EKSESTENSI
PASAR TRADISIONAL DI ERA GLOBALISASI : STUDI KASUS PEMBANGUNAN PASAR
TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA
Pembahasan
ini disususn guna memenuhi salah satu tugas
Ujian
Tengah Semester Mata Kuliah Kajian Wilayah
Dosen pengampu Drs. Agus Sudarsono M.Pd
Disusun oleh :
Hida Mujahida Basori
NIM. 12416241060
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Indonesia dengan jumlah penduduk yang
mencapai lebih dari 200 juta jiwa, merupakan pangsa pasar yang sangat
menjanjikan. Tidak salah bilaperitel skala besar, baik yang berasal dari dalam
maupun luar negeri, memanfaatkan potensi tersebut dengan cara mengembangkan
pasar modern di negeri ini. Saat ini, dampaknya sungguh luar biasa. Hampir di
setiap sudut kota (bahkan desa), dengan mudah kita dapat menemukan pasar modern
tersebut. terutama mini market. Kata ‘globalisasi’ di ambil dari kata global,
yang maknanya ialah universal. Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki
hubungan dengan peningkatan keterkaitan antar bangsa dan antar manusia di
seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan
bentuk-bentuk interaksi yang lain. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai
banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi, dan istilah ini
sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi
yang dikaitkan dengan berkurangnya peran Negara atau batas-batas Negara.
Hubungan internasional berlangsung dalam masyarakat internasional.
Globalisasi menggambarkan, bahwa warga
dunia semakin menyatu. Mereka memiliki pola hubungan yang semakin erat.
Kehidupan dunia seperti itu digambarkan sebagai desa yang mengglobal (global
village). Dengan globalisasi seluruh bangsa dan Negara di dunia semakin terikat
satu sama lain, mewujudkan suatu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan
batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Dalam dunia ekonomi, globalisasi
merupakan suatu alat yang dapat memacu manusia dalam menghasilkan barang dan
jasa yang berkualitas. Manusia akan merasa terdorong untuk mengikuti arus
globalisasi yang mengedepankan tenaga SDM yang berkualitas. Sehingga mau tidak
mau manusia akan bersaing untuk kehidupan di era globalisasi tersebut.
Di Indonesia sendiri, globalisasi telah
masuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
Indonesia. Disadari atau tidak kita telah dipengaruhi dan mengikuti
perubahan-perubahan global yang berasal dari luar negeri seperti teknologi
komunikasi berupa handphone. Telepon genggam (handphone) sekarang tidak hanya
dimiliki dan dipakai oleh masyarkat
yang tinggal di perkotaan, akan tetapi sudah sampai ke masyarakat
pedesaan. Hal ini merupakan bentk positif dari pengaruh globalisasi, karena
dengan semakin tinggi teknologi komunikasi dapat mempermudah manusia untuk
saling berinteraksi setiap waktu tanpa harus bertemu langsung dengan lawan
bicara.
Selain dampak positif itu, globalisasi
juga memberikan dampak negatif yang cukup signifikan. Contohnya dalam pasar
tradisional. Pengaruh globalisasi dalam pasar tradisional di berbagai tempat di
Indonesia mengharuskan banyak dari penjual di pasar tradisional ‘gulung tikar’.
Hal ini seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, karena
seperti yang kita ketahui bersama bahwa mayoritas penduduk Indonesia merupakan
masyarakat kelas menengah ke bawah.
Pasar tradisional juga merupakan roh
kehidupan mayoritas masyarakat
Indonesia, karena di dalamnya terdapat Interaksi sosial yang merupakan ciri
umum orang Indonesia. Interaksi tersebut disebabkan karena faktor simpati.
Biasanya antara penjual dan pembeli terjalin rasa saling tertarik yang muncul
karena kebiasaan dan membuatnya merasa seolah-olah berada dalam keadaan yang
sama, sehingga walaupun tujuan utama dari penjual adalah mencari keuntungan,
akan tetapi gara-gara diantara mereka sudah terjalin perasaan saling pengertian
maka harga barang yang diperjual-belikan tidak akan pernah dipermasalahkan.
Harga barang tersebut bisa lebih rendah jauh di bawah harga normal.
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan
mampu memperjuangkan peran pasar-passar tradisional yang semakin terbenam
seiring semakin gencarnya serangan globalisasi melalui pasar-pasar modern
seperti mall-mall, supermarket, indomart dan lain sebagainya. Seandainya
pemerintah tidak segera membantu pemulihan peran pasar tradisional dan terlalu
menikmati pengaruh globalisasi, maka dalam beberapa tahun kedepan dapat
dipastikan kita tidak akan melihat lagi pasar-pasar tradisional. Kita tidak
akan melihat pola interaksi yang cukup menarik yang terjadi di pasar
tradisional tersebut
PEMBAHASAN
1.
PASAR TRADISIONAL
Pengertian Pasar
Pasar
dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam
hal ini lebih condong ke arah pasar tradisional. Sedangkan dalam arti luas
adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih
condong ke arah pasar modern. Permintaan dan Penawaran dapat berupa barang atau
jasa. Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007 mendefinisikan
pasar sebagai area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari
satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional,
pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Pasar dalam pengertian teori
ekonomi adalah suatu situasi seorang atau lebih pembeli (konsumen) dan penjual
(produsen dan pedagang) melakukan transaksi setelah kedua pihak telah mengambil
kata sepakat tentang harga terhadap sejumlah (kuantitas) barang dengan
kuantitas tertentu yang menjadi objek transaksi. Kedua pihak, pembeli dan
penjual, mendapatkan manfaat dari adanya transaksi atau pasar. Pihak pembeli
mendapatkan barang yang diinginkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya
sedangkan penjual mendapatkan imbalan pendapatan untuk selanjutnya digunakan
untuk membiayai aktivitasnya sebagai pelaku ekonomi produksi atau pedagang.
Pasar tradisional adalah salah satu komponen
utama pembentukan komunitas masyarakat baik di desa maupun di kota sebagai
lembaga distribusi berbagai macam kebutuhan manusia seperti makanan, sumber
energi, dan sumberdaya lainnya. Pasar berperan pula sebagai penghubung antara
desa dan kota, perkembangan penduduk dan kebudayaan selalu diikuti oleh
perkembangan pasar sebagai salah satu pendukung penting bagi kehidupan manusia
sehari-hari terutama di kawasan perkotaan.
Pada saat ini pusat-pusat perbelanjaan modern berkembang
dengan pesat sampai kepinggiran kota kecamatan, namun peranan pasar tradisional
masih tetap penting dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Pasar tradisional
merupakan tempat untuk mendapatkan berbagai keperluan dan kebutuhan pokok
mayoritas penduduk di tanah air dengan harga yang terjangkau. Jumlah pasar
tradisional di Indonesia lebih dari 13.450 dengan jumlah pedagang berkisar
12.625.000 orang (APKASI, 2003). Pasar tradisional masih merupakan wadah utama
penjualan produk-produk kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi
berskala menengah, kecil dan mikro yaitu para petani, nelayan, pengrajin dan
home industri (industri rakyat). Para pedagang yang pada umumnya menggunakan
modal sendiri dalam jumlah pas-pasan memulai usahanya, berjumlah puluhan juta
dan menyandarkan hidupnya kepada pasar tradisional. Pada sisi lain, interaksi
sosial sangat kental terjadi di dalam pasar tradisional, karena mekanisme
transaksinya menggunakan metode tawar menawar. Para pedagang atau produsen dan
pembeli atau konsumen dapat secara langsung berkomunikasi dan saling mengenal
lebih jauh, bukan hanya menyangkut barang yang diperdagangkan tetapi juga
menyangkut hal lainnya. Di pasar tradisional budaya masing-masing yang terkait
dengan jenis masakan dan cara berpakaian, telah berkumpul dan berintekraksi
dengan damai dengan latar belakang suku dan ras mulai dari keturunan Arab,
Cina, Batak, Padang, Sunda, Jawa, Madura, Bugis dan lainnya. Selain itu, pasar
tradisional selalu menjadi indikator nasional dalam kaitannya dengan pergerakan
tingkat kestabilan harga atau inflasi domestic.
Dalam menghitung inflasi, harga kebutuhan pokok penduduk yang dijual di pasar
tradisional seperti beras, gula, dan sembilan kebutuhan pokok lainnya menjadi
objek monitoring ahli statistik setiap bulannya, (www.menlh.go.id/pasarberseri/Pasarberseri.pdf.).
Pasar Tradisional
Pasar tradisional
merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya
transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses
tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan
dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.
Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain,
pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang
menjual kue-kue dan
barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia,
dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk
mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara
lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di
Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan
menghadapi serangan dari pasar modern. Dalam hal ini saya akan membahas
mengenai pembangunan pasar tradisional yang berada di Tradisional Di Dusun
Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.
2.
GLOBALISASI
Pengertian Globalisasi
Menurut Kamus Bahasa
Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, mengartikan global
dengan concerning the whole earth. Maksudnya sesuatu yang berkaitan
dengan dunia internasional atau seluruh alam jagad raya. Sesuatu hal yang
dimaksud disini dapat berupa masalah, kejadian, kegiatan, atau bahkan sikap
yang sangat berpengaruh dalam kehidupan yang lebih luas.
Menurut John Huckle,
globalisasi adalah suatu proses dengan mana kejadian, keputusan, dan kegiatan
di salah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi
individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Sementara itu, Albrow mengemukakan
bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses di mana manusia di bumi ini
diinkorporasikan (dimasukkan) ke dalam masyarakat dunia tunggal, masyarakat
global. Karena proses ini bersifat majemuk, kita pun memandang globalisasi di
dalam kemajemukan.
Menurut Prijono
Tjjiptoherijanto, konsep globalisasi pada dasarnya mengacu pada pengertian
ketiadaan batas antar negara (stateless). Konsep ini merujuk pada
pengertian bahwa suatu negara (state) tidak dapat membendung “sesuatu”
yang terjadi di negara lain. Pengertian “sesuatu” tersebut dikaitkan dengan
banyak hal seperti pola perilaku, tatanan kehidupan, dan sistem perdagangan.
Dari beberapa definisi
tersebut dapat dikatakan bahwa “globalisasi” merupakan suatu proses
pengintegrasian manusia dengan segala macam aspek-aspeknya ke dalam satu
kesatuan masyarakat yang utuh dan yang lebih besar.
Pengaruh Globalisasi terhadap Perekonomian Indonesia
Globalisasi menciptakan
ketergantungan antara suatu negara dengan negara lainnya. Globalisasi juga
merupakan sarana perdagangan antar negara yang nyaris tanpa batas, karena
mudah, tarif, bea masuk dan pajaknya pun juga rendah. Globalisasi ditunjukkan
dalam berbagai produk yang berasal dari negara-negara lain. Misalnya di
Indonesia hampir semua barang merupakan produk cina mulai dari televisi, dvd
player, sampai handphone pun merk china. Globalisasi juga memberikan kemudahan
untuk mendapatkan sesuatu yang berasal dari negara-negara lain. Misalnya kita
menginginkan suatu barang dari negara lain, maka kita tinggal mengirimnya
melalui pesawat atau lainnya. Selain itu kita juga bisa mendapatkan informasi
mengenai keadaan negara lain dengan cepat dan mudah yaitu melalui internet,
televisi ataupun media lainnya. Perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi
antara lain:
a.
Globalisasi produksi
yaitu dimana perusahaan berproduksi di negara dimana sumber daya itu berada.
Hal ini dilakukan karena dapat mengurangi biaya dan upah untuk tenaga kerjanya
jadi lebih murah
b.
Globalisasi pembiayaan
yaitu perusahaan dapat memperoleh pembiayaan atau pinjaman dari berbagai negara
yang ada di dunia
c.
Globalisasi tenaga
kerja yaitu perusahaan akan mampu mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan
profesional sesuai dengan bidang keahliannya di berbagai Negara
d.
Globalisasi jaringan
informasi yaitu suatu negara dapat dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan
informasi negara lain melalui televisi, internet, radio, dan sebagainya
e.
Globalisasi perdagangan
yaitu menyamakan tarif untuk ekspor impor semua negara sehingga kegiatan
perdagangan menjadi semakin cepat dan persaingan juga sehat.
Indonesia merupakan
negara yang sebagaian besar sektor ekonominya dalam bentuk UMKM sehingga hal
tersebut akan mempersulit indonesia untuk memasuki pasar global karena UMKM
memiliki keterbatasan dengan modal dan teknologi. Apabila pada masa mendatang
indonesia tidak mampu menghadapi persaingan perdagangan global, maka indonesia
akan lebih bergantung pada negara-negara lain. Menghadapi persaingan global
akan mengakibatkan kemenangan bagi yang kuat dan kekalahan bagi yang lemah
dalam bersaing.
Globalisasi memasuki
pasar dengan cara yang sistematis dengan tahapan pasar domestik, internasional,
multinasional, global, dan transnasional melalui produk dan jasa, teknologi,
budaya, dan sebagainya. Salah satu bentuk globalisasi yaitu di daerah depok,
ada sebuah pasar tradisional yaitu pasar depok lama. Tidak jauh dari situ
terdapat mall, di dalam mall tersebut terdapat supermarket. Akibat dari hal
tersebut yaitu pasar tradisional akan mati dengan sendirinya secara perlahan
karena kalah bersaing dengan supermarket yang ada di dekat pasar tersebut
Lima karakteristik globalisasi:
a.
Terjadinya pertumbuhan
transaksi keuangan antar negara (internasional)sangat cepat
b.
Pertumbuhan perdagangan
yang sangat cepat
c.
Gelombang investasi asing
langsung
d.
Timbulnya pasar global
e.
Penyebaran teknologi
Dengan kelima
karakteristik tersebut, akan timbul konsekuensi bagi perekonomian indonesia
dalam UMKM, Swasta, maupun BUMN. Ini dikarenakan lemahnya UMKM dalam mengakses
sumber-sumber ekonomi sementara swasta dan BUMN juga sering kalah dalam
bersaing pada skala global.
Globalisasi seperti
sistem ekonomi yang terdiri dari negara-negara kuat dan pemilik modal. Ini sama
saja dengan sistem ekonomi kapitalis karena hanya sebagian kecil masyarakat
yang akan menikmati globalisasi. Sedangkan UMKM akan mati karena ketidakmampuan
mereka untuk menghadapi efisiensi dengan kemampuan swasta besar dalam
mengoptimalkan mesin-mesin industri yang mereka miliki.
3.
POTENSI DAERAH SEKITAR
PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN,
YOGYAKARTA
Pasar tradisional yang
berada di Dusun Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta termasuk pasar yang dikelola oleh Pemerintah
Desa.pasar yang baru berdiri sekitar 3 bulan yang lalu ini merupakan sebuah aset ekonomi dan budaya di
tingkat desa, tetapi seiring perkembangan pasar modern yang begitu pesat lambat
laun mengancam keberadaan pasar tradisional.
Upaya manusia untuk memenuhi
kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia itu ada. Salah satu kegiatan
manusia dalam usaha memenuhi kebutuhannya adalah memerlukan adanya pasar
sebagai sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk
salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini didasari
oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber pada problem
untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok). Manusia sebagai makhluk
sosial dalam perkembangannya juga menghadapi kebutuhan sosial untuk mencapai
kepuasan atas kekuasaan, kekayaan dan martabat.
Pasar
adalah tempat dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli. Pasar di
dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang
keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli
menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang
yang masuk ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar
main saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi
tentang suatu hal. Pasar desa memegang peranan yang sangat penting pada
masyarakat pedesaan. Pasar, pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai
pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Hal ini
menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan
yang berlangsung di dalam suatu masyarakat. Melalui pasar ditawarkan
alternatif-alternatif kebudayaan yang berlainan dari kebudayaan setempat.
Pasar memiliki kontribusi yang besar
bagi kehidupan masyarakat pedesaan, tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga di
bidang sosial dan budaya. Pasar desa pada masyarakat pedesaan dapat diartikan
sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan
kebudayaan yang berlangsung dalam suatu masyarakat. Untuk itu pasar desa harus
mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya Pemerintah Desa sebagai tonggak
ekonomi pedesaan. Dan juga diperlukan suatu upaya pemberdayaan terhadap pasar
desa agar tetap terjaga eksistensinya untuk mampu bersaing dengan pasar modern.
Pasar tradisional saat ini masih menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi
penting bagi sebagian masyarakat Indonesia. Berbagai kendala dan perubahan yang
terjadi telah meminggirkan pasar tradisional yang telah lama memiliki fungsi
redistribusi produk-produk yang dihasilkan masyarakat. Perbaikan manajemen
pasar tradisional diharapkan dapat meningkatkan daya saing, efisiensi
pembiayaan dan pengelolaan lingkungan. Pada kondisi demikian, diperlukan
pemikiran ulang akan keberadaan pasar tradisional. Dua hal perlu dicermati
dalam hal ini, yaitu: (1) diperlukan pemikiran untuk meningkatkan kinerja dan
tampilan pasar tradisional dan (2) ajakan perlunya mengedepankan produk ramah
lingkungan dan menumbuhkan rasa cinta produk-produk sendiri.
Oleh
karena itu, pasar desa harus dilindungi dan dikembangkan sebagai tonggak
ekonomi pedesaan serta diperlukan suatu upaya pemberdayaan terhadap pasar
tradisional agar terjaga eksistensi pasar tradisional untuk tetap mampu
bersaing dengan pasar modern serta dapat terus memberikan kontribusi bagi desa
maupun Pendapatan Asli Daerah yang dikelola oleh Dinas setempat.
4.
OPTIMALISASI POTENSI
DAERAH SEKITAR PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO,
GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
Pasar tradisional merupakan tempat
menilai tingkat perekonomian masyarakat di desa kecamatan, dan seyogyanya
kesejahteraan masyarakat merupakan tingkat tertinggi keberhasilan pemerintah
dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai aparatur yang bekerja untuk
rakyat. Dalam pembangunan dan pengembangan pasar tradisional di daerah-daerah
kecamatan, adapun faktor yang menjadi penimbang yaitu pengukuran jumlah
penduduk untuk mengetahui substansi kebutuhan masyarakat setempat, agar
pembangunan sarana pasar sesuia dengan kebutuhan penduduk.
Tujuan
utama pelaksanaan pengembangan pasar tradisional adalah menciptakan
kesejahteraan masyarakat, salah satu upaya
dalam mencapai hal tersebut dengan mengembangkan
pasar tradisional yang mulai tidak layak digunakan karena pengembangan
adalah awal dari pemberdayaan sarana fasilitas pemerintah dan masyarakat. Jika masyarakat makin merasa puas dengan tindakan
pengembangan pasar yang dilakukan pemerintah daerah maka masyarakat akan
memberikan kepercayaan kepada pemerintah, begitupun sebaliknya pemberdayaan fasilitas
sarana ekonomi khususnya pasar tradisional merupakan salah satu pilar dalam
terciptanya good governance.
Peran
Pemerintah Daerah merupakan hal mutlak yang menjadi tolak ukur berlangsungnya
pembangunan pasar tradisional, karena
dalam paradigmag good governance
pemerintah daerah punya peran penting dalam membangun daerahnya. Pasar
Tradisional dalam sebuah daerah merupakan sarana yang menjadi tolak ukur mutlak
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di daeah-daerah kecamatan
yang jauh dari pusat kota yang perkembangan ekonomi masyarakatnya melonjak
dengan cepat.
5.
PASAR TRADISIONAL DAN
PERMASALAHANNYA. STUDI KASUS PEMBANGUNAN PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI,
NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
Pasar tradisional selama ini kebanyakan terkesan kumuh, kotor,
semrawut, bau dan seterusnya yang merupakan stigma buruk yang dimilikinya.
Namun demikian sampai saat ini di kebanyakan tempat masih memiliki pengunjung
atau pembeli yang masih setia berbelanja di pasar tradisional. Memang tidak
dapat dipungkiri bahwa banyak juga pasar tradisional yang dalam perkembangannya
menjadi sepi, ditinggalkan oleh pengunjung atau pembelinya yang beralih ke
pasar moderen.
Stigma yang melekat pada pasar tradisional secara umum dilatarbelakangi
oleh perilaku dari pedagang pasar, pengunjung atau pembeli dan pengelola pasar.
Perilaku pedagang pasar dan pengunjung dan pengunjung atau pembeli yang negatif
secara perlahan dan bertahap dapat diperbaiki, sekalipun memerlukan waktu lama.
Keterlibatan pengelola pasar dalam perbaikan perilaku ini adalah suatu
keniscayaan.
Melekatnya stigma buruk pada pasar tradisional, seringkali
mengakibatkan sebagian dari para pengunjung mencari alternatif tempat belanja
lain, di antaranya mengalihkan tempat berbelanja ke pedagang kaki lima dan
pedagang keliling yang lebih relatif mudah dijangkau (tidak perlu masuk ke
dalam pasar). Bahkan kebanyakan para pengunjung yang tergolong di segmen
berpendapatan menengah bawah ke atas cenderung beralih ke pasar moderen,
seperti pasar swalayan (supermarket dan minimarket) yang biasanya lebih
mementingkan kebersihan dan kenyamanan sebagai dasar pertimbangan beralihnya
tempat berbelanja.
Seringkali dikesankan bahwa perilaku pedagang yang menjadi penyebab
utama terjadinya kondisi di kebanyakan pasar tradisional memiliki stigma buruk.
Sebaliknya, di lapangan di lapangan dijumpai peran pengelola pasar terutama
dari kalangan aparatur pemerintah dalam mengupayakan perbaikan perilaku
pedagang pasar tradisional masih sangat terbatas. Banyak penyebab yang
melatarbelakangi kondisi ini. Dimulai dari keterbatasn jumlah tenaga dan
kemampuan (kompetensi) individu tenaga pengelola pengelola serta keterbatasan
kelembagaan (organisasi) pengelola pasar untuk melakukan pengelolaan pasar dan
pembinaan pedagang, Selanjutnya permasalahan yang dihadapi oleh para pengelola
pasar di lapangan tidak terlepas dari Kebijakan pimpinan daerah dan para
pejabat di bawahnya (Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah-SKPD) di tingkat
Kabupaten atau Kota.
Kepedulian Pimpinan Daerah dan Para Pejabat di bawahnya terhadap
pasar tradisional menentukan kebijakan dan bentuk organisasi dari instansi
(SKPD) yang membidangi pasar tradisional di daerahnya. Di beberapa daerah,
pimpinan daerah meletakkan posisi pasar semata-mata sebagai salah satu sumber
utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi yang dipungut dari para
pedagang. Sehingga kebijakan yang dikeluarkan oleh Pimpinan Daerah
(Bupati/Walikota) dan Pejabat Daerah di tingkat bawahnya (Kepala SKPD) lebih menekankan
pada hal-hal yang berkaitan dengan optimalisasi pemungutan retribusi pasar,
seperti Pengaturan Pemungutan dan Penyetoran Retribusi serta Administrasi
Keuangan (pembukuan) Retribusi semata daripada penekanan pada pembinaan pasar
termasuk di dalamnya pembinaan para pengelola pasar dan pedagang pasar. Akibat
dari adanya kebijakan optimalisasi pemungutan retribusi tersebut, maka kepada
para Kepala Pasar diberikan target-target yang untuk mencapainya pasar
diusahakan sedemikian rupa agar dapat menampung pedagang dalam jumlah sebanyak
mungkin, termasuk mengisi sebagian tempat-tempat kosong seperti tangga dan
lorong-lorong pasar yang seharusnya dibiarkan tetap kosong tanpa pedagang agar
para pengunjung tetap nyaman berlalu lalang.
6.
ANALISIS PEMBANGUNAN
PASAR TRADISIONAL DI DUSUN MLANGI, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
MENURUT TEORI HETTNER
1.
Letak/lokasi
Dusun Mlangi, terletak di sebelah Barat
laut Kota yogyakarta, tepatnya di desa mlangi, Nogotirto, Gamping,
Sleman, Yogyakarta. Dari perempatan Ringroad Demakijo ke arah utara hingga
disebelah kanan atau timur dijumpai rumah Sakit Queen Lativa belok kiri
kurang lebih 500 meter akan sampai di desa Mlangi
2.
Luas wilayah
Luas wilayah dusn mlangi 30.865 Ha.
Dengan batas wilayah sebelah utara dusun salakan, selatan dusun sawahan,
sebelah timur dusun mipitan, dan sebelah barat dusun jetis.
3.
iklim
Tipe iklim di dusun mlangi termasuk
kedalam "AM dan AW", curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan 119
hari hujan, suhu rata-rata 27,2°C dan kelembaban rata-rata 24,7%. Angin
pada umumnya bertiup angin muson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya
dengan arah 220° bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim
kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° - 140°
dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam.
4.
sejarah
Dusun Mlangi dahulunya merupakan hadiah
atau pemberian Sultan Hamengku Buwono I terhadap kerabatnya yakni Kyai
Nur Iman yang bernama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo, yang merupakan putra
dari RP. Suryo Putro, putra sulung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I, Kemudian
pemberian tersebut oleh Kyai Nur Iman dijadikan tempat pengembangan agama
islam. Kemudian mendirikan tempat mengajar bagi para santri, atau dalam bahasa
jawa dikatakan mulangi dan akhirnya tersebut Mlangi.
5.
Penduduk
Saat ini dusun Mlangi terdapat
sedikitnya 10 pesantren, mengelilingi masjid Jami’, seblah utara Al Falakiyah,
Timur Al-Huda, selatan Al-Salafiyah, Al Salafiyah merupakan pesantren yang
tertua dibangun sejak 5 juli 1921 oleh KH. Masduki dan santrinya saat ini sudah
mencapai 300 orang santri. Dan setiap bulan ramadhan desa ini sangat ramai
dengan kegiatan ritual ibadah yang dijalankan pendududk setempat, bahkan peserta
kegiatan tidak hanya berasal dari dusun mlangi saja namun beberpa warga sekitar
juga ikut ambil bagian tersebut. Yang membedakan pesantren Mlangi dengan
pesantren lainnya adalah bahwa pesantren Mlangi dilahirkan oleh Masyarakat.
Antara pesantren dan masyarakat merupakan suatu komunitas sosial yang sama.
berbeda dengan pesantren-pesantren lainnya yang rata-rata dilahirkan oleh tokoh
atau kyai yang "mbabat" alas di suatu tempat. karenanya, hampir 100%
warga Mlangi menikmati pendidikan pesantren. dampak dari itu, kapasitas warga
Mlangi dalam membaca kitab kuning dibandingkan dengan santri luar yang mengjai
pesantren Mlangi tidak kalah mutunya. Sambil belajar di sekolah-sekolah formal,
mereka menjadi santri kalong yang menuntut ilmu di pondok pesantren. Gaya berbusana
penduduk sekitar memang khas Islami. Para pria sehari-hari mengenakan kain
sarung, berbaju koko putih, dan berkopiah. Perempuannya berkebaya dan
berkerudung. Yang khas dari Mlang lainnya adalah, basis kewirausahaan sosial
warganya yang kuat. masyarakat Mlangi dikenal sebagai pengusaha konveksi yang
bisa bertahan hingga sekarang. malioboro, Borobudur, bahkan mancanegara,
merupakan pasar yang komoditas konveksinya beralsal darui Mlangi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar