Senin, 25 April 2016

LAPORAN WAWANCARA DENGAN KEPALA DESA NGADISARI, KOMPLEKS GUNING BROMO KECAMATAN SUKAPURA, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR


LAPORAN WAWANCARA DENGAN KEPALA DESA NGADISARI, KOMPLEKS GUNING BROMO
KECAMATAN SUKAPURA, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

Laporan ini disusun guna memenuhi tugas akhir mata kuliah
Kominikasi Interpersonal
Dosen pengampu: Raras Gistha Rosardi, M.Pd

UNY (1).JPG

Disusun oleh:
Hida Mujahida Basori
12416241060


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014


Beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari Kamis 29 Mei 2014 saya berkesempatan mewawancarai atau lebih tepatnya berbincang bincang langsung walaupun begitu singkat dengan seseorang yang menurut saya sangat hebat., yaitu bapak Supoyo. Beliau merupakan kepala desa Ngadisari. Secara geografis, Desa ngadisari berada di wilayah kompleks Gunung Bromo. Desa ngadisari merupakan bagian dari kecamatan Sukapura kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dimana desa tersebut berada tepat dengan berbatasan kawasan wisata Gunung Bromo. Penduduk setempat adalah suku Tengger. Luas daerah Tengger itu sendiri sekitar 40 km dari utara ke selatan dan 20-30 km dari timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000 m dpl – 3675 m dpl.
Jarak tempuh Desa Ngadisari dari Kota Probolinggo sekitar 40 km, sekitar 90 menit perjalanan. Keadaan wilayah desa ini bertopografi bukit, dengan jenis tanah berupa pasir.
Suku Tengger di Desa Ngadisari sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan sebagian kecil dari mereka hidup sebagai pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa. Bidang jasa yang mereka tekuni antara lain menyewakan kuda tunggang untuk wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, menjadi sopir jeep (biasanya miliknya sendiri), dan menyewakan kamar untuk para wisatawan. Hasil pertanian yang utama adalah sayuran.
Saya tertarik mengambil topik wawancara singkat saya bersama bapak kepala desa ngadisari ini mengenai keikutsertaan desa ngadisari dalam lomba desa gotong-royong tingkat nasional, mewakili provinsi jawa timur tahun 2013 lalu.
Menurut pernyataan beliau sebelum mengikuti lomba desa gotong royong tingkat nasional, desa ngadisari sebelumnya mampu menjadi juara pertama dalam lomba gotong royong terbaik tingkat provinsi. Yang menghantarkan desa ngadisari menjadi perwakilan provinsi jawa timur, diajang yang sama di tingkat nasional. Dan pada akhirnya prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh kabupaten probolinggo ditingkat nasional. Ia mengatakan bahwa nilai kepatuhan, keguyuban, serta kerukunan masyarakat tengger bisa menjadi contoh bagi masyarakat yang lain.
Dalam penilaian lomba tersebut ada 4 indikator utama yaitu bida ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan, serta bidang lingkungan hidup. Desa ngadisari memiliki nilai dalam bidang sosial budaya dan keagamaan yang dominan dibanding dengan daerah lain.
Ia berharap agar semagat botong royong warga ngadisari dapat ditularkan kepada masyarakat di daerah lain, dan semoga semangat gotong royong ini tidak luntur dalam kehidupan masyarakat, karena gotong royong adalah budaya asli masyarakat indonesia. Selain itu ia juga bersyukur atas diraihnya penghargaan tersebut. Menurutnya menghargaan tersebut  merupakan milik segenap warga desa ngadisari. Keberhasilan ini berkat rasa gotong royong warga yang memiliki kepedulian tinggi. Diharapkan kedepan dapat memacu masyarakat untuk lebih aktif dalam pembangunan.
Selain mengenai keikutsertaan desa ngadisari dalam perlombaan gotong royong tingkat nasional. Beliau juga menerangkan mengenai keadaan masyarakat di desa ngadisari ini, diantaranya mengenai pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan di desa ngadisari.
Masyarakat tengger pada umumnya memang berkehidupan modern dan kehidupan , namun dalam bidang pendidikan masih tergolong kurang memadahi. Hal ini terlihat dengan adanya bangunan sekolah yang masih kurang layak untuk menampung anak anak tengger. Sekolah di tengger hanya terdiri dari TK, SD, san SMP. Hal ini membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah setempat dan perlu tindakan serius dari ha tersebut.
Suhu dan keadaan cuaca di desa ngadisari memang dibawah rata rata. Dengan cuaca tidak menentu dan berkabut tebal tidak menjadikan masyarakat ngadisari menjadi malas bekerja dan tidak melakukan aktifitas seperti berladang, beternak, berdagang, sekolah dan lainnya. Kesehatan mereka tidak terganggu dengan adanya cuaca yang tidak menentu. Fasilitas di desa ngadisari terdiri dari 1 puskesmas saja yang hanya dikelola oleh seorang bidan dari daerah tumpang. Mereka mempercayakannya dengan bidan tersebut, karena di desa ngadisari tidak ada obat obatan tradisional ataupun tabib.
Susunan Pemerintahan desa Ngadas dipimpin oleh seorang Kepala Desa dan pamong-pamong desa lainnya. Ada kepemimpinan tradisional tetapi Kepala Desa tetap menjadi pimpinan utama. Pemimpin tradisinal hanya satu Pemangku adat atau dukun adat, itupun hanya memimpin upacara-upacara adat saja untuk semua warga Tengger dengan tidak memandang keyakinan masing-masing.
Secara tradisi, masyarakat Tengger di pimpin oleh seorang dukun. Seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Tengger.
Sekian wawancara singkat saya bersama bapak kepala desa Ngadisari, walaupun hanya singkat namun saya dapat sedikit mengeriti difat dan kepribadian bapak Supoyo melalui  tanggapan tanggapan beliau terhadap pertanyaan yang saya ajukan. Beliau memiliki sifat kepemimpinan yang baik, tegas, visioner, dan mempu merangkul sekuruh masyarakatnya. Hal tersebut terbukti dari keberhasilan desa ngadisari meraih prestasi dalam bidang gotong royong ditingkat nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar