LAPORAN WAWANCARA DENGAN KEPALA DESA NGADISARI, KOMPLEKS GUNING
BROMO
KECAMATAN SUKAPURA, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR
Laporan ini disusun guna memenuhi tugas akhir mata
kuliah
Kominikasi Interpersonal
Dosen pengampu: Raras Gistha Rosardi, M.Pd

Disusun
oleh:
|
Hida Mujahida Basori
|
12416241060
|
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari Kamis 29 Mei 2014
saya berkesempatan mewawancarai atau lebih tepatnya berbincang bincang langsung
walaupun begitu singkat dengan seseorang yang menurut saya sangat hebat., yaitu
bapak Supoyo. Beliau merupakan kepala desa Ngadisari. Secara geografis, Desa
ngadisari berada di wilayah kompleks Gunung Bromo. Desa ngadisari merupakan bagian dari kecamatan
Sukapura kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dimana desa tersebut berada tepat dengan
berbatasan kawasan wisata Gunung Bromo. Penduduk setempat adalah suku Tengger.
Luas daerah Tengger itu sendiri sekitar 40 km dari utara ke selatan dan 20-30
km dari timur ke barat, di atas ketinggian antara
1000 m dpl – 3675 m dpl.
Jarak tempuh Desa
Ngadisari dari Kota Probolinggo sekitar 40 km, sekitar 90 menit perjalanan.
Keadaan wilayah desa ini bertopografi bukit, dengan jenis tanah berupa pasir.
Suku Tengger di Desa Ngadisari sebagian besar bermata
pencaharian sebagai petani, sedangkan sebagian kecil dari mereka hidup sebagai
pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa. Bidang jasa yang mereka tekuni
antara lain menyewakan kuda tunggang untuk wisatawan, baik dalam maupun luar
negeri, menjadi sopir jeep (biasanya miliknya sendiri), dan menyewakan kamar
untuk para wisatawan. Hasil pertanian yang utama adalah sayuran.
Saya tertarik mengambil
topik wawancara singkat saya bersama bapak kepala desa ngadisari ini mengenai
keikutsertaan desa ngadisari dalam lomba desa gotong-royong tingkat nasional,
mewakili provinsi jawa timur tahun 2013 lalu.
Menurut pernyataan
beliau sebelum mengikuti lomba desa gotong royong tingkat nasional, desa
ngadisari sebelumnya mampu menjadi juara pertama dalam lomba gotong royong
terbaik tingkat provinsi. Yang menghantarkan desa ngadisari menjadi perwakilan
provinsi jawa timur, diajang yang sama di tingkat nasional. Dan pada akhirnya
prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh kabupaten probolinggo ditingkat
nasional. Ia mengatakan bahwa nilai kepatuhan, keguyuban, serta kerukunan
masyarakat tengger bisa menjadi contoh bagi masyarakat yang lain.
Dalam penilaian lomba
tersebut ada 4 indikator utama yaitu bida ekonomi, sosial, budaya dan
keagamaan, serta bidang lingkungan hidup. Desa ngadisari memiliki nilai dalam
bidang sosial budaya dan keagamaan yang dominan dibanding dengan daerah lain.
Ia berharap agar
semagat botong royong warga ngadisari dapat ditularkan kepada masyarakat di
daerah lain, dan semoga semangat gotong royong ini tidak luntur dalam kehidupan
masyarakat, karena gotong royong adalah budaya asli masyarakat indonesia.
Selain itu ia juga bersyukur atas diraihnya penghargaan tersebut. Menurutnya
menghargaan tersebut merupakan milik
segenap warga desa ngadisari. Keberhasilan ini berkat rasa gotong royong warga
yang memiliki kepedulian tinggi. Diharapkan kedepan dapat memacu masyarakat
untuk lebih aktif dalam pembangunan.
Selain mengenai
keikutsertaan desa ngadisari dalam perlombaan gotong royong tingkat nasional.
Beliau juga menerangkan mengenai keadaan masyarakat di desa ngadisari ini,
diantaranya mengenai pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan di desa ngadisari.
Masyarakat tengger pada
umumnya memang berkehidupan modern dan kehidupan , namun dalam bidang
pendidikan masih tergolong kurang memadahi. Hal ini terlihat dengan adanya
bangunan sekolah yang masih kurang layak untuk menampung anak anak tengger.
Sekolah di tengger hanya terdiri dari TK, SD, san SMP. Hal ini membutuhkan
perhatian lebih dari pemerintah setempat dan perlu tindakan serius dari ha
tersebut.
Suhu dan keadaan cuaca
di desa ngadisari memang dibawah rata rata. Dengan cuaca tidak menentu dan
berkabut tebal tidak menjadikan masyarakat ngadisari menjadi malas bekerja dan
tidak melakukan aktifitas seperti berladang, beternak, berdagang, sekolah dan
lainnya. Kesehatan mereka tidak terganggu dengan adanya cuaca yang tidak
menentu. Fasilitas di desa ngadisari terdiri dari 1 puskesmas saja yang hanya
dikelola oleh seorang bidan dari daerah tumpang. Mereka mempercayakannya dengan
bidan tersebut, karena di desa ngadisari tidak ada obat obatan tradisional
ataupun tabib.
Susunan Pemerintahan desa Ngadas dipimpin oleh seorang Kepala
Desa dan pamong-pamong desa lainnya. Ada kepemimpinan tradisional tetapi Kepala
Desa tetap menjadi pimpinan utama. Pemimpin tradisinal hanya satu Pemangku adat
atau dukun adat, itupun hanya memimpin upacara-upacara adat saja untuk semua
warga Tengger dengan tidak memandang keyakinan masing-masing.
Secara tradisi, masyarakat Tengger di pimpin oleh seorang
dukun. Seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial
cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih
kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun
merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat
Tengger.
Sekian wawancara singkat saya bersama bapak kepala desa
Ngadisari, walaupun hanya singkat namun saya dapat sedikit mengeriti difat dan
kepribadian bapak Supoyo melalui
tanggapan tanggapan beliau terhadap pertanyaan yang saya ajukan. Beliau
memiliki sifat kepemimpinan yang baik, tegas, visioner, dan mempu merangkul
sekuruh masyarakatnya. Hal tersebut terbukti dari keberhasilan desa ngadisari
meraih prestasi dalam bidang gotong royong ditingkat nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar