar sesuia dengan kebutuhan penduduk.
Tujuan utama pelaksanaan pengembangan pasar tradisional adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat, salah satu upaya dalam mencapai hal tersebut dengan mengembangkan pasar tradisional yang mulai tidak layak digunakan karena pengembangan adalah awal dari pemberdayaan sarana fasilitas pemerintah dan masyarakat. Jika masyarakat makin merasa puas dengan tindakan pengembangan pasar yang dilakukan pemerintah daerah maka masyarakat akan memberikan kepercayaan kepada pemerintah, begitupun sebaliknya pemberdayaan fasilitas sarana ekonomi khususnya pasar tradisional merupakan salah satu pilar dalam terciptanya good governance.
Peran Pemerintah Daerah merupakan hal mutlak yang menjadi tolak ukur berlangsungnya pembangunan pasar tradisional, karena  dalam paradigmag good governance pemerintah daerah punya peran penting dalam membangun daerahnya. Pasar Tradisional dalam sebuah daerah merupakan sarana yang menjadi tolak ukur mutlak dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di daeah-daerah kecamatan yang jauh dari pusat kota yang perkembangan ekonomi masyarakatnya melonjak dengan cepat.

5.      PASAR TRADISIONAL DAN PERMASALAHANNYA. STUDI KASUS PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
Pasar tradisional selama ini kebanyakan terkesan kumuh, kotor, semrawut, bau dan seterusnya yang merupakan stigma buruk yang dimilikinya. Namun demikian sampai saat ini di kebanyakan tempat masih memiliki pengunjung atau pembeli yang masih setia berbelanja di pasar tradisional. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga pasar tradisional yang dalam perkembangannya menjadi sepi, ditinggalkan oleh pengunjung atau pembelinya yang beralih ke pasar moderen.
Stigma yang melekat pada pasar tradisional secara umum dilatarbelakangi oleh perilaku dari pedagang pasar, pengunjung atau pembeli dan pengelola pasar. Perilaku pedagang pasar dan pengunjung dan pengunjung atau pembeli yang negatif secara perlahan dan bertahap dapat diperbaiki, sekalipun memerlukan waktu lama. Keterlibatan pengelola pasar dalam perbaikan perilaku ini adalah suatu keniscayaan.
Melekatnya stigma buruk pada pasar tradisional, seringkali mengakibatkan sebagian dari para pengunjung mencari alternatif tempat belanja lain, di antaranya mengalihkan tempat berbelanja ke pedagang kaki lima dan pedagang keliling yang lebih relatif mudah dijangkau (tidak perlu masuk ke dalam pasar). Bahkan kebanyakan para pengunjung yang tergolong di segmen berpendapatan menengah bawah ke atas cenderung beralih ke pasar moderen, seperti pasar swalayan (supermarket dan minimarket) yang biasanya lebih mementingkan kebersihan dan kenyamanan sebagai dasar pertimbangan beralihnya tempat berbelanja.
Seringkali dikesankan bahwa perilaku pedagang yang menjadi penyebab utama terjadinya kondisi di kebanyakan pasar tradisional memiliki stigma buruk. Sebaliknya, di lapangan di lapangan dijumpai peran pengelola pasar terutama dari kalangan aparatur pemerintah dalam mengupayakan perbaikan perilaku pedagang pasar tradisional masih sangat terbatas. Banyak penyebab yang melatarbelakangi kondisi ini. Dimulai dari keterbatasn jumlah tenaga dan kemampuan (kompetensi) individu tenaga pengelola pengelola serta keterbatasan kelembagaan (organisasi) pengelola pasar untuk melakukan pengelolaan pasar dan pembinaan pedagang, Selanjutnya permasalahan yang dihadapi oleh para pengelola pasar di lapangan tidak terlepas dari Kebijakan pimpinan daerah dan para pejabat di bawahnya (Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah-SKPD) di tingkat Kabupaten atau Kota.
Kepedulian Pimpinan Daerah dan Para Pejabat di bawahnya terhadap pasar tradisional menentukan kebijakan dan bentuk organisasi dari instansi (SKPD) yang membidangi pasar tradisional di daerahnya. Di beberapa daerah, pimpinan daerah meletakkan posisi pasar semata-mata sebagai salah satu sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi yang dipungut dari para pedagang. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh Pimpinan Daerah (Bupati/Walikota) dan Pejabat Daerah di tingkat bawahnya (Kepala SKPD) lebih menekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan optimalisasi pemungutan retribusi pasar, seperti Pengaturan Pemungutan dan Penyetoran Retribusi serta Administrasi Keuangan (pembukuan) Retribusi semata daripada penekanan pada pembinaan pasar termasuk di dalamnya pembinaan para pengelola pasar dan pedagang pasar. Akibat dari adanya kebijakan optimalisasi pemungutan retribusi tersebut, maka kepada para Kepala Pasar diberikan target-target yang untuk mencapainya pasar diusahakan sedemikian rupa agar dapat menampung pedagang dalam jumlah sebanyak mungkin, termasuk mengisi sebagian tempat-tempat kosong seperti tangga dan lorong-lorong pasar yang seharusnya dibiarkan tetap kosong tanpa pedagang agar para pengunjung tetap nyaman berlalu lalang.

6.      ANALISIS PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA MENURUT TEORI  HETTNER
1.      Letak/lokasi
Dusun Mlangi, terletak di sebelah Barat laut Kota yogyakarta,  tepatnya di desa mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Dari perempatan Ringroad Demakijo ke arah utara hingga disebelah kanan atau timur dijumpai rumah Sakit Queen Lativa  belok kiri kurang lebih 500 meter akan sampai di desa Mlangi
2.      Luas wilayah
Luas wilayah dusn mlangi 30.865 Ha. Dengan batas wilayah sebelah utara dusun salakan, selatan dusun sawahan, sebelah timur dusun mipitan, dan sebelah barat dusun jetis.
3.      iklim
Tipe iklim di dusun mlangi termasuk kedalam "AM dan AW", curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan 119 hari hujan, suhu rata-rata 27,2°C dan kelembaban rata-rata 24,7%.  Angin pada umumnya bertiup angin muson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 220°  bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° - 140° dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam.
4.      sejarah
Dusun Mlangi dahulunya merupakan hadiah atau pemberian Sultan Hamengku Buwono I terhadap kerabatnya  yakni Kyai Nur Iman yang bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo, yang merupakan putra dari RP. Suryo Putro, putra sulung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I, Kemudian pemberian tersebut oleh Kyai Nur Iman dijadikan tempat pengembangan agama islam. Kemudian mendirikan tempat mengajar bagi para santri, atau dalam bahasa jawa dikatakan mulangi dan akhirnya tersebut Mlangi.
5.      Penduduk
Saat ini dusun Mlangi terdapat sedikitnya 10 pesantren, mengelilingi masjid Jami’, seblah utara Al Falakiyah, Timur Al-Huda, selatan Al-Salafiyah, Al Salafiyah merupakan pesantren yang tertua dibangun sejak 5 juli 1921 oleh KH. Masduki dan santrinya saat ini sudah mencapai 300 orang santri. Dan setiap bulan ramadhan desa ini sangat ramai dengan kegiatan ritual ibadah yang dijalankan pendududk setempat, bahkan peserta kegiatan tidak hanya berasal dari dusun mlangi saja namun beberpa warga sekitar juga ikut ambil bagian tersebut. Yang membedakan pesantren Mlangi dengan pesantren lainnya adalah bahwa pesantren Mlangi dilahirkan oleh Masyarakat. Antara pesantren dan masyarakat merupakan suatu komunitas sosial yang sama. berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya yang rata-rata dilahirkan oleh tokoh atau kyai yang "mbabat" alas di suatu tempat. karenanya, hampir 100% warga Mlangi menikmati pendidikan pesantren. dampak dari itu, kapasitas warga Mlangi dalam membaca kitab kuning dibandingkan dengan santri luar yang mengjai pesantren Mlangi tidak kalah mutunya. Sambil belajar di sekolah-sekolah formal, mereka menjadi santri kalong yang menuntut ilmu di pondok pesantren. Gaya berbusana penduduk sekitar memang khas Islami. Para pria sehari-hari mengenakan kain sarung, berbaju koko putih, dan berkopiah. Perempuannya berkebaya dan berkerudung. Yang khas dari Mlang lainnya adalah, basis kewirausahaan sosial warganya yang kuat. masyarakat Mlangi dikenal sebagai pengusaha konveksi yang bisa bertahan hingga sekarang. malioboro, Borobudur, bahkan mancanegara, merupakan pasar yang komoditas konveksinya beralsal darui Mlangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar