BAB II
PEMBAHASAN
Lahirnya
Politik Etis
Pada
permulaan abad 20, kebijakan penjajahan Belanda mengalami perubahan arah yang
paling mendasar dalam sejarahnya. Kekuasaannya memperoleh definisi kewilayaan
baru dengan selesainya upaya-upaya penaklukan. Kebijakan kolonial Belanda untuk
mengeksploitasi terhadap Indonesia mulai berkurang sebagai pembenaran utama
bagi kekuasaan Belanda, dan di gantikan dengan pertanyaan-pertanyaan
keperihatinan atas kesejateraan bangsa Indonesia. kebijakan ini di namakan Politik
Etis. Masa munculnya kebijakan ini mengakibatkan perubahan-perubahan yang akan
dapat memahami sejarah Indonesia pada awal abad 20 apabila tidak mengacu pada
kebijakan. Namun Politik Etis hanya menmpilkan banyak janji-janji dari pada
penampilanya, dan fakta-fakta penting tantang eksploitasi dan penaklukan dalam
kenyataan tidak mengalamim perubahan.
Politik Etis
atau politik balas budi berakar pada masalah kemanusiaan maupun
keuntungan ekonomi. Kecaman-kecaman terhadap pemerintahan bangsa Belanda yang di
lontarkan dalam novel Max Havelaar dan sebagai pengungkapan yang lainnya mulai
menambahkan hasil. Semakin banyak yang mendukung pemikiran untuk mengurangi
penderitaan rakyat Indonesia. selama zaman liberal (1870-1900) kapitalisme
swasta memainkan pengaruh yang sangat menentukan terhadap kebijakan penjajahan.
Industri Belanda mulai melihat Indonesia sebagai pasar yang potesial yang
standar hidupnya perlu di tingkatkan. Modal Belanda maupun Internasional
mancari peluang-peluang baru bagi investasi dan eksploitasi bahan-bahan mentah,
khususnya di daerah-daerah luar jawa, terasa adanya kebutuhan tenaga kerja
Indonesia dalam perusahaan-perusahaan modern. Oleh kerena itulah, maka
kepentingan-kepentingan perusahaan mendukung keterlibatan penjajah yang semakin
intensif untuk mencapai ketenteraman, kesejatraan, keadilan dan moderitas.
Pihak yang beraliran kemanusiaan membenarkan apa yang dipikirkan kalangan
pengusaha itu akan menguntungkan, dan lahirlah Politik Etis.
Pada tahun
1899 C Th. Van Deventer, seorang ahli hukum yang pernah tinggal di Indonesia
selama 1880-1897, menerbitkan sebuah artikel yang berjudul Een
eereschuld (suatu hutang kehormatan) di dalam majala berkala
Belanda de Gids. (Baudet, 1987: 16). Ia menyatakan bahwa negeri
Belanda berhutang kepada Indonesia terhadap semua kekayaan yang telah diperas
dari negeri Indonesia. Hutang ini sebaiknya dibayarkan kembali dengan jalan
memberi prioritas utama kepada kepentingan rakyat Indonesia.
Pada tahun
1901 Ratu Wilhelmina (1890-1948) menumumkan saatu penyelidikan tentang
kesejateraan masyarakat yang berada di Jawa, dan demikian politik etis secara
resmi di sahkan. Isi pidato raja Belanda yaitu : “ sebagai negeri Kristen,
Nederland berkewajiban di kepulauan Hindia Belanda untuk lebih baik mengatur
kedudukan legal pendudukan pribumi, memberikan pada dasar yang tegas kepada
misi Kristen, serta meresapi keseluruhan tindak laku pemerintahan dengan
kesadaran bahwa Nederland mempunyai kewajiban moral untuk memenuhinya terhadap
penduduk di daerah itu. Berhubung dengan itu, kesejateraan rakyat Jawa yang
merosot memerlukan perhatian khusus. Kami meningkatkan diadakannya penelitian
tentang sebab-sebabnya”.(Nasution, 1983:15)
Pada tahun
1902 Alexander W.F. Idenburg menjadi Menteri Urusan Daerah-daerah Jajahan, maka
Idenburg mempunyai lebih banyak kesempatan dari pada siapa saja untuk
mempraktekan pemikiran-pemikiran politik Etis. Pihak Belanda pun menyebutkan
tiga prinsip yang di anggap dasar kebijakan baru tersebut : edukasi, imigrasi,
dan irigasi. Untuk melaksanakan proyek tersebut di perlukan adanya dana
sehingga Politik Etis dapat berjalan.
Akan tetapi
semua usaha akan sia-sia tanpa pendidikan massa. Pendidikan dan emansipasi
bangsa Indonesia secara berangsur-angsaur itulah inti Politik Etis. Pendidikan
Indonesia harus di arahkan dari ketidakmatangan yang di paksakan agar berdiri
di atas kaki sendiri. Mereka harus di berikan lebih banyak tanggung jawab dalam
administrasi oleh orang-orang pribumi. Banyak diantara penganut Politik Etis
yakni bahwa Indonesia harus berkembang menjadi kebudayaan Barat. Pada tahap
pertama golongan aristokrasi yang harus terkena pengaruhnya kebudayaan Barat.
Usaha westernisasi penduduk asli kemudian dikenal sebagai asosiasi. Tujuannya
ialah menjembatani Timur dan Barat, orang Indonesia dengan orang Belanda. Yang
di jajah dengan yang menjajah. Bahwa timbul asimlasi yang bertujuan
memberikan tanah jajahan struktur sosial dan politik yang sama dengan negeri
Belanda. Sampai saat meninggalnya pada tahun 1915 Deventer adalah salah satu
pencetus politik etis yang terkenal, sebagai penasehat pemerintah dan anggota
parlemen.
2.1 Isi
Politik Etis di Indonesia
Fock
berpendapat bahwa pendidikan yang lebih baik akan memperkuat kaum pribumi dalam
administrasi, Fock juga menyarankan agar di usahakan irigasi, pembangunan rel
kereta api, pembelian kembali tanah-tanah partikelir ; untuk membangn
kesejateraan rakyat di sarankan untuk membangun irigasi. Pemberikan kredit
untuk pertanian, dan mendorong industry. Dari laporan-laporan itu terbukti
bahwa tidak lagi politik kolonial liberal yang di anut sepenuhny. Tetapi
cenderung untuk memberikan kesempatan negar untuk ikut campur. Negeri Belanda
diharapkan memberikan sumbangan untuk memajukan keadaan di Indonesia. yang
terutama ialah perkembangan materiil, tampa di perhitungkan apa yang
sesunggunya menjadi keperluan rakyat Indonesia.(Marwati Djoened Poesponegoro,
1993 : 37)
Dalam
politik kewajiban moril yang telah di dukung oleh semua golongan, dinyatakan
bahwa negeri Belanda harus memperhatikan kepentingan pribumi dan membantu
Indonesia dalam masa kesulitan. Politik etis mulia di laksanakan dengan
memberikan bantuan sebesar f. 40 juta gulden. Sesuatu pemberian yang telah
bertahun-tahun diperjuangakan oleh kaum etis yang semua menuntut pengembalian
jutaan yang telah di ambil oleh Nederland. (Simbolon, Parakitri 2007 : 192-193)
Politik Etis
mengubah pandangan orang pada politik kolonial yang beranggapan Indonesia tidak
lagi sebagai wingewest (daerah yang menguntungkan) menjadi daerah yang perlu
dikembangkan sehingga dapat dipenuhi keperluannya, dan di tingkatkan budaya
rakyat pribumi. Perhubungan kolonial antara Belanda dan Indonesia perlu
di selaraskan dengan perkembangan di luar Indonesia yang menuntut agar kolonial
meninggalkan politik eksploitasi yang meterialistik. Kaum etit melancarkan
kritik terhadap politik kolonial liberal yang telah memperjuangkan kebebasan
kerja dan kebebasan eksploitasi partikelir. Mereka berpendapat bahwa kebebasan
bekerja dan usaha menguntungkan selama 20 sampai 30 tahun tetapi kemudian teryata
ada eksploitasi yang lemah oleh yang kuat dan kemakmuran yang kedua menimbulkan
penderitaan yang pertama. Perubahan politik kolonial juga di percepat oleh
perkembangan ekonomis sekitar tahun 1900. Perkebunan gula dan kopi mengalami
kerugian besar karena terserang penyakit, industry perkebunan yang mengalami
kemajuan pesat sejak tahun 1970 dan karena perbaikan teknis dapat mengatasi
krisis dan wabah penyakit tebu sehingga politik kolonial liberal mencapai hasil
yang baik dengan keuntungan-keuntungan yang bejuta-juta gulden. Dalam keadaan
itu banyak modal asing ditanam secara besar-besaran. Sehingga tidak dipikirkan
rakyat yang di tengah-tengah kemajuan dan perkembangan industri perkebunan.
Pada kenyataan kemakmuran rakyat terancam, karena perusahaan-perusaahan pribumi
mengalami kemunduran. Disamping itu juga kepentingan materiil dan moral rakyat.
Antara lain di bidang irigasi, pendidikan, kerja rodi dan perpajakan. Masalah
politik etis harus dimulai dengan politik kesejateraan bagi rakyat kebanyakan,
justru adanya kemerosatan kehidupan rakyat yang dinyatakan oleh Dr. Kuyper,
sistem eksploitasi harus dig anti dengan sistem perwakilan, kemudian sistem
politik juga sering di sebut politik peternalistis, yaitu suatu urusan dari
satu pihak ( pihak Belanda) untuk keperluan rakya-rakyat pribumi, sehingga
berlaku sebutan politik yang bersemboyan chezvous, pour vous, sans vous.
Kapitalisme
kolonialis pada awal abad ke 20 mengalami perkembangan sangat pesat; aliran
emas dari Indonesia semakin besar, produksi gula meningkat sekali, menjadi
berlipat dua kali antara 1904-1913. Tidak ketinggalan hasil dari bidang yang
lain nya juga seperti gula, lada, beras, tembakau, karet, kapuk, timah. Di
daerah-daerah luar jawa dengan kekayaan sumber alamnya produksinya naik dari f.
74 juta menjadi f. 305 juta gulden, terutama karena industri dan perkebunan
tembakau dan produksi minyak tanah.
Semuanya ini
berlangsung dalam suatu lingkungan ekonomi yang sedang berubah dengan cepat,
aksi-aksi penaklukan yang di lakukan di daerah luar Jawa telah memperluas
wilayah kekuasaan Belanda, dan daerah-daerah tersebut menjadi Fokus yang lebih
penting dari pada Jawa dalam masa pembangunan ekonomi baru. Di tangan
perusahan-perusahaan swasta dalam produksi komoditi dera tropis meningkat
dengan cepat. Dari tahun 1900 sampai 1930 produksi meningkat hampir empat kali
lipat dan produksi teh meningkat sebelas kali lipat. Produksi tembakau
berkembang pesat pada tahun 1860 an, terutama pada pesisir pantai Sumatra.
Tidak hanya itu produksi lada, kopra, timah, kopi dan komoditi-komoditi lainnya
semakin meningkat dan di kembangkan sebagian besar di luar pulau Jawa.
Ada tiga isi dari Politik Etis :
1.
Irigasi (Pengairan) dan Infrastruktur:
merupakan
program pembangunan dan penyempurnaan sosial dan prasarana untuk kesejahteraan
terutama dibidang pertanian dan perkebuna, serta perbaikan prasarana
infrastruktur. Disini masyarakat pribumi di beri pengetahuan teknologi dalam
bidang pengairan yang lebih modern, untuk mendapatkan hasil pertanian yang
lebih baik, tanpa menunggu lama seperti sebelumnya yang hanya mengandalkan
musim hujan saja untuk menghasilkkan pertanian yang baik, tetapi dengan adanya
Irigasi yang di ajarkan oleh Belanda, masyarakat pribumi dapat bercocok tanam
pada musim kemarau juga.
1.
Educate (pendidikan):
Merupakan
program peningkatan mutu SDM dan pengurangan jumlah buta huruf yang
implikas baiknya untuk pemerintah Belanda, yaitu dengan pendirian
sekolah-sekolah. Karena pelajar yang berkualitas dapat di jadikan pegawai oleh
pemerintah Belanda. Itu salah satu tujuan Belanda melakukan Politik Etis untuk
menggalih potensi masyarakat pribumi.
1.
Emigrasi (transmigrasi):
Merupakan
program pemerataan pendidikan Jawa dan Madura dengan dibuatnya pemukiman di
Sumatra Utara dan Selatan dimana dibuka perkebunan-perkebunan baru yang
membutuhkan banyak sekali pengelola dan pegawainya, Akan tetapi kebijakan
pertama dan kedua disalah gunakan untuk pemerintah Belanda dengan membanggun
irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan
memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi,
hanya pendidikan yang membawa dampak positif bagi Indonesia. selain untuk
pemerantaan penduduk, tujuan Belanda adalah membuka lahan pertanian yang baru,
dengan cara memindahkan penduduk dari daerah padat Penduduk ke daerah yang
penduduknya jarang, untuk membuka lahan pertanian baru.
Bahasa
belanda dimasukan sebagai pelajaran di beberapa Sekolah Kelas Satu dan sejumlah
kursus di buka dengan maksud itu, akan tetapi bahasa Belanda tak kunjung menjadi
bahasa rakyat. Orang Belanda sendiri tampaknya keberatan untuk memberikan
bahasa dan kebudayaan Belanda, sebagian hanya untuk merusak adat istiadat
Indonesia, akan tetapi Belanda sangat takut jika orang-orang Indonesia
menguasai kebudayan, pengetahuan, teknik, dan organisasi. Dengan itu Belanda
mendirikan lembaga pendidikan untuk mengatasi menjamurnya pendidikan
pesanteren.
Akan tetapi
dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para
pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan tersebut:
1.
Irigasi
Pengairan
hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda.
Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
2.
Edukasi
Pemerintah
Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan
tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh
rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang
yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I
untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah
kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya. Politik pendidikan kolonial
erat hubungan dengan politik mereka pada umumnya, sesuatu politik yang di
dominasi oleh golongan-golongan yang berkuasa dan tidak di dorong oleh
nilai-nilai etnis dengan maksud untuk membina kematangan politik dan
kemerdekaan tanah jajahan. Berhubungan dengan sikap itu kita dapat kita lihat
sejumlah cirri pltik dan praktis pendidikan yaitu:
1)
Gradualisme yang luar biasa dalam menyediakan pendidikan bagi anak-anak
Indonesia.
2)
Dualisme dalam pendidikan dengan menekankan perbedaan yang tajam antara
pendidikan Belanda dan pendidikan pribumi.
3)
Control sentral yang kuat
4)
Keterbatasan tujuan sekolah pribumi, dan peranan sekolah untuk menghasilkan
pegawai sebagai factor penting dalam perkembangan pendidikan
5)
Prinsip konkordasi yang menyebabkan maka sekolah di Indonesia sama dengan di
negeri Belanda.
6)
Tidak adanya perencanaan pendidikan yang sistematis utuk pendidikan anak
pribumi.
Pendirian
sekolah oleh pemerintahan kolonial Belanda, bertujuan memecah belah pribumi
Islam, sejak kanak-kanak. Dari bangaunan sekolah dan kurikulum antara anak
Indonesia dan bangsawan serta prioritas lainya di beda-bedakan. Sekaligus putra
putrid bangsawan Muslim dan putra putrid yang Islam, namun mendapatkan proritas
sekolah di sekolah Eropa. Dengan dicampurnya di sekolah Eropa, anak bangsawan
dan sultan menjadi jauh dari pengauh pembinaan ulama. (Mansur, Ahmad,
Suryanegara. 2009 : 229)
1.
Migrasi
Migrasi ke
daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan
perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang
besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya
di Deli, Suriname, dan
lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai
tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga
kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar
pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale
Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri
akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada
mandor/pengawasnya.
Demi
memudahkan penguasaan etnis maka wilayah kota dibagi-bagi dalam berbagai sub
area hunian, dapat dilihat di Jakarta antara lain adanya kampung Melayu,
kampung Bali, kampung Jawa, dan lain-lainnya. Khusus untuk etnis Ambon
mendapatkan area hunian yang terpisah dengan etnis lainya. Pemisahan ini
disebabkan oleh orang Ambon banyak yang menjadi Belanda untuk menyebarkan agama
Kristen sama halnya etnis Batak dan Manado.(Mansur, Ahmad, Suryanegara. 2009 :
228)
2.1 Dampak
Politik Etis
Dampak yang
di timbulkan oleh Politik Etis tentunya ada yang negatif dan positif namun yang
perlu kita ketahui adalah bahwa hampir semua program dan tujuan awal dari
Politik Etis banyak yang tak terlaksana dan mendapat hambatan. Namun satu
program yang berdampak positif dengan sifat jangka panjang bagi bangsa
Indonesia adalah bidang pendidikan yang akan mendatangkan golongan terpelajar
dan terdidik yang dikemudian hari akan membuat pemerintahan Belanda menjadi
terancam dengan munculnya Budi Utomo, Sarikat Islam dan berdirinya Volksraad.
Adapun dampak-dampak yang terlihat nyata adalah dalam tiga bidang :
1.
Politik : Desentralisasi kekuasaan atau otonomi bagi
bangsa Indonesia, namun tetap saja terdapat masalah yaitu golongan penguasa
tetap kuat dalam arti intervensi, karena perusahaan-perusahaan Belanda kalah
saing dengan Jepang dan Amerika menjadikan sentralisasi berusaha diterapkan
kembali. (Kartodirjo, Sartono 1990 : 56)
2.
Sosial : Lahirya golongan terpelajar, peningkatan
jumlah melek huruf, perkembangan bidang pendidikan adalah dampak positifnya
namun dampak negatifnya adalah kesenjangan antara golongan bangsawan dan bawah
semakin terlihat jelas karena bangsawan kelas atas dapat berseolah dengan baik
dan langsung di pekerjakan di perusahaan-perusahaan Belanda.
3.
Ekonomi : lahirnya sistem Kapitalisme modern, politkk
liberal dan pasar bebas yang menjadikan persaingan dan modal menjadi indikator
utama dalam perdagangan. Sehingga yang lemah akan kalah dan tersingkirkan.
Selain itu juga muculnya dan berkembangnya perusahaan-perusahaan swasta dan
asing di Indonesia seperti Shell.
Pendidikan
dan Pengajaran Sebelum Politik Etis. Pada tahun 1602 Belanda mendirikan VOC
badan usaha ini merupakan persekutuan dagang Belanda yang merebut penjajahan
Portugis di Nusantara Timur dan menetap di tempat itu. Kemudian, di dalam rapat
kapal-kapal perdagangan VOC atau kompeni membawa pendeta-pendeta yang akan
menyebarkan agama Kristen Protestan(Kartodirjo, Sartono 1990 : 30). Dengan
kegiatan penyebaran agama ini, selanjutnya berdirilah sekolah-sekolah. Adapun
tujuan didirikannya sekolah-sekolah tersebut yaitu sebagai upaya penyebaran
Agama Kristen Protestan. Materi yang diajarkan, yaitu membaca alkitab, agama
kristen, menyanyi, menulis dan menghitung. Dengan demikian, banyak sekali
permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan pada periode ini, diantaranya
seperti :
1.
Ada perbedaan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Artinya, ada sekolah-sekolah rendah Eropa dengan Bahasa pengantar Belanda dan
Sekolah rendah pribumi (kristen) dengan bahasa pengantar melayu dan Portugis.
2.
Pendirian sekolah tidak merata, hal ini disebabkan
karena di tempat itulah pusat rempah-rempah. Sekolah kejuruan tidak
diselenggarakan sama sekali sebab belum terniat oleh mereka untuk meningkatkan
taraf hidup ekonomi rakyat.
3.
Juga ada kesedihan bagi rakyat yang menganut agama
Kristen Katolik. Hal ini disebabkan karena VOC mengusir paderi-paderi dan
gereja-gereja. Oleh karena itu, sekolah-sekolah Katolik ditutup. Pendidikan dan
Pengajaran Pada Saat Politik Etis.
Diseluruh
dunia terdapat perkembangan dan pembaruan di bidang politik, ekonomi, dan
ide-ide. Hal ini mendorong pemerintah Belanda untuk memberikan lebih banyak
lagi kesempatan anak bumi putera untuk menerima pendidikan. Atas dasar itulah,
timbul suatu aliran di kalangan bangsa Belanda yang terkenal sebagai Politik
Etis (etiche politiek). Aliran ini dicetuskan oleh Van Deventer dengan semboyan
“Hutang Kehormatan”. Akhirnya, aliran ini terkenal dengan slogan edukasi,
irigasi, dan emigrsi. Selain Van Deventer, ada pula Snouck Hourgroje, tokoh
Belanda yang mendukung pemberian pendidikan kepada aristrokat Bumiputera.
Menurut balai pustaka jenis sekolah yang ada, antara lain
:Pendidikan
Rendah (lager Onderwijs). Pada hakikatnya pendidikan dasar untuk tingkat
sekolah dasar menggunakan dua sistem pokok, yaitu :
1.
Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
2.
Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah.
Pendidikan lanjutan / Pendidikan menengah (Midleboar Onderwijs).
Sebenarnya
terdapat satu jenis sekolah lanjutan menurut sistem persekolahan Belanda di
golongan sekolah dasar, yaitu sekoilah dasar yang lebih luas (Meer Vitgebreld
lagere Onderwijs) atu MULO yang berbahasa pengantar bahasa Belanda, denag lama
sekolah antara tiga sampai empat tahun. Sekolah menengah Umum (Algemeene
Middlebares School atau AMS) merupakan kelanjutan dari MULO yang berbahasa
Belanda dan diperuntukkan untuk golongan Bumiputera dan Timur Asing dengan lama
belajar tiga tahun. AMS terdiri dari 2 jurusan yaitu :
1.
Bagian A, Pengetahuan Kebudayaan.
2.
Bagian B, Pengetahuan Alam. Sekolah Warga Negara
Tinggi (Hooger Burger School atau HBS).
Sekolah ini
disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan Bumiputera, atau tokoh-tokoh
terkemuka.bahasa pengantar yang dipakai yaitu bahasa Belanda dan berorientasi
ke Eropa barat, khususnya Belanda. Lama sekolah antara tiga dan lima tahun,
pelaksanaan Politik Etis. Dalam pelaksannan Politik Etis oleh Van Deventer di
konsepsikan dalam wujud irigasi, edukasi dan emigrasi. Kekurangan Pelaksanaan
Politik Etis.
Kekurangan
dari pelaksanaan Politik Etis adalah kebijakan ini hanya dibutuhkan bagi orang
pribumi (eksklusif). Buktinya adalah pembangunan lembaga-lembaga pendidikan
hanya ditujukan untuk kalangan pribumi. Sementara orang-orang campuran tidak
dapat masuk ketempat itu. Bagi mereka yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan
yang lebih tinggi harus pergi ke Eropa, yang biayanya sangat mahal. Padangan
pemerintah colonial yang memandang bahwa hanya orang pribumilah yang harus
ditolong, di tentang oleh Ernest Douwes dekker. Menurutnya, seharusnya politik
etis ditujukan bagi semua pendidik Hindia Belanda (indies) yang didalamnya
termasuk orang Eropa yang menetap dan Tionghoa.
Daftar Pustaka
Bautet. I.J Brugmans. 1987. Politik Etis
dan Revolusi kemerdekaan. Obor : Jakarta
Djoened, Marwati, Poesponegoro dan Notosusanto,
Nugroho. 1993. Sejarah Indonesia Jilid V. Balai Pustaka : Jakarta
Nasution. 1983. Sejarah Pendidikan Indonesia.
Bumi Aksara : Bandung
Manssur, Ahmad, Suryanegara. 2009. Api Sejarah.
Salamdani : Bandung
Kartodirjo, Sartono. 1990. Pengantar Sejrah
Indonesia Baru jilid 2. Gramedia Pustaka : Jakarta
Riclefs. 2007. Sejarah Indonesia Modern.
Universitas Gajah Mada Press : Yogyakarta
Parakitri, T. Simbolon. 2007. Menjadi
Indonesia. Kompas : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar